Home - Megapolitan - Kaleidoskop 2025: Deretan Bencana Hidrometeorologi Mengiringi Tahun di Bekasi

Kaleidoskop 2025: Deretan Bencana Hidrometeorologi Mengiringi Tahun di Bekasi

Kaleidoskop 2025 mencatat banjir dan cuaca ekstrem berulang melanda Kabupaten Bekasi. Dari awal tahun hingga akhir, ribuan warga terdampak bencana Hidrometeorologi.

Rabu, 31 Desember 2025 - 15:29 WIB
Kaleidoskop 2025: Deretan Bencana Hidrometeorologi Mengiringi Tahun di Bekasi
Banjir parah yang menerjang wilayah Bekasi beberapa waktu lalu. Foto/Hallonews

HALLONEWS.COM – Sepanjang 2025, Kabupaten Bekasi dihadapkan pada rangkaian bencana hidrometeorologi yang berdampak luas terhadap warga dan infrastruktur. Banjir, angin kencang, hingga pergerakan tanah berulang kali terjadi, terutama pada awal dan pertengahan tahun.

Memasuki akhir tahun, pemerintah kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana saat libur pergantian tahun 2026. Imbauan ini tak terlepas dari pola bencana yang kerap muncul pada periode awal tahun di wilayah Bekasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi pada awal 2026. Kondisi tersebut berisiko memicu banjir, angin kencang, hingga puting beliung di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi Muchlis mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada meski berada dalam suasana liburan, khususnya warga yang tinggal di kawasan rawan bencana.

“Meski sedang berlibur, masyarakat perlu memastikan kondisi rumah aman dan tetap aktif mengakses informasi cuaca. Kami memastikan informasi teknis potensi banjir dan gerakan tanah sudah disampaikan hingga tingkat desa dan kelurahan,” kata Muchlis, Rabu (31/12/2025).

Catatan BPBD menunjukkan bahwa banjir hampir selalu mewarnai awal tahun di Kabupaten Bekasi. Pada malam pergantian tahun 2020, ribuan warga terpaksa membatalkan perayaan karena permukiman mereka terendam banjir.

Pola serupa kembali terulang pada Januari 2025. Banjir saat itu merendam puluhan titik di enam kecamatan dan berdampak pada sedikitnya 2.400 jiwa. Peristiwa tersebut menjadi pengingat ancaman banjir masih menjadi persoalan berulang yang memerlukan penanganan berkelanjutan.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Bekasi menginstruksikan seluruh camat hingga pemerintah desa untuk memperketat kesiapsiagaan di wilayah masing-masing. Langkah tersebut mencakup mitigasi, kesiapan personel, hingga penguatan koordinasi lintas sektor.

Sejumlah posko siaga bencana disiapkan dengan memanfaatkan kantor desa, gedung sekolah, serta fasilitas umum dan sosial lainnya. Selain itu, BPBD juga menekankan pentingnya mitigasi struktural, seperti pembersihan saluran air dan pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang.

“Kami meminta seluruh camat memastikan sistem peringatan dini atau early warning system berfungsi dengan baik. Kesiapsiagaan menjadi kunci, karena itu posko bencana didirikan selama momen Natal dan Tahun Baru,” ucapnya.

Untuk mempercepat respons di lapangan, BPBD Kabupaten Bekasi juga menyiagakan Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB). Masyarakat diminta segera melapor jika menemukan potensi atau kejadian bencana di lingkungan sekitar.

Muchlis menegaskan, upaya penanggulangan bencana tidak hanya difokuskan pada keselamatan jiwa manusia, tetapi juga perlindungan kelompok rentan serta aset milik warga.

“Memastikan kesiapan evakuasi bagi kelompok berkebutuhan khusus dan perlindungan aset masyarakat menjadi bagian penting dari penanganan bencana,” katanya.

Kaleidoskop Bencana Kabupaten Bekasi 2025

Sepanjang 2025, berbagai peristiwa bencana tercatat di Kabupaten Bekasi, antara lain:

  • 28 Januari: Banjir melanda enam kecamatan, 2.400 jiwa terdampak.
  • 6 Februari: Puting beliung di Desa Sumber Jaya, Tambun Selatan, berdampak pada 352 jiwa dan merusak ratusan rumah.
  • 4 – 7 Maret: Banjir besar merendam 51 desa/kelurahan di 16 kecamatan; 61.648 jiwa terdampak dan 48.207 jiwa mengungsi.
  • 7 Maret: Jalan amblas di Desa Jatiwangi, Cikarang Barat, memutus akses warga.
  • 17 Maret: Puting beliung merusak Gedung SDN 4 Telajung, Cikarang Barat.
  • 19 Mei: Banjir di Cibitung berdampak pada 3.000 jiwa.
  • 23 Mei: Pergerakan tanah di Desa Sukamahi, Cikarang Pusat, merusak delapan rumah berat.
  • 6 Juli: Banjir di 23 desa di 15 kecamatan; 13.546 jiwa terdampak dan 3.490 jiwa mengungsi.
  • 21 Agustus: Gempa menyebabkan musala roboh di sejumlah wilayah.
  • 2 November: Banjir di Desa Sukamanah, Sukatani, berdampak pada 3.548 jiwa.
  • 11 November: Angin kencang merusak bangunan rumah makan di Desa Sukamukti, Bojongmangu.

Rangkaian peristiwa tersebut menjadi catatan penting bagi Pemkab Bekasi dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi awal tahun 2026. Diharapkan pergantian tahun di Kabupaten Bekasi dapat berlangsung aman dan kondusif meski di tengah ancaman cuaca ekstrem. (dul)