Home - Ekonomi & Bisnis - APLN Lepas Mall Deli Park Medan, Dana Akan Mengalir ke Induk Lewat Dividen

APLN Lepas Mall Deli Park Medan, Dana Akan Mengalir ke Induk Lewat Dividen

APLN lepas Mall Deli Park Medan lewat anak usaha, dana hasil transaksi akan mengalir ke induk melalui dividen. Strategi divestasi aset dinilai menopang kinerja keuangan dan likuiditas Agung Podomoro Land.

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:00 WIB
APLN Lepas Mall Deli Park Medan, Dana Akan Mengalir ke Induk Lewat Dividen
Mall Deli Park Medan (Dok APLN)

HALLONEWS.COM – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menyampaikan keterbukaan informasi terkait rencana penjualan Mall Deli Park yang berlokasi di Medan, Sumatra Utara.

Berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli tertanggal 22 Desember 2025, PT Sinar Menara Deli (SMD) selaku entitas anak terkendali Perseroan bertindak sebagai pembeli PT DPM Assets Indonesia (DPMAI).

Manajemen Perseroan menyatakan bahwa dana hasil transaksi yang diterima oleh SMD direncanakan akan disalurkan kepada APLN dalam bentuk dividen dari entitas anak.

Selain rencana penjualan Mall Deli Park, APLN juga telah beberapa kali melakukan divestasi aset. Pada 14 November 2024, PT Podomoro Asset Management (PAP) selaku entitas anak Perseroan melakukan penjualan Hotel Pullman yang berlokasi di kawasan Vimala Hills, Gadog, kepada PT Bangun Loka Indah (BLI) dengan nilai transaksi sebesar Rp1.684.192.970.000.

Sebelumnya, pada 26 September 2023, PT Transindah Mandiri Indonesia (TMI) selaku entitas anak Perseroan menjual 152 Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun (SHMSRS) Mal Neo SOHO kepada PT NSM Assets Indonesia (NSMAI) dengan nilai transaksi sebesar Rp1.300.000.000.000.

Lebih lanjut, pada 22 September 2022, Perseroan menandatangani perjanjian jual beli atas 149 SHMSRS Mal Central Park dengan PT CPM Assets Indonesia (CPMAI) sebagai pembeli, dengan nilai transaksi mencapai Rp4.082.500.000.000.

H. Noer Indradjaja, Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), menyatakan bahwa PT Sinar Menara Deli (SMD), entitas anak dari Perseroan, akan menerima dana dari penjualan aset.

Sebagaimana dinyatakan oleh H. Noer Indradjaja, rencana transaksi tersebut tidak akan berdampak negatif pada operasi, aspek hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha PT Agung Podomoro Land Tbk.

Sebaliknya, transaksi tersebut dianggap menguntungkan PT Agung Podomoro Land Tbk karena sebagian besar dana yang diterima oleh PT Sinar Menara Deli akan kembali ke induk perusahaan dalam bentuk dividen.

Lebih lanjut, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), H. Noer Indradjaja, menyatakan bahwa nilai transaksi tidak bersifat material, sehingga tidak perlu dijelaskan secara rinci.

Selain itu, ia menegaskan bahwa pelaksanaan divestasi aset tersebut akan transparan dan sesuai dengan ketentuan pasar modal karena transaksi tersebut tidak termasuk transaksi afiliasi atau transaksi yang mengandung benturan kepentingan, sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 42/POJK.04/2020.

Dana hasil penjualan yang dapat didistribusikan sebagai dividen juga menunjukkan minat manajemen untuk meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham. Hal ini dapat meningkatkan daya tarik saham APLN, terutama bagi investor yang berfokus pada keuntungan.

Tentang Perusahaan

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) merupakan pengembang properti terintegrasi dengan portofolio proyek yang mencakup sektor residensial, komersial, perhotelan, dan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar di Indonesia.

Hingga saat ini, Perseroan memiliki 41 entitas anak, 12 entitas kepemilikan tidak langsung, serta 2 perusahaan asosiasi, dengan sebaran proyek di Jakarta, Karawang, Bogor, Bandung, Bali, Batam, Medan, Balikpapan, dan Makassar.

Di segmen residensial, APLN mengembangkan sejumlah proyek perumahan dan kawasan terpadu, antara lain Parkland Podomoro Karawang, Podomoro Park Bandung, Bukit Podomoro Jakarta, Pakubuwono Spring, Podomoro Golf View, Podomoro City Deli Medan, Grand Taruma, serta Vimala Hills.

Sementara itu, pada segmen ritel, Perseroan mengelola sejumlah pusat perbelanjaan seperti Deli Park Medan, Emporium Pluit, Kuningan City, Baywalk Mall, Festival CityLink, dan Plaza Balikpapan.

Adapun di sektor perhotelan, portofolio APLN mencakup berbagai merek ternama, antara lain Pullman Grand Central, Hotel Indigo Bali Seminyak, Ibis Styles Grand Central, Pullman Vimala Hills, Amaris Thamrin City, Harris Festival CityLink, Pop! Hotel Festival CityLink, serta Hotel 101 Kelapa Gading.

Dalam sepekan terakhir, saham APLN terkoreksi 1,89%, tetapi masih mencatatkan kenaikan 6,06% dalam satu bulan dan 1,94% dalam tiga bulan terakhir. Secara tahunan, saham ini naik 11,70%, meskipun dalam jangka menengah dan panjang masih mengalami tekanan, dengan koreksi 30,67% dalam tiga tahun dan 48,00% dalam lima tahun.

