Home - Internasional - 22 Remaja Kritis, Beberapa Lainnya Hilang: Malam Tahun Baru di Swiss Berakhir Duka

22 Remaja Kritis, Beberapa Lainnya Hilang: Malam Tahun Baru di Swiss Berakhir Duka

Beberapa remaja hilang dan puluhan kritis setelah kebakaran bar Le Constellation di Crans-Montana, Swiss pada malam Tahun Baru. Api diduga dipicu kembang api di botol sampanye, menewaskan 40 orang, 119 luka-luka.

Sabtu, 3 Januari 2026 - 13:14 WIB
22 Remaja Kritis, Beberapa Lainnya Hilang: Malam Tahun Baru di Swiss Berakhir Duka
Caption: Kiri-kanan: Charlotte Niddam, Emanuele Galeppini, Arthur Brodard dan Alice Kallergis. Keempat remaja yang sudah teridentifikasi ini dinyatakan hilang setelah tragedi kebakaran bar Le Constellation di Crans-Montana, Swiss pada malam Tahun Baru 2026. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM — Mereka datang untuk menari dan menyambut Tahun Baru 2026 di bawah langit bersalju Swiss. Namun pesta yang seharusnya penuh cahaya berubah menjadi tragedi yang menelan puluhan nyawa muda.

Hingga Sabtu (3/1/2026), sejumlah remaja masih dinyatakan hilang dan puluhan lainnya dalam kondisi kritis setelah kebakaran melanda bar Le Constellation di Crans-Montana, Swiss.

Sedikitnya 40 orang tewas dan 119 lainnya luka-luka, sebagian besar anak muda yang tengah berlibur di resor ski terkenal itu.

Remaja yang Hilang

Nama-nama mereka kini tersebar di media sosial dan daftar polisi: Charlotte Niddam, mantan siswi Immanuel College di Inggris; Arthur Brodard (16), remaja asal Lausanne; Alice Kallergis (15) dari Yunani; serta Emilie Pralong, remaja Swiss yang hilang sejak malam kebakaran.

“Kami pikir dia masih hidup,” ujar Christophe Brodard, ayah Arthur, lirih. “Mereka memesan sebotol sampanye dengan kembang api. Satu atau dua menit kemudian, semuanya jadi kiamat.”

Keluarga Brodard masih bertahan di Crans-Montana, menunggu kabar dari tim penyelamat yang terus menyisir reruntuhan bar di ruang bawah tanah.

22 Remaja Masih Kritis

Menurut Komandan Polisi Valais, Frederic Gisler, sebanyak 22 pasien muda masih dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Universitas Lausanne. Luka bakar parah di tubuh para korban membuat proses identifikasi harus dilakukan lewat tes DNA, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Korban luka-luka berasal dari berbagai negara: 71 warga Swiss, 14 warga Prancis, 11 warga Italia, serta beberapa warga Serbia, Bosnia-Herzegovina, Luksemburg, Belgia, Portugal, dan Polandia. Kewarganegaraan 14 korban lainnya masih belum teridentifikasi.

Korban Teridentifikasi

Korban pertama yang dikonfirmasi meninggal adalah Emanuele Galeppini (17), pemain golf muda asal Italia. Federasi Golf Italia menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergiannya.

Sementara itu, keluarga Charlotte, Arthur, Alice, dan Emilie masih berharap di tengah dinginnya udara Alpen. Di depan puing-puing bar yang hangus, lilin dan bunga mulai bermunculan.

“Harapan semakin kecil, tapi kami tak bisa berhenti menunggu,” tulis seorang kerabat Emilie di Facebook.

Kembang Api Diduga Jadi Pemicu

Jaksa Agung Valais Beatrice Pilloud mengonfirmasi bahwa api diduga bermula dari lilin kembang api (flare) yang dipasang di atas botol sampanye.

Video yang beredar menunjukkan percikan api membakar langit-langit bar beberapa detik sebelum ruangan penuh asap dan api.

“Masih terlalu dini untuk menyimpulkan, tetapi tampaknya api bermula dari flare di botol sampanye,” kata Pilloud.

Seorang mantan petugas pemadam kebakaran, Steve Dudney, yang meninjau foto-foto kejadian, menduga langit-langit bar dilapisi busa poliuretan yang sangat mudah terbakar, bahan yang sama digunakan pada tragedi Menara Grenfell di London.

Penyelidikan

Pemilik bar, pasangan asal Prancis Jacques dan Jessica Moretti, telah diperiksa oleh jaksa sebagai pihak yang “dimintai keterangan”, bukan tersangka. Penyelidikan kini difokuskan pada pengaturan keselamatan, bahan bangunan, serta letak pintu darurat.

Bar Le Constellation diketahui memiliki lebih dari satu pintu keluar, namun banyak korban gagal menemukannya di tengah asap tebal dan kepanikan.

“Kami harus memastikan apakah ada unsur kelalaian dalam pengelolaan tempat hiburan tersebut,” ujar Jaksa Pilloud.

Crans-Montana kini sunyi. Di luar bangunan yang hangus, bunga, foto, dan pesan belasungkawa memenuhi trotoar bersalju. Para keluarga menunggu, beberapa masih berharap, sebagian sudah pasrah. Tahun Baru yang seharusnya dirayakan dengan tawa kini hanya menyisakan tangis dan keheningan.

Bagi anak-anak muda yang tak sempat pulang, dan bagi mereka yang masih berjuang di rumah sakit, malam pergantian tahun di Swiss telah berubah menjadi luka yang panjang. (ren)