Waspada! BMKG Ingatkan Banjir Rob Intai Pesisir Bekasi hingga Awal Januari 2026
BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi banjir rob di pesisir Bekasi hingga awal Januari 2026. Fenomena Perigee dan Bulan Purnama berpotensi meningkatkan pasang air laut.

HALLONEWS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir atau banjir rob di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satu daerah yang masuk kategori waspada adalah wilayah pesisir Kabupaten Bekasi.
BMKG menyebut, peringatan dini banjir rob berlaku mulai 31 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026. Khusus pesisir Kabupaten Bekasi, potensi banjir rob diperkirakan terjadi pada periode 30 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026.
Sejumlah kecamatan yang berpotensi terdampak antara lain Kecamatan Muaragembong, Tarumajaya, dan Babelan. Warga yang bermukim maupun beraktivitas di kawasan pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat pasang maksimum air laut.
BMKG menjelaskan, potensi banjir rob ini dipicu oleh fenomena astronomis fase Perigee, yakni kondisi ketika jarak Bulan berada pada titik terdekat dengan Bumi, yang diperkirakan terjadi pada 2 Januari 2026. Fenomena tersebut disusul dengan fase Bulan Purnama pada 3 Januari 2026.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketinggian maksimum air laut yang dapat menyebabkan banjir pesisir di sejumlah wilayah Indonesia,” tulis BMKG dalam keterangan tertulisnya dikutip Hallonews, Rabu (31/12/2025).
Secara umum, banjir rob berpotensi mengganggu berbagai aktivitas masyarakat pesisir, mulai dari permukiman warga, aktivitas pelabuhan dan bongkar muat, hingga sektor perikanan darat dan tambak garam.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir Kabupaten Bekasi untuk tetap siaga dan melakukan langkah antisipasi, serta rutin memantau perkembangan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
Sementara itu, Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong Ahmad Qurtubi meminta masyarakat pesisir, nelayan, dan petani tambak meningkatkan kewaspadaan menjelang pergantian tahun 2026.
Berdasarkan aplikasi pemantauan pasang surut air laut, Qurtubi menyebutkan bahwa puncak rob diperkirakan terjadi awal Januari 2026. “Tanggal 1 Januari itu pasangnya sudah cukup besar, dan puncaknya diprediksi Sabtu, 3 Januari 2026, bertepatan dengan fase Bulan Purnama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketinggian puncak rob Januari diperkirakan mencapai 0,84 meter, lebih tinggi dibandingkan puncak rob Desember yang tercatat sekitar 0,81 meter. Meski demikian, banjir rob yang sebelumnya sempat merendam permukiman warga kini sudah melandai.
Qurtubi menambahkan, sebagian besar warga pesisir Muaragembong kini mulai terbiasa menggunakan aplikasi pemantau pasang surut air laut dan prakiraan cuaca melalui telepon seluler, sehingga lebih siap menghadapi potensi banjir rob.
Namun, dampak rob sebelumnya telah menimbulkan kerugian signifikan. Sekitar 1.200 hektare tambak ikan dan udang di Desa Pantai Bahagia terdampak, disertai kerusakan infrastruktur seperti tanggul, jalan, hingga jembatan penghubung antarwilayah.
Ia juga menyoroti penurunan muka tanah yang terjadi secara signifikan di Muaragembong dalam lima tahun terakhir. Menurutnya, fenomena rob yang semakin tinggi dan sering tak lepas dari faktor penurunan muka tanah serta perubahan iklim.
“Penggunaan air tanah yang masif melalui sumur bor rumah tangga dan pertanian diduga menjadi salah satu penyebab utama cepatnya penurunan muka tanah di wilayah pesisir Bekasi ini,” tegasnya. (dul)
