Home - Nusantara - KM Putri Sakinah Tenggelam di Selat Padar, Deretan Kecelakaan Kapal Wisata Labuan Bajo Kembali Disorot

KM Putri Sakinah Tenggelam di Selat Padar, Deretan Kecelakaan Kapal Wisata Labuan Bajo Kembali Disorot

Kecelakaan kapal wisata KM Putri Sakinah di Selat Padar memicu penyidikan polisi dan mengungkap kembali rentetan insiden kapal wisata di Labuan Bajo yang menuntut evaluasi keselamatan pelayaran.

Kamis, 1 Januari 2026 - 15:00 WIB
KM Putri Sakinah Tenggelam di Selat Padar, Deretan Kecelakaan Kapal Wisata Labuan Bajo Kembali Disorot
Evakuasi kapal wisata KM KM Putri Sakinah di Perairan Selat Padar (Dok Basarnas for Hallonews)

HALLONEWS.COM — Insiden tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di Perairan Selat Padar kembali menyoroti persoalan keselamatan pelayaran wisata di kawasan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang selama beberapa tahun terakhir mencatat tren kecelakaan laut cukup tinggi.

Kepolisian Resor Manggarai Barat resmi memulai proses penyidikan atas peristiwa tersebut setelah menyerahkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada Kejaksaan Negeri Manggarai Barat.

Langkah penyelidikan tenggelamnya KM Putri Sakinah ini menandai dimulainya penelusuran menyeluruh terhadap faktor teknis kapal, prosedur keselamatan, hingga tanggung jawab operator wisata.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Henry Novika Chandra menyatakan bahwa penyidik akan menggali keterangan dari berbagai pihak, mulai dari awak kapal, pengelola, hingga saksi di lapangan.

Pemeriksaan juga diarahkan pada kelayakan kapal dan kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran wisata.

“Setiap kecelakaan laut harus ditangani secara serius agar tak terulang. Penegakan hukum dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya unsur kelalaian,” ujarnya.

Mesin Mati

Berdasarkan temuan awal, KM Putri Sakinah mengalami gangguan mesin saat berlayar dari Pulau Kalong menuju Pulau Padar. Kapal yang tidak dapat bermanuver tersebut kemudian diterjang gelombang laut hingga terbalik dan tenggelam di Selat Padar.

Kondisi cuaca dan gelombang yang tidak bersahabat diduga memperburuk situasi, sehingga menyulitkan upaya penyelamatan oleh awak kapal.

Dari kejadian itu, tujuh penumpang berhasil diselamatkan, satu orang ditemukan meninggal dunia, sementara tiga korban lainnya masih dalam pencarian oleh Tim SAR Gabungan.

Rentetan Insiden

Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan kapal wisata di perairan Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo. Sepanjang 2024 hingga akhir 2025, sedikitnya 15 insiden kapal wisata tercatat terjadi, terutama di sekitar Pulau Padar, Komodo, dan Rinca.

Beberapa kasus sebelumnya meliputi tenggelamnya kapal wisata Raja Bintang 02 pada Maret 2025, Phinisi Budi Utama pada Juni 2024, kecelakaan di rute Labuan Bajo–Pulau Padar pada Agustus 2024, serta insiden kapal pinisi Dewi Anjani pada Desember 2025.

Pihak kepolisian menegaskan penyidikan ini tidak hanya bertujuan mengungkap peristiwa hukum, tetapi juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap operasional kapal wisata di Labuan Bajo.

Penegakan aturan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan serta menjamin keselamatan di destinasi super prioritas tersebut.

“Penanganan dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel agar ada kepastian hukum serta pembenahan sistem keselamatan pelayaran wisata ke depan,” tegas Henry.(wib)