Pertemuan Lee-Xi di China Bisa Jadi Momentum Baru Terkait Korea Utara dan Kapal Selam Nuklir Korea Selatan
Presiden Lee Jae Myung dijadwalkan bertemu Xi Jinping di China untuk membahas kerja sama bilateral dan isu strategis, termasuk Korea Utara dan kapal selam nuklir Korea Selatan.

HALLONEWS.COM — Presiden Lee Jae Myung dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan empat hari ke China, di mana pertemuan puncaknya dengan Presiden Xi Jinping dipandang berpotensi menjadi momentum penting terkait Korea Utara dan rencana Korea Selatan membangun kapal selam bertenaga nuklir.
Kantor kepresidenan Korea Selatan mengumumkan bahwa Lee akan berada di Beijing pada 4–6 Januari untuk pembicaraan bilateral dan jamuan makan malam kenegaraan, kemudian melanjutkan kunjungan ke Shanghai pada 6–7 Januari.
Di Shanghai, Lee juga akan menghadiri peringatan sejarah penting, termasuk 150 tahun kelahiran pejuang kemerdekaan Kim Koo dan 100 tahun gedung Pemerintahan Sementara Shanghai, menekankan sisi diplomasi budaya dalam kunjungan ini.
“Selama kunjungan, pembicaraan akan mencakup isu-isu yang berdampak langsung pada warga kedua negara, termasuk rantai pasokan, investasi, ekonomi digital, serta keamanan regional,” kata juru bicara kepresidenan, Kang Yu-jung seperti dilansir The Korea Times, Selasa (30/12/2025).
Pertemuan ini menjadi kunjungan pertama Lee ke China sejak pelantikannya pada Juni 2025, menyusul kunjungan Xi ke Korea Selatan pada akhir Oktober hingga awal November. Pertemuan sebelumnya membantu meredakan ketegangan hubungan Seoul-Beijing, yang sempat memanas karena penempatan sistem pertahanan THAAD pada 2016.
Selain fokus ekonomi dan kerja sama bilateral, agenda diperkirakan akan membahas isu Korea Utara dan potensi dialog regional, terutama jelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada April.
Rencana kapal selam bertenaga nuklir Korea Selatan, yang baru-baru ini mendapat persetujuan AS untuk pengayaan uranium dan pengolahan ulang bahan bakar bekas, sekaligus menimbulkan peringatan Beijing.
Peluang pelonggaran larangan konten budaya Korea di China, yang masih diberlakukan setelah sengketa THAAD.
Di Shanghai, Lee juga akan menandatangani beberapa Nota Kesepahaman (MOU) untuk memperkuat kerja sama ekonomi, usaha patungan, dan bidang kolaborasi bilateral lainnya.
“Diskusi juga akan mencakup peluang kerja sama ekonomi dan keamanan regional dalam kerangka hubungan yang saling menguntungkan,” tambah Kang.
Kunjungan ini tidak hanya penting bagi diplomasi ekonomi dan budaya, tetapi juga menjadi momen strategis untuk menegaskan posisi Korea Selatan dalam isu keamanan regional, khususnya terkait Korea Utara dan program kapal selam nuklirnya. (ren)
