Rusia Terima Draf Perdamaian AS–Ukraina, Zelenskyy Isyaratkan Solusi untuk Wilayah Timur
Rusia menerima draf perdamaian 20 poin AS–Ukraina. Zelenskyy sebut kompromi zona ekonomi bebas untuk wilayah Donetsk dan Luhansk, meski serangan Rusia masih berlanjut.

HALLONEWS.COM-Upaya diplomatik menuju akhir perang Rusia–Ukraina menunjukkan babak baru. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Rusia telah menerima kerangka perdamaian 20 poin yang dirumuskan bersama Amerika Serikat (AS) dan Ukraina dalam pertemuan di Florida pekan lalu.
Zelenskyy menyebut, sebagian besar poin telah disepakati oleh Kyiv dan Washington, meski isu mengenai wilayah pendudukan di Ukraina timur dan pengelolaan pembangkit nuklir Zaporizhzhia masih menjadi kendala utama.
“Masalah wilayah adalah poin paling sulit dan akan dibahas di tingkat para pemimpin,” ujar Zelenskyy dalam konferensi pers di Kyiv, Selasa (23/12/2025).
Zona Ekonomi Bebas Jadi Opsi Kompromi
Dalam upaya mencari jalan tengah, AS mengusulkan agar Donetsk dan Luhansk — dua wilayah yang dikuasai Rusia sejak 2014, diubah menjadi zona ekonomi bebas di bawah pengawasan internasional.
Usulan ini disertai rencana pembentukan zona demiliterisasi sebagai bentuk kompromi agar kedua belah pihak tetap dapat mengklaim kehadiran simbolik tanpa perebutan administratif.
Zelenskyy menyebut format ini bisa menjadi “jalan keluar diplomatik” yang mengakomodasi kepentingan baik Ukraina maupun Rusia.
“AS mencoba memastikan agar wilayah itu tidak dianggap lepas dari Ukraina. Mereka mengusulkan format ekonomi bebas yang bisa diterima kedua pihak,” katanya.
Kyiv juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan akhir harus melalui referendum nasional, memberi rakyat Ukraina hak menentukan masa depan negaranya.
Delegasi AS dikabarkan telah menyampaikan draf perdamaian 20 poin itu langsung ke negosiator Rusia di Moskow. Zelenskyy mengatakan, Kyiv kini menunggu tanggapan resmi Kremlin yang diharapkan datang dalam waktu dekat.
“Setiap poin telah kami bahas bersama Washington. Kini semua mata tertuju pada Moskow,” ujar Zelenskyy.
Rusia Serang Infrastruktur Energi Ukraina
Sementara pembicaraan perdamaian berlangsung, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur minyak dan gas Ukraina untuk hari kedua berturut-turut.
Perusahaan energi milik negara, Naftogaz, menyatakan bahwa hampir 100 drone tempur digunakan dalam dua hari terakhir untuk menyerang fasilitas Ukrnafta, menyebabkan kerusakan parah pada sistem produksi.
“Serangan ini menimbulkan kerusakan kritis. Peralatan yang rusak telah dimatikan,” kata Naftogaz dalam pernyataannya.
Dalam laporan terpisah, Zelenskyy menyebut telah bertemu dengan Kepala Intelijen Luar Negeri Ukraina, Oleg Ivashchenko, membahas dinamika terbaru di medan perang dan jaringan global Rusia.
Ia mengungkap tiga poin utama hasil pertemuan tersebut:
– Rusia diduga menggunakan skema hukum fiktif untuk menghindari sanksi internasional terhadap sektor energinya.
– Rudal Oreshnik dilaporkan terus dipindahkan ke Belarus, meningkatkan risiko serangan lintas perbatasan.
– Hubungan Rusia–Tiongkok meningkat signifikan, termasuk kemungkinan penggunaan data satelit untuk mendukung serangan militer.
Zelenskyy menyebut, “Ada korelasi antara wilayah Ukraina yang diamati oleh satelit Tiongkok dan area yang kemudian diserang Rusia.”
Meski diplomasi menunjukkan secercah harapan, para analis memperingatkan bahwa perang informasi dan energi antara Rusia dan Ukraina akan terus menjadi tantangan besar dalam proses perdamaian.
Draf 20 poin yang dikirim ke Moskow kini menjadi ujian serius bagi diplomasi global, apakah jalan damai bisa menembus dinding konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir tiga tahun. (ren)
