Kronologi Ketegangan AS vs Venezuela, Trump Perintahkan Blokade Total dan Sita Tiga Kapal Tanker
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela mencapai titik paling berbahaya dalam satu dekade terakhir. Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade total terhadap ekspor minyak Venezuela dan menyita tiga kapal tanker dalam kurun waktu dua minggu.

HALLONEWS.COM-Hubungan Amerika Serikat (AS)–Venezuela telah lama bergejolak, terutama sejak nasionalisasi industri minyak oleh pemerintah Venezuela pada 1976 yang mengakhiri dominasi perusahaan-perusahaan energi Amerika.
Ketegangan meningkat tajam di era Hugo Chávez (1999–2013), ketika Caracas menasionalisasi aset ExxonMobil dan ConocoPhillips serta menuduh Washington berupaya menggulingkan pemerintahan sosialisnya.
Penerusnya, Nicolas Maduro, mewarisi hubungan yang rusak itu. AS menuduh pemerintahannya menggunakan perdagangan minyak untuk mendanai jaringan narkotika dan kelompok militan, sementara Venezuela menyebut kebijakan Washington sebagai bentuk “kolonialisme modern.”
Kronologi Eskalasi Ketegangan AS vs Venezuela
Pertama, 3 September 2025, serangan awal dan titik api konflik. Presiden Donald Trump mengumumkan serangan udara terhadap kapal pengangkut narkoba milik geng Venezuela, menewaskan 11 orang.
Beberapa pekan berikutnya, serangan lanjutan dilakukan terhadap kapal serupa di Karibia dan Pasifik. Caracas menilai tindakan itu melanggar hukum internasional.
Kedua, 26 Oktober 2025, kapal perang AS dekat Perairan Venezuela. Kapal perusak rudal berpemandu USS Gravely berlabuh di Trinidad dan Tobago, sekitar 400 kilometer dari pantai Venezuela. Kedatangan ini menjadi sinyal kuat bahwa AS bersiap untuk langkah militer lebih besar.
Ketiga, 16 November 2025, kapal induk AS tiba di Karibia. Kapal induk tercanggih AS, USS Gerald R. Ford, tiba di Perairan Karibia bersama kapal perang pendukung dan ribuan marinir. Langkah ini meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Maduro.
Keempat, 28 November 2025, peringatan ekspansi operasi militer. Trump memperingatkan bahwa operasi AS terhadap jaringan penyelundupan narkoba Venezuela akan diperluas ke wilayah lain di Karibia. Pernyataan ini memperkuat spekulasi akan adanya blokade laut.
Kelima, 11 Desember 2025, kapal tanker minyak pertama disita. Pasukan AS menyita kapal tanker minyak Skipper di lepas pantai Venezuela. Ini merupakan penyitaan pertama terhadap kapal pengangkut minyak Venezuela sejak dimulainya eskalasi konflik.
Keenam, 12 Desember 2025, sanksi baru untuk keluarga Maduro. AS menjatuhkan sanksi terhadap keluarga Nicolas Maduro, termasuk dua keponakannya yang dikenal sebagai narco nephews. Departemen Keuangan menuduh mereka terlibat dalam jaringan perdagangan kokain internasional.
Ketujuh, 16 Desember 2025, serangan militer dan korban jiwa. Pasukan AS melancarkan serangan militer terhadap tiga kapal di Samudra Pasifik yang diduga menyelundupkan narkoba.
Delapan orang tewas dalam operasi tersebut. Trump menyebutnya “langkah tegas melawan terorisme narkoba.”
Kedelapan, 17 Desember 2025, Trump umumkan blokade total. Trump secara resmi memerintahkan blokade total terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi.
“Rezim Venezuela telah kami tetapkan sebagai organisasi teroris asing. Karena pencurian aset kami dan perdagangan narkoba, saya memerintahkan BLOKADE TOTAL,” tulis Trump di Truth Social.
Langkah ini memicu protes keras dari Caracas yang menyebutnya sebagai “tindakan perang terselubung.”
Kesembilan, 20 Desember 2025, kapal tanker kedua disita. Militer AS menyita kapal berbendera Panama bernama Centuries di timur Barbados.
Kapal tersebut membawa 1,8 juta barel minyak Venezuela ke China, menggunakan identitas palsu Crag. Rekaman menunjukkan helikopter militer AS mendarat di dek kapal sebelum penyitaan dilakukan.
Kesepuluh, 21 Desember 2025, kapal ketiga dicegat. Pejabat AS mengonfirmasi bahwa kapal ketiga dicegat di lepas pantai Venezuela dalam operasi gabungan antara Garda Nasional dan Penjaga Pantai AS.
Trump menyebut operasi itu sebagai bukti “komitmen Amerika menumpas jaringan minyak ilegal global.”
Kesebelas, 22 Desember 2025, reaksi dunia. Pemerintah Venezuela mengecam keras penyitaan kapal tersebut dan menuduh Washington melakukan “pembajakan internasional.”
Rusia dan Tiongkok menyatakan dukungan penuh untuk Caracas dan menuding AS melakukan “neokolonialisme baru di Amerika Latin.”
Trump: Maduro Harus Tumbang
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kampanye tekanan maksimum terhadap Maduro.
“Saya tidak mengesampingkan intervensi militer. Maduro tahu apa yang saya inginkan,” tegasnya.
Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles bahkan menyebut Trump “akan terus meledakkan kapal sampai Maduro menyerah.”
Meski Gedung Putih mengklarifikasi, banyak analis menilai tujuan utama Washington adalah pergantian rezim di Caracas.
Karibia di Ambang Krisis
Dengan ribuan pasukan AS ditempatkan di wilayah Karibia dan tiga kapal disita, para pengamat memperingatkan bahwa situasi ini mengingatkan pada Krisis Rudal Kuba tahun 1962.
Trump menolak mengomentari kemungkinan perang. “Saya tidak membahasnya,” katanya singkat.
Namun bagi banyak analis, kebijakan blokade dan operasi penyitaan ini menunjukkan bahwa AS dan Venezuela kini berada di ambang konfrontasi terbuka. (ren)
