Home - Nusantara - Vakum Selama 56 Tahun, Bandara KM 9 Kefamenanu Akan Dihidupkan Kembali Oleh Bupati TTU

Vakum Selama 56 Tahun, Bandara KM 9 Kefamenanu Akan Dihidupkan Kembali Oleh Bupati TTU

Pemkab TTU rencanakan reaktivasi Bandara Kefamenanu 2026 guna tingkatkan konektivitas, ekonomi perbatasan, PAD melalui penerbangan perintis harian dengan dukungan investor

Jumat, 2 Januari 2026 - 9:30 WIB
Vakum Selama 56 Tahun, Bandara KM 9 Kefamenanu Akan Dihidupkan Kembali Oleh Bupati TTU
Ket foto, Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yoseph Falentinus Delasalle Kebo, sidak bandara KM 9 yang mau dihidupkan kembali. (Humas Pemkab TTU)

HALLONEWS.COM – Bandar udara (Bandara) di Kilometer 9 Kota Kefamenanu, NTT kembali akan dihidupkan demi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yoseph Falentinus Delasalle Kebo, telah melakukan survei lokasi pembukaan kembali bandara yang telah vakum sejak tahun 1970 ini.

Menurut Yoseph, hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mempercepat konektivitas transportasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah perbatasan.

Kepada wartawan di akhir tahun 2025, Bernas, Yoseph mengatakan, saat ini telah ada beberapa investor yang menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten TTU untuk membuka kembali penerbangan komersial perintis.

Pembukaan kembali penerbangan yang sudah off selama 56 tahun ini, direncanakan menggunakan landasan pacu pendek sepanjang kurang lebih 700 meter, seperti model penerbangan perintis yang selama ini diterapkan di Papua.

“Konsepnya adalah penerbangan perintis dengan landasan pendek. Kita bersyukur karena TTU memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai bandara,” ujarnya.

Menurut Bupati, selama ini masyarakat TTU mengalami keterbatasan akses transportasi udara, karena harus bergantung pada bandara di kabupaten tetangga yang frekuensi penerbangannya hanya sekitar tiga kali dalam seminggu.

Kondisi tersebut dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.

Maka itu, dirinya berharap, melalui kerja sama dengan maskapai penerbangan perintis, bandara di Kefamenanu bisa beroperasi setiap hari.

Mobilitasi masyarakat dengan alternatif transportasi udara langsung dari TTU tanpa harus keluar daerah, akan meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Jika penerbangan ini berjalan, masyarakat tentu akan lebih diuntungkan karena dapat memilih berangkat langsung dari TTU. Ekonomi rakyat meningkat, PAD bertambah,” jelasnya.

TTU adalah salah satu kabupaten di NTT yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Timur Leste.

TTU juga dinilai memiliki potensi lalu lintas udara yang cukup tinggi, khususnya untuk rute Kefamenanu–Kupang.

Selain itu, sejumlah isu nasional yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti pengembangan sektor garam, serta sumber daya alam berupa tambang yang direncanakan akan dikerjakan di wilayah TTU.

Orang nomor satu di pemerintahan kabupaten TTU ini mengungkapkan, tambang mangan dalam waktu dekat akan kembali diaktifkan, sementara tambang emas saat ini masih dalam tahap pengurusan perizinan.

Kondisi ini diproyeksikan akan mendorong TTU menjadi sentra ekonomi yang berkembang pesat ke depan.

“Kita harus menangkap peluang ini dengan menghadirkan solusi jarak tempuh yang lebih singkat menuju Kefamenanu. Karena itu, kita mengajak pelaku penerbangan untuk masuk ke TTU, dan kita harapkan pada bulan Maret sudah dapat beroperasi,” katanya.

Pada tahap awal, Pemerintah Kabupaten TTU akan melakukan pemagaran kawasan bandara, pembersihan lokasi, serta pembangunan landasan pacu pendek sepanjang 700 hingga 800 meter agar penerbangan perdana dapat dilakukan sesuai target.

“Landasan pacu bisa dikembangkan hingga lebih dari 2.000 meter. Spesifikasi ke depan bahkan bisa lebih panjang dari Bandara Atambua. Jika dimanfaatkan secara optimal, bukan tidak mungkin pesawat sekelas Boeing 737 dapat mendarat di TTU,” ungkap Bupati.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan menyiapkan fasilitas pendukung berupa tempat transit bagi penumpang.

Bandara yang berlokasi di kawasan Kilometer 9 tersebut diharapkan dapat menjadi pemicu lahirnya pusat ekonomi baru serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pemerintah daerah juga memastikan akan memberikan subsidi untuk mendukung operasional penerbangan perintis pada tahap awal.

Jenis pesawat yang direncanakan melayani penerbangan ke TTU adalah pesawat baling-baling seperti Twin Otter, Fokker atau jenis sejenis yang selama ini digunakan untuk penerbangan perintis di wilayah Papua.

Bandara di TTU sendiri diketahui pertama kali digunakan pada tahun 1970 dan direncanakan akan kembali diaktifkan pada tahun 2026. (yopy)