Home - Ekonomi & Bisnis - Harga Tembaga Tembus Rekor Sepanjang Masa! Sentuh US$12.000 per Ton, Pasar Global Bergejolak

Harga Tembaga Tembus Rekor Sepanjang Masa! Sentuh US$12.000 per Ton, Pasar Global Bergejolak

Harga tembaga global mencetak rekor tertinggi di akhir 2025 dengan menembus US$12.000 per ton di LME. Gangguan pasokan, lonjakan permintaan energi hijau, dan ekspansi AI dorong potensi harga hingga US$15.000 per ton.

Sabtu, 27 Desember 2025 - 10:05 WIB
Harga Tembaga Tembus Rekor Sepanjang Masa! Sentuh US$12.000 per Ton, Pasar Global Bergejolak
Ilustrasi Tembaga. Foto (Dok)

HALLONEWS.COM – Pada akhir Desember 2025, harga tembaga global telah menembus level rekor sepanjang masa, mencapai lebih dari US$12.000 per ton di Bursa Logam London (LME).

Harga penutupan tercatat sekitar US$12.159,50 hingga US$12.162,50 per ton, setelah sempat menyentuh puncak US$12.282 per ton. Harga tembaga telah melonjak secara signifikan sejak 2009, saat pemulihan ekonomi pasca krisis global dan ini akan menjadi peningkatan tahunan terbaik sejak tahun 2025. Kenaikan ini akan mencapai peningkatan hampir 40%.

Faktor-faktor yang mengganggu pasokan dan permintaan yang terus meningkat mendorong fenomena ini. Di sisi pasokan, sejumlah kecelakaan operasional di tambang-tambang terbesar di dunia telah mengurangi produksi global.

Beberapa dari gangguan tersebut adalah banjir bawah tanah di Republik Demokratik Kongo, kecelakaan fatal di salah satu tambang terbesar di Indonesia, dan ledakan batuan di Chile—negara penghasil tembaga terbesar di dunia.

Selain itu, peningkatan produksi telah dihambat oleh regulasi lingkungan yang lebih ketat dan kesulitan geologis. Penimbunan stok yang lebih awal didorong oleh antisipasi kebijakan tarif impor baru AS, yang semakin memperketat ketersediaan di pasar internasional.

Tembaga masih merupakan komoditas penting untuk pergeseran energi di seluruh dunia, tergantung pada permintaannya.

Dengan pertumbuhan sektor manufaktur dan kebutuhan energi secara keseluruhan yang terus meningkat, kebutuhan akan logam ini meningkat karena pembangunan infrastruktur jaringan listrik, proyek energi terbarukan, dan pusat data hyperscale yang mendukung kecerdasan buatan (AI).

Kebutuhan tembaga ini diperkirakan mencapai puluhan ribu ton untuk setiap pusat data besar. Analis lembaga keuangan global memperkirakan defisit pasokan hingga ratusan ribu ton pada 2026, dengan harga mungkin mencapai US$12.500 hingga US$15.000 per ton pada paruh pertama tahun depan, tergantung pada stabilitas makroekonomi dan adaptasi industri.

Kenaikan harga tembaga menunjukkan ketahanan permintaan dan pentingnya logam ini dalam ekonomi kontemporer. Tren ini diperkirakan akan berlanjut dalam jangka menengah karena pasokan yang semakin terbatas dan permintaan struktural yang kuat dari industri teknologi dan energi hijau. Namun, variabel geopolitik, seperti perubahan kebijakan perdagangan atau penyelesaian masalah produksi di tambang utama, dapat menyebabkan fluktuasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, pencapaian rekor ini menunjukkan posisi tembaga sebagai indikator kesehatan ekonomi global, di mana kenaikan harga sering menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan infrastruktur dan inovasi teknologi.

Lonjakan harga tembaga ini cenderung memberikan dorongan positif bagi sektor pertambangan logam dasar di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral terkait berpotensi mengalami penguatan signifikan akibat peningkatan margin laba produsen domestik dan ekspektasi pendapatan ekspor yang lebih tinggi.

Namun, sektor manufaktur hilir seperti kabel listrik, elektronik, dan konstruksi mungkin menghadapi tekanan biaya input yang lebih besar, sehingga mempengaruhi efisiensi operasional. (Hendeka Putera/Yes Invest)