Home - Nasional - Super Flu Bikin Resah Masyarakat, Ini Fakta Sebenarnya Soal Kasus H3N2 di Indonesia

Super Flu Bikin Resah Masyarakat, Ini Fakta Sebenarnya Soal Kasus H3N2 di Indonesia

Super Flu atau Influenza A H3N2 subclade K ramai dibicarakan publik. Kemenkes mencatat 62 kasus dan tegaskan tren nasional justru menurun.

Sabtu, 3 Januari 2026 - 8:32 WIB
Super Flu Bikin Resah Masyarakat, Ini Fakta Sebenarnya Soal Kasus H3N2 di Indonesia
Ilustrasi penderita flu (Dok Freepik)

HALLONEWS.COM – Istilah “Super Flu” belakangan ramai diperbincangkan di tengah masyarakat Indonesia.

Penyebutan ini memicu kekhawatiran publik karena virus yang dimaksud dikatakan memiliki daya tular lebih cepat dibandingkan flu biasa, serta menimbulkan gejala yang terasa lebih berat pada sebagian pasien.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena memori kolektif masyarakat terhadap pandemi Covid-19 masih membekas. Apalagi, memasuki Januari 2026, pemerintah mengonfirmasi adanya puluhan kasus Super Flu yang terdeteksi di sejumlah provinsi.

Berdasarkan karakteristik pasien, mayoritas kasus Super Flu dilaporkan terjadi pada kelompok usia anak, serta lebih banyak dialami oleh perempuan.

Meski demikian, sebagian besar pasien hanya mengalami gejala ringan hingga sedang, tanpa peningkatan tingkat keparahan dibandingkan influenza musiman lainnya.

Gejala yang paling sering dilaporkan meliputi demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan, hingga rasa lelah berlebihan.

Apa Itu Super Flu?
Super Flu sebenarnya bukan istilah medis resmi. Penyebutan ini merujuk pada Influenza A (H3N2) subclade K, yaitu bagian dari virus influenza yang telah lama dikenal dan terus mengalami mutasi alami.

Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium berbasis whole genome sequencing (WGS) dalam sistem surveilans sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Pelaksana Tugas Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine dalam keterangannya, menyampaikan bahwa puluhan kasus tersebut merupakan hasil pemeriksaan per 25 Desember 2025 dan kini menunjukkan tren penurunan.

“Pada surveilans SARI, kondisi terpantau stabil dan tidak menunjukkan indikasi peningkatan kasus,” ujar dr. Prima.

Ia menegaskan, peredaran subclade K tidak memengaruhi kondisi epidemi influenza nasional dan tidak menyebabkan peningkatan tingkat keparahan penyakit.

Kementerian Kesehatan memastikan seluruh varian influenza yang terdeteksi di Indonesia merupakan varian yang saat ini beredar secara global dan berada dalam pemantauan World Health Organization (WHO).

Pemerintah juga terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan layanan kesehatan, terutama menghadapi musim hujan dan tingginya mobilitas masyarakat.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan. Ia menegaskan bahwa berdasarkan data Kemenkes, varian H3N2 subclade K tidak terbukti lebih berbahaya dibandingkan influenza biasa.

Meski situasi terkendali, Kemenkes tetap mengimbau agar masyarakat tetap waspada tanpa panik dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok rentan.

Masyarakat juga disarankan beristirahat di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, dan segera mengakses layanan kesehatan apabila kondisi tidak membaik dalam tiga hari. (wib)