Home - Internasional - Pesan Natal Urbi et Orbi Paus: Damai Tak Datang Sendiri, Kita Harus Memperjuangkannya

Pesan Natal Urbi et Orbi Paus: Damai Tak Datang Sendiri, Kita Harus Memperjuangkannya

Dalam pesan Natal Urbi et Orbi pada 25 Desember 2025, Paus Leo XIV menyerukan dunia agar menyadari bahwa perdamaian adalah anugerah Tuhan dan tanggung jawab bersama.

Kamis, 25 Desember 2025 - 20:27 WIB
Pesan Natal Urbi et Orbi Paus: Damai Tak Datang Sendiri, Kita Harus Memperjuangkannya
Paus Leo XIV menyampaikan pesan Natal Urbi et Orbi pada Kamis, 25 Desember 2025, dari balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan. Dalam pidatonya, Paus menegaskan bahwa perdamaian adalah anugerah Tuhan sekaligus tanggung jawab bersama umat manusia. Foto: Vaticannews for Hallonews

HALLONEWS.COM — Dalam pesan Natal tahunan Urbi et Orbi, istilah Latin yang berarti “untuk kota (Roma) dan untuk dunia,” Paus Leo XIV menyerukan agar seluruh umat manusia memperbarui komitmen terhadap perdamaian, dialog, dan kemanusiaan.

Pesan Urbi et Orbi disampaikan dari balkon utama Basilika Santo Petrus di Vatikan dan disiarkan langsung ke berbagai negara, Kamis (25/12/2025). Tradisi ini menjadi momen penting bagi Gereja Katolik di seluruh dunia, di mana Paus menyampaikan doa dan berkat bagi Roma serta seluruh umat manusia.

“Hari ini kedamaian sejati telah turun kepada kita dari surga,” ujar Paus Leo XIV di hadapan ribuan umat dan peziarah.

“Namun damai itu juga menuntut tanggung jawab manusia. Allah yang menciptakan kita tanpa kita, tidak akan menyelamatkan kita tanpa kita.”

Doa Paus untuk Dunia yang Luka

Dalam pesan yang penuh empati dan refleksi, Paus Leo XIV mendoakan perdamaian bagi Lebanon, Palestina, Israel, dan Suriah. Ia menyerukan agar “suara senjata berhenti di Ukraina,” dan mengimbau semua pihak untuk berani membuka dialog yang tulus dan saling menghormati.

Paus juga menyinggung konflik-konflik yang jarang disorot dunia, seperti Sudan, Sudan Selatan, Mali, Burkina Faso, dan Republik Demokratik Kongo, seraya mengingat para korban perang, penganiayaan, dan terorisme.

“Saya berdoa bagi mereka yang menderita karena ketidakadilan dan kekerasan, agar dunia tidak melupakan penderitaan mereka,” tutur Paus.

Ia juga menyerukan doa untuk Haiti dan Myanmar, meminta agar kedua negara “menemukan jalan menuju rekonsiliasi dan harapan.”

Kepada para pemimpin di Amerika Latin, Paus mengimbau agar perbedaan politik tidak menjadi alasan untuk perpecahan, melainkan kesempatan untuk membangun dialog demi kebaikan bersama.

“Semoga mereka yang memiliki tanggung jawab politik memberi ruang bagi dialog, bukan memperdalam jurang ideologis,” ujarnya.

Damai yang Lahir dalam Kesederhanaan

Mengutip Santo Leo Agung, Paus mengingatkan bahwa “kelahiran Tuhan adalah kelahiran perdamaian.”

Yesus, katanya, lahir dalam kandang sederhana karena “tidak ada tempat bagi-Nya di penginapan.”

Melalui kasih dan kerendahan hati, Kristus mengidentifikasi diri dengan mereka yang miskin, tertolak, dan menderita.

“Karena kasih, Kristus menerima kemiskinan dan penolakan agar kita belajar menanggung beban sesama,” kata Paus.

Ia menegaskan, tanpa hati yang diampuni, mustahil menjadi pembawa damai.

“Kristus adalah damai sejati karena Ia membebaskan manusia dari dosa dan menunjukkan jalan untuk mengatasi konflik, baik antarpribadi maupun antarbangsa.”

Paus Leo XIV memperingatkan dunia terhadap bahaya sikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama.

Ia menegaskan bahwa Kristus hadir di wajah mereka yang menderita hari ini: penduduk Gaza, rakyat Yaman, pengungsi, pekerja migran, pengangguran, dan tahanan yang hidup dalam kondisi tidak manusiawi.

“Allah tidak acuh terhadap penderitaan kita,” tegasnya. “Dan karena itu, kita pun tidak boleh acuh terhadap penderitaan orang lain.”

Menjelang penutupan Tahun Yubileum 2025, Paus Leo XIV menutup pesan Natalnya dengan seruan penuh pengharapan.

“Kristus, harapan kita, tetap bersama kita selalu,” ujarnya. “Dia adalah Pintu yang selalu terbuka, bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan.”

Pesan Natal Urbi et Orbi tahun ini menjadi panggilan spiritual bagi dunia untuk mengubah doa menjadi tindakan, dan harapan menjadi komitmen nyata bagi perdamaian. (ren)