Home - Internasional - Kremlin Klaim Rumah Putin Diserang Drone Ukraina, Barat Sebut Propaganda

Kremlin Klaim Rumah Putin Diserang Drone Ukraina, Barat Sebut Propaganda

Rusia mengklaim kediaman Vladimir Putin diserang drone Ukraina, namun Kyiv dan negara-negara Barat menilai klaim itu sebagai propaganda Kremlin untuk menggagalkan perundingan damai yang dipimpin AS.

Rabu, 31 Desember 2025 - 23:22 WIB
Kremlin Klaim Rumah Putin Diserang Drone Ukraina, Barat Sebut Propaganda
Presiden Rusia Vladimir Putin memberi isyarat saat berbicara kepada para prajurit Rusia yang berpartisipasi dalam perang di Ukraina di kediamannya dekat Moskow, 1 Januari 2024. Foto: Euronews for Hallonews

HALLONEWS.COM — Pemerintah Rusia mengklaim bahwa kediaman Presiden Vladimir Putin di Valdai, wilayah Novgorod, menjadi target serangan pesawat tak berawak (drone) yang diluncurkan oleh Ukraina pada Senin malam (29/12/2025).

Namun, klaim itu segera dibantah oleh Kyiv, sementara Amerika Serikat dan Uni Eropa menilainya sebagai upaya propaganda Moskow untuk menggagalkan momentum perundingan damai yang tengah dipimpin Washington.

Dalam pernyataan resmi pada Rabu (31/12/2025), Kementerian Pertahanan Rusia merilis rekaman video yang diklaim menunjukkan drone Ukraina yang ditembak jatuh di wilayah berhutan bersalju dekat Novgorod, tak jauh dari dacha Valdai, kediaman pribadi Presiden Putin.

Rekaman berdurasi dua menit itu memperlihatkan bangkai drone di tanah bersalju, dengan dua prajurit bertopeng yang menyebut bahwa serangan terjadi “pada malam 29 Desember di area fasilitas yang dilindungi.”

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan bahwa Moskow “tidak akan tinggal diam” terhadap insiden tersebut, dengan menyebut jumlah drone yang diluncurkan mencapai 91 unit.

“Tindakan gegabah seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” ujar Lavrov kepada kantor berita Interfax, seraya menyatakan bahwa insiden tersebut “akan mengubah posisi Moskow dalam negosiasi perdamaian.”

Namun, angka yang disampaikan Lavrov berbeda dengan laporan awal Kementerian Pertahanan Rusia, yang menyebut pasukannya menembak jatuh 89 drone Ukraina, 18 di antaranya di wilayah Novgorod.

Warga Valdai Bantah Ada Serangan

Kediaman Putin yang dikenal sebagai Dolgiye Borody berjarak sekitar 400 kilometer dari Moskow. Tempat peristirahatan itu dilengkapi sistem pertahanan udara canggih, termasuk rudal S-400 dan Pantsir-S1.

Namun warga Valdai justru membantah bahwa ada tanda-tanda serangan malam itu.

“Tidak ada suara bising, tidak ada ledakan, tidak ada apa pun,” kata seorang warga kepada media independen Mozhem Obyasnit.

“Kalau benar ada serangan ke rumah presiden, seluruh kota pasti akan membicarakannya.”

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov bahkan sempat menolak memberikan bukti tambahan dengan menyebut, “Saya rasa tidak perlu ada bukti di sini.”

Zelenskyy Bantah Serang Kediaman Putin

Pemerintah Ukraina langsung membantah keras tuduhan tersebut. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebutnya sebagai “kebohongan lain dari Federasi Rusia” yang bertujuan mengalihkan perhatian dunia dari pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat.

“Jelas bahwa kemarin kami mengadakan pertemuan dengan Presiden Trump, dan Rusia tidak menginginkan perdamaian itu berhasil,” kata Zelenskyy dalam konferensi pers di Kyiv.

“Mereka mencari alasan baru untuk menunda tekanan internasional dan mempertahankan perang ini.”

Ukraina menegaskan tidak memiliki motif militer untuk menyerang kediaman pribadi Putin, mengingat fokus operasinya tetap di wilayah timur dan selatan yang masih diduduki pasukan Rusia.

Pernyataan Moskow segera direspons para sekutu Ukraina di Barat. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menuduh Kremlin menciptakan narasi palsu untuk mengguncang upaya diplomasi.

“Moskow bertujuan menggagalkan kemajuan nyata menuju perdamaian yang dicapai Ukraina dan mitra-mitranya,” tulis Kallas di platform X (Twitter). Ia menilai klaim serangan drone itu sebagai “pengalihan perhatian yang disengaja.”

Sementara Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker menyatakan kepada Fox Business bahwa Washington belum menemukan indikasi adanya serangan tersebut.

“Tidak jelas apakah itu benar-benar terjadi,” ujarnya. “Akan sangat tidak logis bagi Ukraina untuk melakukan provokasi seperti itu di tengah proses perdamaian yang berjalan baik.”

Presiden Donald Trump, yang memimpin langsung inisiatif perundingan damai di Jenewa, mengonfirmasi bahwa ia telah berbicara dengan Putin mengenai dugaan serangan itu.

“Saya tidak menyukainya, itu tidak baik,” kata Trump di Florida, ditemani PM Israel Benjamin Netanyahu.

“Ini waktu yang sensitif. Menyerang rumahnya bukan langkah yang bijak. Tapi Presiden Putin mengatakan kepada saya pagi ini bahwa memang demikian.”

Pengamat hubungan internasional menilai klaim Kremlin ini lebih bernuansa politik daripada militer. Dr. Alexei Malashenko dari Carnegie Moscow Center menyebut tuduhan terhadap Ukraina berfungsi ganda: meningkatkan dukungan domestik bagi Putin dan menciptakan alasan strategis untuk memperkeras posisi negosiasi Rusia.

“Bagi Kremlin, narasi bahwa Putin diserang di rumahnya adalah simbol. Itu memperkuat citra bahwa Rusia adalah korban agresi Barat,” kata Malashenko.

Menurutnya, momen ini juga digunakan untuk menggeser perhatian publik Rusia dari tekanan ekonomi dan isu internal menjelang tahun politik 2026.

Dari Berlin, Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam pidato Tahun Baru-nya menyinggung klaim Rusia tersebut sebagai bagian dari perang hibrida yang lebih luas terhadap Eropa.

“Perang mengerikan sedang berkecamuk di Eropa, mengancam langsung kebebasan dan keamanan kita,” ujar Merz.

“Rusia melanjutkan agresinya terhadap Ukraina dengan intensitas yang tak berkurang, sambil melakukan sabotase, spionase, dan serangan siber setiap hari terhadap negara-negara Eropa.”

Hingga kini, tidak ada bukti yang dapat memverifikasi klaim Moskow soal serangan drone ke kediaman Putin. Namun, tuduhan ini sudah cukup untuk mengubah suasana diplomatik menjelang babak baru perundingan damai AS–Rusia–Ukraina di Jenewa.

Sementara Kremlin terus membangun narasi ancaman terhadap presiden mereka, Ukraina dan sekutunya menegaskan bahwa propaganda bukan jalan menuju perdamaian, melainkan penghalang baru yang bisa memperpanjang perang di Eropa Timur. (ren)