Home - Internasional - Kembang Api di Botol Sampanye Picu Tragedi Maut di Swiss

Kembang Api di Botol Sampanye Picu Tragedi Maut di Swiss

Kembang api di botol sampanye picu kebakaran bar Le Constellation, Swiss. 40 tewas, 119 luka. Polisi selidiki kelalaian dan izin keselamatan.

Jumat, 2 Januari 2026 - 23:24 WIB
Kembang Api di Botol Sampanye Picu Tragedi Maut di Swiss
Para pejabat Swiss menggelar konferensi pers di Kota Sion, sekitar 40 menit dari Crans-Montana, untuk memberikan pembaruan penyelidikan kebakaran bar Le Constellation, Jumat (2/1/2026). Hadir dalam konferensi tersebut Jaksa Agung Valais Beatrice Pilloud, Kepala Pemerintahan Lokal Valais Mathias Reynard, Direktur Jenderal Rumah Sakit Regional Eric Bonvin, Kepala Kepolisian Valais Canton Frederic Gisler, Kepala Keamanan Valais Stephane Ganzer, Kepala Kepolisian Kriminal Pierre Antoine Lengen, dan Direktur Organisasi Penyelamatan Cantonal Valais Freddy-Michel Roten. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM —Suasana Tahun Baru di bar Le Constellation, Crans-Montana, Swiss, berubah menjadi neraka dalam hitungan detik. Musik, tawa, dan cahaya pesta berganti menjadi teriakan panik ketika kembang api di atas botol sampanye menjelma menjadi kobaran api besar yang melalap ruang bawah tanah tempat ratusan orang berpesta.

Hingga Jumat (2/1/2026), 40 orang dinyatakan tewas dan 119 lainnya luka-luka, banyak di antaranya dalam kondisi kritis. Bagi Swiss, negara yang dikenal dengan ketertiban dan standar keselamatannya yang tinggi, tragedi ini menjadi tamparan pahit di awal tahun.

Dalam konferensi pers di kota Sion, Jaksa Agung Valais Beatrice Pilloud menjelaskan hasil penyelidikan awal: “Api tampaknya bermula dari lilin kembang api kecil yang diletakkan di atas botol sampanye. Karena terlalu dekat dengan langit-langit, percikan kecil berubah menjadi kobaran besar yang menyebar sangat cepat,” ujarnya.

Kembang api tersebut, lanjut Pilloud, bukan perangkat piroteknik profesional, melainkan lilin pesta yang dijual bebas di toko umum. Dalam ruangan tertutup dengan langit-langit rendah dan dekorasi busa, percikan kecil itu berubah menjadi ledakan panas yang mematikan.

Dua pemilik bar, pasangan asal Prancis Jacques dan Jessica Moretti, telah diperiksa sebagai saksi. Polisi juga tengah meneliti struktur langit-langit dan ventilasi yang diduga mempercepat penyebaran api.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari. Le Constellation, yang berkapasitas sekitar 300 orang, tengah dipenuhi pengunjung yang merayakan pergantian tahun.

Menurut kesaksian Christophe Brodard, ayah remaja yang masih hilang, api muncul hanya beberapa menit setelah pelayan membawa sampanye dengan kembang api menyala di atasnya.

“Satu atau dua menit kemudian, terjadilah kiamat,” katanya.

Asap tebal segera memenuhi ruangan. Dalam kepanikan, sebagian besar pengunjung berlari ke pintu masuk utama, tak menyadari bahwa pintu darurat berada di sisi lain ruangan.

“Sebagian besar orang tidak menemukan jalan ke pintu keluar darurat,” ujar Stephane Ganzer, Kepala Keamanan Valais.

Beberapa pengunjung berhasil menyelamatkan diri dengan memecahkan jendela menggunakan meja dan kaki mereka. “Saya tidak bisa melihat apa pun. Saya hampir tersedak. Tapi saya tahu satu hal — saya harus keluar,” kata Axel, salah satu korban selamat.

Korban dan Kondisi Medis

Mathias Reynard, Kepala Pemerintahan Lokal Valais, menyebut tragedi ini sebagai “malapetaka bagi Swiss dan seluruh Eropa.”

“Angka-angka ini sangat mengkhawatirkan. Ini tragedi yang menyentuh hati setiap keluarga,” ujarnya.

Dari 119 korban luka-luka, sebanyak 55 orang dirawat di Rumah Sakit Sion, dengan 11 pasien masih dirawat, termasuk empat dalam kondisi kritis dan mengancam jiwa. Sebanyak 50 korban luka bakar parah telah dipindahkan ke luar negeri untuk perawatan intensif di Prancis, Italia, Jerman, dan Polandia.

