Meski APBN Diprediksi Defisit, Menkeu Purbaya Optimisme Pertumbuham Pasar Saham 2026 akan Positif
Meski APBN diprediksi defisit, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan pasar saham Indonesia pada 2026 tetap positif. Disiplin fiskal dan pemulihan ekonomi diyakini menopang IHSG.

HALLONEWS.COM – Pemerintah memastikan stabilitas fiskal Indonesia tetap terjaga memasuki 2026, meski defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi melebar akibat perlambatan ekonomi sepanjang 2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit tidak akan melanggar ketentuan undang-undang dan justru menjadi bagian dari strategi pemulihan ekonomi nasional.
“Mungkin (defisit) akan bergerak sedikit ke atas. Tapi yang jelas, kami amankan tidak melanggar undang-undang,” ujar Purbaya usai Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Pemerintah sebelumnya merevisi proyeksi defisit APBN 2025 dari target awal 2,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) jadi 2,78 persen PDB.
Koreksi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perlambatan ekonomi global dan domestik yang berdampak pada penerimaan negara.
Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa defisit fiskal tetap berada dalam batas aman sesuai amanat Undang-Undang Keuangan Negara, yakni maksimal 3 persen dari PDB.
Ia juga memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk mendorong pemulihan ekonomi secara bertahap.
“Yang penting ekonomi makin bergerak, keuntungan perusahaan juga makin baik. Otomatis nanti akan diterjemahkan kepada harga saham yang lebih tinggi,” kata Purbaya, memberikan sinyal optimisme pada pelaku pasar modal.
Data terbaru Kementerian Keuangan menunjukkan, hingga 30 November 2025, defisit APBN tercatat sebesar 2,35 persen terhadap PDB atau setara Rp560,3 triliun.
Pendapatan negara terealisasi Rp2.351,5 triliun atau 82,1 persen dari outlook APBN 2025 sebesar Rp2.865,5 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.911,8 triliun atau 82,5 persen dari proyeksi Rp3.527,5 triliun.
Meski penerimaan negara diperkirakan mengalami shortfall dari target awal, pemerintah tetap berkomitmen menjaga keseimbangan fiskal.
Purbaya menegaskan kebijakan belanja negara akan tetap diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat sektor-sektor produktif.
Dari perspektif pasar, sinyal disiplin fiskal ini dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Stabilitas APBN yang terjaga, di tengah upaya mendorong pertumbuhan, berpotensi memberikan sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), khususnya pada sektor perbankan, konsumsi, dan infrastruktur.
Dengan kombinasi pengendalian defisit dan dorongan pemulihan ekonomi, pemerintah optimistis fondasi pertumbuhan 2026 akan semakin solid.
Strategi ini diharapkan tidak hanya menjaga kesehatan fiskal negara, tetapi juga menciptakan iklim investasi yang kondusif di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.(wib)
