Tiongkok Murka! Tuduh Jepang Siapkan Perang di Antariksa
Tiongkok menuduh Jepang mempersiapkan perang di antariksa dan memperingatkan risiko perlombaan senjata ruang angkasa yang mengancam keamanan global.

HALLONEWS.COM-Ketegangan antara Tiongkok dan Jepang meningkat tajam setelah Beijing menuduh Tokyo tengah mempersiapkan perang di luar angkasa. Dalam pernyataan keras yang disampaikan pada Kamis (25/12/2025), Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok menuding langkah Jepang memperluas kemampuan militernya ke ranah antariksa sebagai tindakan provokatif yang bisa memicu perlombaan senjata global.
Menurut laporan sejumlah media Jepang, Tokyo telah mencapai kemajuan signifikan dalam teknologi pengacau satelit (anti-satellite technology) dan berencana mengubah Angkatan Udara Bela Diri menjadi Angkatan Udara dan Antariksa Bela Diri.
Bahkan, Jepang disebut tengah menyiapkan pembangunan kapal induk antariksa yang ditargetkan beroperasi pada tahun fiskal 2026.
Langkah itu, menurut Beijing, bukan sekadar modernisasi pertahanan, melainkan langkah ofensif yang menimbulkan kekhawatiran serius bagi stabilitas kawasan Asia Timur dan keamanan global.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok, Kolonel Senior Zhang Xiaogang, menegaskan bahwa kebijakan baru Jepang merupakan bentuk militerisasi ruang angkasa yang berbahaya.
“Menjaga perdamaian dan keamanan di ruang angkasa adalah kepentingan bersama seluruh umat manusia,” tegas Zhang dalam konferensi pers di Beijing.
“Langkah Jepang mempercepat persenjataan antariksa dan mendorong dunia ke arah perlombaan senjata baru. Ini berbahaya dan tidak mendapat dukungan internasional.”
Zhang menambahkan bahwa pengembangan teknologi ofensif antariksa Jepang melanggar prinsip penggunaan damai ruang angkasa yang diatur dalam Outer Space Treaty 1967, perjanjian internasional yang melarang penempatan senjata di orbit bumi.
Pernyataan keras Beijing juga menyinggung memori sejarah kelam Asia Timur.
Tiongkok memperingatkan bahwa kebijakan ruang angkasa Jepang menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya semangat militerisme Jepang yang pernah menyebabkan tragedi di masa lalu.
“Kelompok militeris Jepang pernah melancarkan serangan mendadak pada masa perang,” ujar Zhang.
“Kini, ketika Tokyo mengambil kebijakan ofensif di luar angkasa, dunia wajar khawatir terhadap kemungkinan ‘Pearl Harbor di antariksa.’”
Ungkapan itu mengacu pada kekhawatiran bahwa Jepang mungkin mengembangkan kemampuan serangan antariksa yang dapat melumpuhkan sistem komunikasi dan satelit negara lain dalam waktu singkat, sebagaimana serangan mendadak terhadap Pearl Harbor pada 1941.
Rencana Jepang memperluas kekuatan militernya ke antariksa menambah dimensi baru dalam ketegangan geopolitik Asia Timur, yang sudah dipenuhi isu sensitif seperti Laut Tiongkok Timur, Taiwan, dan program rudal Korea Utara.
Langkah ini juga menempatkan Jepang sejajar dengan Amerika Serikat dan Tiongkok dalam perlombaan menguasai teknologi luar angkasa strategis.
Beijing menilai Tokyo mendapat dorongan dari Washington untuk memperkuat sistem pertahanan luar angkasa sekutu-sekutunya di kawasan Indo-Pasifik.
“Ruang angkasa bukan milik satu negara,” ujar Zhang menegaskan.
“Setiap upaya menjadikannya medan perang hanya akan membawa bahaya bagi semua pihak.”
Meski Tiongkok menuduh Jepang memicu eskalasi, para analis menilai kedua negara kini terlibat dalam perlombaan senjata ruang angkasa secara diam-diam.
Baik Beijing maupun Tokyo sama-sama mengembangkan satelit militer, sistem pertahanan anti-rudal, dan teknologi pengintaian orbital untuk kepentingan keamanan nasional.
Namun, para pengamat memperingatkan bahwa peningkatan militerisasi di luar angkasa dapat mengancam infrastruktur sipil global, termasuk komunikasi, navigasi GPS, dan jaringan internet satelit yang menopang ekonomi dunia modern.
“Begitu ruang angkasa berubah menjadi arena konflik, tidak ada negara yang benar-benar aman,” kata seorang analis keamanan Asia Timur di Singapura. (ren)
