Dua Ekstremis ISIS Divonis Usai Rencanakan Serangan di Manchester
Dua ekstremis ISIS divonis bersalah di Inggris setelah MI5 menggagalkan rencana serangan bersenjata terhadap komunitas Yahudi di Manchester.

HALLONEWS.COM — Dua ekstremis yang terafiliasi dengan kelompok teroris ISIS dinyatakan bersalah karena merencanakan serangan mematikan terhadap komunitas Yahudi di Manchester, Inggris.
Kedua pelaku, Walid Saadaoui (38) dan Amar Hussein (52), dinyatakan bersalah oleh juri di Pengadilan Mahkota Preston, Selasa (23/12/2025). Mereka terbukti membeli senjata serbu, pistol, dan amunisi dalam upaya melancarkan serangan bersenjata dan bom bunuh diri terhadap warga Yahudi di wilayah Manchester.
Saadaoui bahkan menyebut korban dari komunitas Kristen sebagai “bonus” dalam pesan yang diungkap di persidangan.
Menurut Asisten Kepala Kepolisian Greater Manchester, Rob Potts, serangan yang direncanakan kedua pria itu bisa menjadi “aksi teror paling mematikan dalam sejarah Inggris.”
Rencana tersebut berhasil digagalkan setelah dinas intelijen MI5 dan kepolisian kontra-terorisme membongkar komunikasi, transaksi senjata, dan pertemuan rahasia keduanya.
“Konsekuensi dari serangan terhadap komunitas Yahudi di area padat Manchester akan sangat bencana,” ujar Potts seperti dilansir Sky News.
Penyidik menyebut, Walid Saadaoui, mantan pemilik restoran asal Tunisia, mengidolakan Abdelhamid Abaaoud, dalang serangan Paris 2015, dan bertekad meniru aksinya. Ia menjual rumah dan bisnisnya untuk membiayai pembelian empat senapan serbu AK-47, dua pistol, serta 1.200 butir amunisi senilai €5.000.
Target serangan mencakup sinagoge, sekolah, restoran kosher, dan area publik di Manchester, dengan skenario tembak-menembak beruntun seperti yang dilakukan ISIS di Eropa.
Rencana Saadaoui terungkap lewat operasi rahasia yang dijalankan MI5 dengan sandi “Operasi Catogenic.” Seorang petugas penyamar bernama Farouk berhasil mendekati Saadaoui lewat media sosial, berpura-pura sebagai simpatisan ISIS asal Belgia.
Dalam sejumlah pertemuan, Saadaoui mengungkapkan niatnya untuk “membunuh sebanyak mungkin orang Yahudi” dan “membalas apa yang terjadi di Gaza.” Ia juga menyebut akan mengenakan pakaian Yahudi agar bisa mendekati target dengan mudah.
Polisi menggagalkan aksinya setelah ia menerima kiriman senjata yang sudah dinonaktifkan. Rekaman bodycam menunjukkan Saadaoui ditangkap saat berlari di area parkir hotel Last Drop di Lancashire pada 8 Mei tahun lalu.
Peran Amar Hussein dan Adik Saadaoui
Saadaoui bersekongkol dengan Amar Hussein, mantan tentara Irak yang datang ke Inggris pada 2006 dan tinggal di Bolton. Hussein, yang pernah dihukum karena membawa senjata tajam, disebut sebagai eksekutor lapangan dan rekan perencana.
Keduanya juga mencoba merekrut dua orang lain untuk ikut serta dalam penembakan massal yang akan menargetkan polisi dan petugas medis.
Sementara itu, adik Saadaoui, Bilel Saddaoui (36), dinyatakan bersalah karena gagal mengungkapkan informasi soal rencana teror kakaknya. Ia menerima surat wasiat dan kunci brankas berisi uang untuk keluarganya, namun memilih diam.
Inspirasi Teror dan Radikalisasi Online
Jaksa penuntut Harpreet Sandhu KC menyebut, Saadaoui mulai aktif menyebarkan propaganda ISIS di Facebook sejak akhir 2022, menggunakan 10 akun palsu bergambar tokoh teroris Eropa.
Setelah pindah ke Wigan, ia mulai fokus mencari senjata api dan menyusun strategi serangan. “Ia berambisi meniru serangan Paris dan menumpahkan darah sebanyak mungkin,” kata Sandhu di persidangan.
Investigasi menunjukkan, ia juga bergabung dalam grup komunitas Yahudi Manchester di Facebook untuk memetakan target. Ia bahkan menyebut amunisi sebagai “biji burung” dan senjata sebagai “burung pipit emas” dalam pesan berkode kepada petugas penyamar.
Saat ditangkap, Hussein mengatakan kepada polisi, “Saya bangga menjadi teroris di sini. Tuhan yang mengutus kami.” Pihak kepolisian menggambarkan keduanya sebagai “fanatik berbahaya yang tak menyesal dan siap beraksi.”
“MI5 sejak awal menyadari bahwa Saadaoui adalah ancaman nyata yang siap menyerang. Kesigapan intelijen dan penyamaran berhasil menyelamatkan banyak nyawa,” ujar Potts.
Jaksa Frank Ferguson, kepala Divisi Kontra-Terorisme CPS, menambahkan bahwa operasi ini menjadi salah satu penyelidikan rahasia paling kompleks di wilayah Barat Laut Inggris.
Kepala eksekutif Community Security Trust, Mark Gardner, memuji kepolisian atas keberhasilan menggagalkan rencana “individu-individu sangat berbahaya.”
“Mendengar bahwa seseorang berencana menyerang dan membunuh sebanyak mungkin orang Yahudi sangat menakutkan. Ini bisa menjadi aksi terorisme terburuk dalam sejarah Inggris,” ujarnya.
Gardner juga menegaskan bahwa ideologi kebencian terhadap Yahudi telah berlangsung puluhan tahun, “Nama pelakunya berubah, tapi kebenciannya tetap sama.” (ren)
