Menteri Keuangan Purbaya Siapkan Fasilitas Kredit Rp2 Triliun untuk Industri Furnitur dan Tekstil
Menkeu Purbaya menyiapkan fasilitas kredit ekspor Rp2 triliun bagi industri furnitur, tekstil, dan alas kaki guna mendorong daya saing, ekspor, dan surplus perdagangan nasional.

HALLONEWS.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa dana tambahan sebesar Rp2 triliun akan disediakan untuk fasilitas pembiayaan ekspor bagi bisnis furnitur, tekstil, dan alas kaki.
Sebagai tanggapan terhadap masalah yang dihadapi industri domestik dalam mempertahankan surplus perdagangan, pengumuman ini dikeluarkan setelah pertemuan dengan perwakilan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia serta asosiasi terkait.
Pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebelumnya hanya sebesar Rp200 miliar, dianggap kurang untuk mendukung aktivitas ekspor.
Kebijakan ini menargetkan perusahaan berorientasi ekspor, dengan suku bunga kompetitif sebesar 6 persen. Pengusaha dapat memanfaatkan fasilitas LPEI, yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Mengingat potensi pasar global bernilai US$300 miliar, di mana kontribusi Indonesia saat ini hanya sekitar US$2,5 miliar, peningkatan dana ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor furnitur hingga mencapai US$6 miliar.
Selain itu, tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengatasi dampak tarif impor AS sebesar 19% terhadap 54% ekspor furnitur dan kerajinan ke pasar tersebut dengan meningkatkan diversifikasi ke negara-negara seperti Uni Eropa dan Kanada.
Purbaya menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menanggapi keluhan pelaku usaha tentang penurunan surplus perdagangan yang disebabkan oleh peningkatan impor domestik.
Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie menyambut baik kebijakan ini dan menekankan betapa pentingnya deregulasi dan insentif untuk memastikan pertumbuhan industri yang sehat.
Perwakilan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) meminta peningkatan alokasi dana hingga Rp 16 triliun untuk mencapai target ekspor yang lebih besar.
Secara keseluruhan, program kredit ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung sektor manufaktur domestik melalui dukungan fiskal di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif. Diharapkan implementasi yang efektif akan mengembalikan momentum ekspor dan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
Pengumuman ini cenderung memberikan sentimen positif bagi sektor manufaktur di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral industri dasar dan konsumsi non-primer berpotensi mengalami penguatan akibat ekspektasi peningkatan likuiditas dan pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi.
Namun, sektor keuangan mungkin menghadapi volatilitas sementara akibat alokasi dana negara yang lebih besar, sementara secara agregat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa memperlihatkan dorongan moderat dari arus investasi ke subsektor ekspor-oriented, meskipun bergantung pada realisasi diversifikasi pasar dan stabilitas suku bunga global. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)
