Ketika Tawa Tahun Baru di Swiss Tergantikan Jeritan Minta Tolong
Kebakaran di bar Le Constellation, Crans-Montana, Swiss, menewaskan 40 orang dan melukai 115 lainnya saat pesta Tahun Baru 2026. Kisah pilu para korban dan duka Kota Alpen.

HALLONEWS.COM — Di tengah dinginnya salju Alpen, lampu warna-warni dan denting gelas sampanye menerangi malam Tahun Baru di Crans-Montana, Swiss. Musik bergema dari bar Le Constellation, tempat ratusan orang merayakan pergantian tahun dengan tawa dan tarian.
Namun dalam hitungan detik, pesta berubah menjadi kepanikan. Asap hitam menelan langit-langit ruangan, jeritan minta tolong menggantikan alunan musik, dan cahaya lampu berganti dengan kobaran api.
Sedikitnya 40 orang tewas dan 115 lainnya terluka ketika kebakaran melanda bar bawah tanah itu pada Kamis dini hari (1/1/2026). Perayaan Tahun Baru yang seharusnya membawa harapan, justru meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi Swiss, tetapi bagi dunia yang menyaksikannya.
Sekitar pukul 01.30 dini hari waktu Swiss (CET), pesta di Le Constellation mencapai puncaknya. Lebih dari seratus orang, sebagian besar anak muda berusia 16 hingga 25 tahun, memenuhi ruang bawah tanah berkapasitas 400 orang itu.
Di tengah musik yang berdentum, seseorang melihat asap tipis di langit-langit. “Awalnya kami pikir efek asap panggung,” kata Luca Moretti, 23 tahun, mahasiswa asal Milan yang selamat dari kebakaran itu.
“Dalam dua menit, kami tidak bisa bernapas. Orang-orang mulai berlari, berteriak, dan saling dorong.”
Luca kehilangan dua temannya malam itu. “Kami datang untuk tertawa dan menari, tapi yang tersisa hanya abu dan tangisan,” ujarnya di ruang perawatan Rumah Sakit Universitas Lausanne, dengan perban menutupi lengan.
Kronologi Kebakaran
Komandan Polisi Kanton Valais, Frederic Gisler, mengatakan asap terlihat pada pukul 01.30 waktu setempat, dan dalam dua menit, petugas pertama tiba di lokasi. “Mereka langsung mengevakuasi korban dan memadamkan api, tapi kondisi di dalam bar sangat parah,” ujarnya.
Tangga yang sempit dan ruangan tertutup membuat banyak pengunjung terjebak di dalam.
“Sekitar 40 orang meninggal dunia dan 115 terluka, banyak di antaranya luka bakar berat,” jelas Gisler dalam konferensi pers.
Beberapa korban berhasil menyelamatkan diri dengan memecahkan jendela kaca bar. “Saya bersembunyi di balik meja karena api di depan saya. Lalu saya hancurkan kaca dan lompat keluar,” kata seorang saksi kepada AFP. “Separuh pakaian saya hangus, tapi saya masih hidup.”
Rumah Sakit Penuh, Korban Dievakuasi ke Negara Tetangga
Kebakaran di Crans-Montana mengguncang seluruh sistem medis di Swiss barat. Rumah sakit di wilayah Valais dinyatakan dalam keadaan darurat.
Menurut Claire Charmet, Direktur Rumah Sakit Universitas Lausanne (CHUV), sebagian besar korban mengalami luka bakar lebih dari 20 persen tubuh.
“Banyak korban masih muda, penuh luka, tapi juga penuh ketakutan,” katanya.
Sebagian dari mereka diterbangkan ke Prancis dan Italia, setelah kedua negara tetangga menawarkan bantuan medis.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan solidaritas, mengatakan bahwa rumah sakit Prancis siap menerima korban luka.
“Jumlah korban sangat menghancurkan. Doa kami bersama keluarga yang berduka,” tulis Macron di X.
Sementara Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, terbang langsung ke lokasi tragedi. Ia menyebut 16 warga Italia masih hilang dan 12 lainnya dirawat di rumah sakit Swiss.
Penyebab Kebakaran Masih Misterius
Jaksa Agung Kanton Valais, Beatrice Pilloud, memastikan bahwa kebakaran tidak terkait dengan aksi terorisme.
“Kami menyelidiki kemungkinan adanya lilin atau kembang api di dalam ruangan yang menyambar langit-langit kayu,” ujarnya.
Menurut Pilloud, ledakan yang terdengar bukan berasal dari bom, melainkan akibat gas mudah terbakar yang tersulut oleh api.
Tim forensik dari Zurich kini memeriksa rekaman CCTV dan sisa material bangunan. Hasil awal menunjukkan kebakaran berawal dari bagian bar tempat konser musik berlangsung.
Crans-Montana biasanya menjadi tempat penuh sukacita. Terletak di ketinggian Alpen, kota kecil berpenduduk 15.000 orang itu dikenal sebagai surga ski internasional dan tuan rumah berbagai ajang dunia.
Namun, sejak pagi keesokan harinya, musik berhenti, dan seluruh kota tenggelam dalam diam.
Warga, turis, dan keluarga korban berkumpul di depan reruntuhan Le Constellation. Mereka menyalakan lilin dan meletakkan bunga.
“Kami datang ke sini untuk merayakan hidup, tapi malah melihat kematian,” ujar Robert Stewart, juru bicara pariwisata Crans-Montana. “Butuh waktu lama bagi kami untuk memulihkan diri.”
Presiden Swiss Guy Parmelin, yang baru saja dilantik, menunda pidato Tahun Baru dan menyebut tragedi ini sebagai “salah satu yang terburuk dalam sejarah Swiss modern.”
“Apa yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi hari berkabung nasional,” katanya, seraya mengumumkan lima hari bendera setengah tiang di seluruh negeri.
Beberapa jam setelah api padam, udara dingin Crans-Montana masih dipenuhi bau asap. Di antara reruntuhan, relawan pemadam kebakaran menemukan jam tangan yang berhenti di pukul 01.32, waktu ketika api pertama kali melahap bar.
“Jam itu seperti saksi bisu,” kata seorang petugas. “Detik ketika tawa berubah menjadi jerit.”
Di ruang duka, para keluarga saling berpelukan dalam keheningan. Seorang ibu asal Prancis, dengan suara parau, berkata kepada media lokal: “Anak saya hanya ingin berpesta Tahun Baru. Dia tidak pernah kembali.”
Malam Tahun Baru 2026 seharusnya menjadi momen harapan dan kebahagiaan. Namun di Crans-Montana, malam itu menjadi pengingat betapa rapuhnya hidup.
Di bawah salju yang mulai turun kembali, masyarakat menyalakan lilin, berdoa, dan berjanji untuk mengenang mereka yang pergi terlalu cepat.
“Tahun baru seharusnya dimulai dengan cahaya,” kata Frederic Gisler, komandan polisi yang memimpin penyelamatan. “Tapi di sini, cahaya itu datang dari api, dan dari hati mereka yang kini kami rindukan,” tuturnya lirih. (ren)