Analisis Yes Invest

Dari tahun ke tahun, kenaikan pendapatan APLN sangat dipengaruhi oleh penjualan aset jumbonya seperti pusat pembelanjaan (mall) atau hotel. Dimana sebelumnya APLN menjual Mal Neo SOHO pada tahun 2023 dengan nilai Rp1,3 Triliun dimana total pendapatan APLN pada tahun tersebut ada di angka Rp4,6 triliun.

Artinya penjualan dari pusat pembelanjaan di tahun 2023 menyumbang porsi yang besar disekitar 28%. Adapun keuntungan kotor APLN dari penjualan pusat pembelanjaan Mal Neo Soho ini ada di sekitar Rp672 milliar rupiah.

Pada tahun sebelumnya di 2022, APLN melakukan penjualan atas Mal Central Park di angka Rp4 triliun dimana pendapatan APLN pada tahun 2022 ada di angka sekitar Rp8 triliun. Artinya porsi penjualan mall ini menyumbang sekitar 50% dari penjualan APLN di tahun 2022. Adapun keuntungan kotor APLN dari penjualan pusat pembelanjaan Central Park Mall ini ada di sekitar Rp3 triliun rupiah.

Selain itu, berdasarkan laporan keuangan tahun 2024, 73% (sekitar Rp4 triliun) pendapatan berasal dari penjualan aset properti seperti rumah, hotel, dan pusat perbelanjaan, hanya sekitar 27% (sekitar Rp1,5 triliun) pendapatan APLN berasal dari pendapatan berulang (sewa / reccuring income).

Ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan APLN saat ini datang dari penjualan properti miliknya. Dimana penjualan pusat pembelanjaan, hotel, dan rumah tinggal adalah faktor yang dirasa paling besar menyumbang porsi penjualan dibanding yang lain.

Adapun rumor salah satu proyek yang mungkin bisa akan dilanjutkan oleh APLN adalah proyek reklamasi pantai utara Jakarta pada pulau G yang saat ini dalam status zona Ambang dimana melalui peraturan Gurbernur (pergub) DKI Jakarta Nomor 31 tahun 2022, memungkinkan pengembangan lebih lanjut untuk keperluan pemukiman.

Strategi divestasi aset yang dilakukan oleh PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menunjukkan pendekatan pengelolaan bisnis berbasis asset recycling, di mana perusahaan membangun dan membesarkan aset properti hingga mencapai nilai optimal, lalu melepasnya untuk memperkuat likuiditas dan struktur keuangan.

Penjualan aset jumbo seperti Central Park Mall pada 2022 dan Neo Soho Mall pada 2023 menjadi contoh nyata bagaimana divestasi menjadi kontributor utama terhadap pendapatan dan laba perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan laporan keuangan, porsi pendapatan APLN masih didominasi oleh penjualan aset properti, sementara kontribusi pendapatan berulang dari sewa dan operasional relatif terbatas.

Kondisi ini menjelaskan mengapa divestasi menjadi strategi penting, terutama untuk menjaga arus kas, membayar kewajiban keuangan, serta memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan kegiatan operasional dan pengembangan proyek baru.

Dalam jangka pendek hingga menengah, langkah ini berdampak positif terhadap likuiditas dan kesehatan neraca, terlebih karena aset yang dilepas memiliki margin keuntungan yang besar.

Namun, strategi divestasi juga membawa implikasi jangka panjang. Penjualan pusat perbelanjaan dan hotel berarti berkurangnya sumber pendapatan berulang yang stabil, sehingga kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih bergantung pada transaksi satu kali (one-off income).

Jika tidak diimbangi dengan pembangunan aset baru yang mampu menghasilkan pendapatan berulang, maka volatilitas pendapatan dan tekanan terhadap valuasi perusahaan berpotensi meningkat.

Dalam konteks ini, divestasi idealnya dipandang sebagai strategi transisi, bukan tujuan akhir. Dana hasil penjualan aset diharapkan dapat dialokasikan untuk pengembangan proyek baru yang memiliki potensi pertumbuhan dan monetisasi jangka panjang.

Rumor kelanjutan proyek reklamasi Pulau G di Jakarta Utara, yang kini berada dalam zona ambang dan memiliki peluang pengembangan berdasarkan regulasi daerah, dapat menjadi contoh bagaimana APLN berupaya menggantikan aset lama yang dilepas dengan sumber pertumbuhan baru.

Secara keseluruhan, strategi divestasi APLN mencerminkan upaya menjaga fleksibilitas keuangan dan keberlangsungan bisnis di tengah tantangan industri properti. Dampak jangka panjang dari strategi ini akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengonversi hasil divestasi menjadi aset produktif baru yang mampu memperkuat pendapatan berulang dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham.

Melihat harga saham APLN secara tren, saat ini harga masih cenderung bergerak sideways namun per 3 Desember 2025, harga terlihat menembus EMA 200 dengan volume besar, yang menjadi indikasi bahwa jika harga mampu bergerak konsisten di atas area tersebut maka APLN berpotensi untuk mulai transisi ke arah tren bullish.

Adapun harga juga berpeluang melanjutkan kenaikan ke area resistance dari minor uptrend channel didukung indikator momentum stochastic yang masih mengarah ke atas mengindikasikan adanya momentum kenaikan lanjutan dalam jangka pendek. Resistance 123 berpeluang menjadi area resistance selanjutnya yang akan dicapai selama support di 95 mampu dipertahankan.(Yesaya Christofer/Yes Invest)