Direktur Rumah Sakit Valais, Eric Bonvin, mengatakan enam pasien masih berjuang untuk hidup. “Kami melakukan yang terbaik untuk menstabilkan mereka. Beberapa mengalami luka bakar ekstrem,” ujarnya.

Di antara korban muda yang selamat adalah Manfredi Marcucci, 16 tahun, yang dirawat di Milan dengan luka bakar 30–40 persen tubuhnya. Ayahnya, Umberto Marcucci, menahan haru di depan rumah sakit. “Yang terpenting, anak saya masih hidup,” katanya pelan.

Korban meninggal pertama yang diidentifikasi adalah Emanuele Galeppini, 16 tahun, pegolf muda asal Italia yang disebut federasi golf negaranya sebagai “sosok penuh semangat dan sportivitas sejati.”

Identifikasi Korban

Proses identifikasi korban masih berlangsung dengan pemeriksaan sidik jari, DNA, pakaian, dan barang pribadi. Kepala Kepolisian Valais Frederic Gisler mengatakan 113 dari 119 korban luka telah diidentifikasi.

Kewarganegaraan korban yang sudah diketahui meliputi 71 warga Swiss, 14 warga Prancis, 11 warga Italia, 4 warga Serbia, serta masing-masing satu warga Bosnia, Belgia, dan Portugal.

Polisi Swiss kini bekerja sama dengan sembilan negara, termasuk Prancis, Belgia, Polandia, Serbia, Portugal, Turki, Kongo, Rumania, dan Filipina, untuk membantu identifikasi korban tewas.

“Nasib sekitar 150 orang berubah menjadi mimpi buruk malam itu. Tugas kami sekarang adalah memastikan setiap nama mendapat kepastian,” ujar Gisler.

Jaksa Agung Pilloud memastikan bahwa penyelidikan pidana sedang berlangsung. “Kami akan menyelidiki apakah ada individu yang bertanggung jawab secara hukum atas insiden ini. Jika terbukti, kasus ini akan dikategorikan sebagai pembunuhan dan cedera karena kelalaian,” katanya.

Selain faktor piroteknik, penyidik juga memeriksa kemungkinan bahan busa di langit-langit yang tidak sesuai standar tahan api dan pengaturan jalur evakuasi yang membingungkan pengunjung.

Gelombang Dukungan dan Kritik

Tragedi ini memunculkan gelombang simpati dari seluruh dunia. Paus Leo XIV melalui Kardinal Pietro Parolin menyampaikan doa dan belasungkawa bagi keluarga korban.

“Semoga Tuhan menerima mereka yang meninggal dalam terang dan kedamaian,” tulis Parolin.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani, yang meninjau lokasi kebakaran, menyebut penggunaan kembang api di ruangan tertutup sebagai “tindakan yang tidak bertanggung jawab.”

“Situasi keselamatan di bar ini mengerikan. Ada yang tidak berfungsi di sini,” ujarnya.

Sementara itu, Polandia menawarkan perawatan untuk 14 korban luka di rumah sakit luka bakar Siemianowice Slaskie, lengkap dengan tim medis dan pesawat evakuasi.

Tragedi Le Constellation memperlihatkan rapuhnya keselamatan publik ketika euforia hiburan menyingkirkan kehati-hatian. Kembang api yang semestinya menjadi simbol perayaan justru menjadi pemantik kematian.

Pakar keselamatan publik Swiss Hans Grütter menegaskan, “Kembang api di ruang tertutup adalah resep bencana. Tidak ada ruang yang aman dari percikan api di tempat seramai itu.”

Kementerian Dalam Negeri Swiss berjanji akan melakukan audit nasional terhadap izin operasional tempat hiburan, terutama yang menggunakan efek piroteknik di dalam ruangan.

Lilin-Lilin di Tengah Salju

Beberapa hari setelah kebakaran, salju di Crans-Montana berubah kelabu oleh asap dan bunga duka.Warga dan wisatawan menyalakan lilin di depan reruntuhan Le Constellation, mengingat mereka yang tak sempat keluar malam itu.

Bagi banyak keluarga, malam Tahun Baru 2026 bukan lagi pesta, melainkan hari kehilangan dan pengingat bahwa satu percikan kecil bisa mengubah hidup selamanya.

“Kami datang untuk merayakan hidup,” kata seorang remaja yang selamat. “Tapi malam itu, kami hanya belajar betapa cepatnya hidup bisa hilang.” (ren)