Home - Olahraga - Rencana Comeback Serena Williams dan Luka Lama Rasisme di Dunia Tenis

Rencana Comeback Serena Williams dan Luka Lama Rasisme di Dunia Tenis

Rumor comeback Serena Williams kembali mencuat usai ia mendaftar ke ITIA. Di balik itu, Serena membuka kisah rasisme dan perubahan besar di dunia tenis.

Minggu, 21 Desember 2025 - 18:43 WIB
Rencana Comeback Serena Williams dan Luka Lama Rasisme di Dunia Tenis
Serena Williams kala memenangi Grandslam Wimbeldon tahun 2015. (Dok SkySport)

HALLONEWS.COM – Serena Williams kembali jadi pusat perhatian dunia tenis. Bukan karena pukulan kerasnya di lapangan, melainkan karena keputusannya mendaftar ulang ke International Tennis Integrity Agency (ITIA)—badan pengujian doping tenis dunia.

Langkah daftar ulang ini kemudian memicu spekulasi luas soal kemungkinan comeback Serena Williams ke kompetisi profesional, meski sang legenda telah membantah rumor tersebut.

Juara 23 gelar Grand Slam itu terakhir tampil di US Open 2022, turnamen yang ia sebut sebagai momen “evolusi” alih-alih pensiun.

Kini, di usia 44 tahun, Serena kembali berbicara—bukan hanya soal tenis, tetapi tentang rasisme dan perjuangan perempuan kulit hitam dalam olahraga elit tersebut.

Dalam wawancara terbaru dengan majalah digital Porter dari Net-A-Porter yang dikutip HALLONEWS, Minggu (21/12/2025), Serena mengungkap bagaimana dunia tenis yang didominasi kulit putih membentuk ketahanan mentalnya.

“Tumbuh sebagai perempuan kulit hitam di tenis selalu disertai hal-hal negatif. Tapi saya tidak pernah membiarkannya menghalangi saya,” ujarnya.

Sepanjang kariernya, Serena mengaku kerap jadi sasaran stereotip rasial. Ia dan sang kakak, Venus Williams, sering mendapat komentar yang merendahkan—mulai dari tuduhan “terlalu maskulin” hingga bias media yang tidak dialami atlet lain. Namun, Serena menegaskan bahwa percakapan tentang perempuan kulit hitam di olahraga kini telah berubah.

“Tidak ada lagi gadis-gadis yang dipanggil dengan sebutan yang dulu saya terima. Saya senang generasi sekarang tak harus melewati hal yang sama,” tutur Serena.

Pernyataan ini menegaskan perannya bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga agen perubahan sosial dalam tenis modern.

Secara statistik, dominasi Serena memang sulit ditandingi. Ia memainkan 1.011 pertandingan WTA, menghadapi lawan dari generasi yang lahir antara 1966 hingga 2003.

Ketika akhirnya meninggalkan lapangan, transisi itu tidak mudah. “Tidak peduli seberapa siap Anda pensiun, itu tetap sulit,” akunya.

Kini Serena tengah menemukan jati diri baru—sebagai ibu, pengusaha, dan ikon budaya global.

Meski membantah rencana kembali ke lapangan, pendaftarannya ke ITIA seolah menjadi pengingat: Serena Williams belum sepenuhnya pergi dari dunia tenis.

Lebih dari sekadar rumor comeback, kisah Serena adalah tentang warisan, keberanian, dan perubahan—bahwa tenis, dan olahraga secara luas, kini jadi ruang yang sedikit lebih adil berkat langkah-langkah yang ia ambil sejak awal kariernya. (W-2)