Air Mata Mar Martinez Ortuno di Dermaga Labuan Bajo: Saat Seorang Ibu Kehilangan Putrinya di Laut Flores
Mar Martinez Ortuno pecah tangis di dermaga Labuan Bajo saat jasad putrinya ditemukan. Keluarga pelatih Valencia CF tewas dalam tragedi kapal wisata.

HALLONEWS.COM — Langit Labuan Bajo pagi itu muram. Ombak yang semula tenang berubah menjadi saksi bisu ketika sebuah perahu karet tim SAR Gabungan mendekat ke dermaga membawa kantong jenazah.
Di antara isak tangis keluarga korban dan tatapan kosong para relawan, seorang perempuan asal Spanyol, Mar Martinez Ortuno, jatuh berlutut. Ia menjerit histeris ketika mengetahui jasad yang baru diangkat dari laut adalah putrinya, yang telah tiga hari hilang bersama ayah dan dua saudara kandungnya.
Momen itu menjadi potret duka paling memilukan dari tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan sekitar Pulau Serai dan Selat Padar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (26/12/2025) lalu.
Mar Martinez Ortuno, yang selamat bersama satu anaknya yang lain, tak mampu menahan air mata ketika menyaksikan putrinya yang berusia belasan tahun dibawa ke darat oleh petugas SAR dalam kondisi tak bernyawa.
Kapal pinisi KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang, terdiri dari wisatawan asal Spanyol, awak kapal, dan pemandu lokal, dilaporkan tenggelam setelah dihantam ombak tinggi di kawasan Selat Padar, salah satu perairan paling menantang di Taman Nasional Komodo.
Menurut laporan Basarnas NTT, kapal tersebut mengalami kerusakan mesin sebelum dihantam gelombang kuat. Sebagian penumpang sempat melompat ke laut untuk menyelamatkan diri.
Mar Martinez Ortuno bersama salah satu putrinya berhasil bertahan dengan memegang benda terapung hingga diselamatkan oleh nelayan yang melintas. Namun suaminya, Fernando Martín Carreras (44), pelatih tim sepak bola Valencia CF Femenino B, dan tiga anak mereka lainnya dinyatakan hilang.
Tim SAR Gabungan yang beranggotakan Basarnas, TNI AL, Polairud, serta relawan penyelam profesional, melakukan pencarian intensif selama tiga hari. Pada Senin (29/12/2025), jasad salah satu anak dari pasangan Fernando dan Mar Martinez Ortuno, ditemukan mengapung di sekitar Perairan Pulau Serai.
Air Mata di Dermaga
Ketika jenazah tiba di darat, Mar Martinez Ortuno yang menunggu di dermaga tak kuasa berdiri. Tubuhnya gemetar. Tangisnya pecah seiring kantong jenazah dibawa turun dari perahu karet.
“Saya ingin memeluknya… hanya sekali lagi,” ucapnya lirih dalam bahasa Spanyol, sebelum dipapah petugas medis yang mendampinginya.
Saksi di lokasi menggambarkan suasana itu sebagai salah satu momen paling emosional selama operasi penyelamatan. Seorang anggota Basarnas mengatakan, “Ia memanggil nama anaknya berkali-kali. Semua yang melihat ikut menangis.”
Fernando Martín Carreras dikenal di Spanyol sebagai sosok pelatih rendah hati yang dekat dengan pemain muda. Ia melatih tim Valencia CF Women’s B dan kerap membawa keluarganya dalam perjalanan liburan ke luar negeri.
Kabar kematiannya mengguncang dunia olahraga Spanyol. Klub Valencia CF, Real Madrid, hingga FC Barcelona menyampaikan belasungkawa mendalam di media sosial, menyebut keluarga Martín sebagai “keluarga penuh cinta dan dedikasi pada sepak bola”.
“Klub kami berduka mendalam atas meninggalnya Fernando Martín dan keluarganya dalam tragedi di Indonesia. Doa kami untuk Mar Martinez Ortuno dan putri mereka yang selamat,” tulis akun resmi Valencia CF.
Harapan yang Tersisa
Hingga Selasa (30/12/2025), Tim SAR Gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap dua anggota keluarga Martín lainnya yang belum ditemukan.
Kepala Kantor SAR Maumere, I Nyoman Sidakarya, menyebut operasi akan berlanjut hingga tujuh hari dengan dukungan kapal milik TNI AL dan penyelam profesional.
“Kami berkomitmen menuntaskan pencarian ini. Kami tahu setiap menit sangat berarti bagi keluarga korban,” ujarnya.
Pihak Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta juga telah berkoordinasi dengan otoritas Indonesia untuk membantu repatriasi jenazah dan memberikan dukungan psikologis bagi Andrea serta putrinya yang selamat.
Kini, Mar Martinez Ortuno masih di salah satu penginapan yang dijadikan pos sementara oleh tim SAR di Labuan Bajo. Ia kerap menatap laut dari kejauhan, seolah berharap ombak membawa kembali keluarganya.
“Dia tidak berhenti memanggil nama suami dan anak-anaknya,” kata seorang relawan. “Dia menunggu keajaiban.”
Di Labuan Bajo, tempat yang biasa menjadi simbol keindahan laut Indonesia, kini menyisakan kisah duka seorang ibu yang kehilangan separuh hidupnya di gelombang yang sama. (ren)
