Home - Internasional - Zelenskyy Siapkan Diplomasi Awal Tahun: Ukraina Bidik Terobosan Damai dan Dukungan Baru

Zelenskyy Siapkan Diplomasi Awal Tahun: Ukraina Bidik Terobosan Damai dan Dukungan Baru

Zelenskyy buka tahun 2026 dengan diplomasi intensif. Ukraina siapkan pertemuan internasional untuk mendorong perdamaian dan jaminan keamanan pascaperang.

Jumat, 2 Januari 2026 - 19:03 WIB
Zelenskyy Siapkan Diplomasi Awal Tahun: Ukraina Bidik Terobosan Damai dan Dukungan Baru
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Kyiv, Kamis (1/1/2026), mengumumkan rangkaian pertemuan tingkat tinggi pada awal Januari untuk membahas strategi perdamaian dan jaminan keamanan Ukraina. Foto: Dokumen President of Ukraine for Hallonews

HALLONEWS.COM —Di tengah dentuman perang yang belum juga mereda, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membuka tahun 2026 dengan langkah diplomasi yang padat dan terukur. Serangkaian pertemuan tingkat tinggi dijadwalkan berlangsung dalam sepekan pertama Januari, sebuah upaya yang disebutnya sebagai “awal baru untuk perdamaian dan keamanan Ukraina.”

Pengumuman ini disampaikan Zelenskyy pada Kamis (1/1/2026) malam melalui akun resminya di X (Twitter), hanya beberapa hari setelah Rusia melancarkan lebih dari 200 serangan drone ke sejumlah wilayah Ukraina menjelang Tahun Baru. Serangan itu, kata Zelenskyy, merupakan upaya Kremlin untuk “membawa perang ke tahun baru” dan menghantam infrastruktur sipil serta energi.

Namun, alih-alih melemah, Kyiv justru menanggapinya dengan agenda diplomasi intensif yang menandai fase baru perjuangan Ukraina, dari medan tempur ke meja perundingan.

Rangkaian agenda perdamaian yang diumumkan Zelenskyy dimulai pada Sabtu, 3 Januari, ketika penasihat keamanan nasional dan anggota kabinet Ukraina akan menggelar pertemuan pertama di Kyiv.

“Ini adalah pertemuan pertama semacam itu di Ukraina, dan fokusnya adalah perdamaian,” tulis Zelenskyy seperti dilansir Euronews, Jumat (2/1/2026).

Pertemuan ini akan dihadiri oleh perwakilan Eropa, sementara tim Amerika Serikat dijadwalkan bergabung secara daring. Sejauh ini, 15 negara telah mengonfirmasi partisipasi, termasuk lembaga-lembaga Eropa dan NATO.

Dua hari kemudian, pada 5 Januari, Kyiv akan menggelar rapat para kepala staf militer untuk membahas jaminan keamanan pascakonflik. Zelenskyy menyebut bahwa sebagian besar kerangka politik sudah disiapkan, dan kini pembahasan difokuskan pada rincian teknis jaminan keamanan di darat, laut, dan udara.

“Ini penting untuk memastikan bahwa ketika perang berakhir, Ukraina tetap aman,” tegasnya.

Sementara itu, pertemuan tingkat pemimpin Koalisi Sukarelawan dijadwalkan berlangsung di Prancis pada 6 Januari. Pertemuan ini akan mempertemukan para pemimpin Eropa dan sekutu Ukraina untuk memperkuat dukungan militer, logistik, dan politik, sekaligus membahas format baru proses perdamaian.

“Kami ingin memastikan dukungan meningkat dan kepercayaan terhadap perjanjian perdamaian semakin besar,” ujar Zelenskyy.

Rangkaian pertemuan ini memperlihatkan bahwa Kyiv tengah menggeser fokus dari pertahanan militer menuju diplomasi strategis. Setelah hampir empat tahun perang, Ukraina tampaknya berupaya membangun landasan politik dan keamanan yang bisa menopang perundingan damai tanpa kehilangan posisi tawar.

Pengamat hubungan internasional menilai langkah Zelenskyy ini sebagai “manuver diplomatik yang realistis” di tengah tekanan besar dari dalam dan luar negeri.

“Ukraina tahu bahwa perang berkepanjangan menguras sumber daya. Diplomasi kini menjadi senjata lain untuk bertahan,” kata analis Eropa Timur, Mykhailo Kravchenko.

Dengan semakin aktifnya peran negara-negara Eropa dan NATO dalam pertemuan awal tahun ini, sinyalnya jelas: perdamaian yang ingin dibangun Kyiv bukan sekadar gencatan senjata, melainkan sistem keamanan baru yang menjamin kedaulatan jangka panjang.

Meski diplomasi bergerak, realitas di lapangan tetap keras. Rusia terus menggempur infrastruktur Ukraina, khususnya di Donbas, Kharkiv, Odesa, dan Kherson. Serangan drone yang bertubi-tubi pada akhir Desember menunjukkan bahwa Moskow belum memberi ruang bagi kompromi.

Dalam situasi seperti itu, diplomasi Zelenskyy berada di posisi sulit: ia harus menunjukkan bahwa Ukraina masih kuat bertahan di medan perang, sekaligus siap berdialog tanpa dianggap menyerah.

Bagi sebagian warga Ukraina yang telah kehilangan rumah dan keluarga, “perdamaian” terdengar seperti harapan yang jauh. Namun, bagi Zelenskyy, membuka kanal diplomasi justru menjadi cara untuk memaksa dunia tetap peduli.

Pertemuan di Paris nanti akan menjadi penanda seberapa jauh Eropa dan sekutu Barat siap melangkah untuk memastikan keamanan Ukraina pascaperang. Koalisi Sukarelawan, yang beranggotakan sejumlah negara Eropa, kini memainkan peran penting, baik dalam penyaluran senjata maupun rencana rekonstruksi pascaperang.

Jika hasil pertemuan awal Januari berjalan sesuai harapan, Ukraina berpotensi melangkah ke fase diplomasi multilateral yang lebih stabil di pertengahan 2026. Namun, jika tidak, Kyiv akan menghadapi risiko kelelahan diplomasi dan militer secara bersamaan.

Tiga tahun perang telah mengubah wajah Ukraina, dari medan tempur yang hancur menjadi simbol ketahanan dan perjuangan. Kini, Zelenskyy mencoba menulis bab baru: perang yang mungkin berakhir melalui diplomasi.

Langkah-langkah awal Januari ini mungkin belum membawa perdamaian, tapi setidaknya memberi arah baru bagi dunia untuk melihat bahwa Ukraina tidak hanya bertahan, tapi juga berusaha memulihkan martabat dan masa depannya. (ren)