Hadapi Cuaca Ekstrem, Kampus IPB Lakukan Penataan Pohon di Kawasan Kampus
Hadapi cuaca ekstrem, IPB University melakukan penataan dan mitigasi risiko pohon di Kampus Dramaga untuk menjaga keselamatan sivitas akademika dan kelestarian lingkungan.

HALLONEWS.COM — Cuaca ekstrem yang kerap terjadi belakangan ini menuntut peningkatan kesiapsiagaan. Sebagai kampus yang didominasi oleh ruang terbuka hijau (RTH), IPB University memperkuat upaya mitigasi risiko melalui kegiatan Pengelolaan Risiko Pohon di lingkungan Kampus Dramaga, Bogor.
Pakar genetika dan pemuliaan pohon dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, Prof. Iskandar Z. Siregar, menjelaskan bahwa pohon merupakan bagian integral dari kawasan permukiman dan kampus. Oleh karena itu, aspek keamanannya perlu mendapat perhatian serius, setara dengan bangunan.
Wakil Rektor IPB University Bidang Konektivitas Global, Kerja Sama, dan Alumni ini menegaskan bahwa pengelolaan risiko pohon menjadi langkah penting dalam melindungi keselamatan sivitas akademika dan aset kampus.
“Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas petugas lapangan agar mampu mendeteksi potensi risiko secara cepat, baik terhadap keselamatan manusia maupun terhadap properti seperti kendaraan,” ujar Prof. Iskandar melalui rilis yang diterima HALLONEWS.COM, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, dalam kondisi cuaca ekstrem, petugas di lapangan harus memiliki pemahaman yang memadai mengenai risiko serta mampu memberikan peringatan dini guna mencegah kejadian yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Direktur Umum dan Infrastruktur IPB University, Ahmad Kosasih, SE, mengungkapkan bahwa mitigasi risiko pohon tumbang menjadi hal krusial mengingat luas Kampus IPB Dramaga yang mencapai sekitar 267 hektare dan didominasi oleh ruang terbuka hijau.
“IPB University memiliki banyak pohon berukuran besar, terutama di sepanjang jalan utama seperti Jalan Ramin. Di kawasan tersebut, risiko dahan patah atau pohon tumbang cukup tinggi sehingga mitigasi harus dilakukan secara serius dan terencana,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa IPB University telah menerapkan pemetaan risiko melalui sistem zonasi, yaitu zona merah, kuning, dan hijau. Zona merah, misalnya, ditetapkan di sepanjang Jalan Ramin yang dipenuhi pohon-pohon besar di sisi kiri dan kanan jalan.
Upaya mitigasi ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas unit, melibatkan Kantor Manajemen Risiko, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, serta mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Wakil Manajer Pusat Informasi dan Inovasi Kehutanan dan Lingkungan (PI2KL), Prof. Efi Yuliati Yovi, menekankan pentingnya pendekatan manajemen risiko yang komprehensif dan berimbang.
“Mitigasi risiko pohon harus dilihat dari dua perspektif, yaitu kebutuhan konservasi pohon dan kebutuhan manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan,” ujarnya.
Menurutnya, pohon memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, mulai dari habitat satwa, penyangga hidrologi, hingga penopang keanekaragaman hayati. Namun di sisi lain, kampus merupakan ruang aktivitas manusia yang menuntut jaminan keselamatan.
“Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko yang menyeluruh, mulai dari zonasi berdasarkan aktivitas, inventarisasi pohon, hingga pemetaan potensi bahaya setiap pohon. Dari sana dapat ditentukan strategi mitigasi yang paling tepat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa konservasi tetap menjadi prinsip utama IPB University, namun tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan sivitas akademika dan pengunjung kampus.
“Kampus adalah ruang pendidikan dan aktivitas manusia. Konservasi penting, tetapi keselamatan juga wajib dijaga. Di sinilah keseimbangan itu harus dibangun,” pungkasnya. (yopy)
