Pemimpin Amerika Latin Kecam Tindakan AS terhadap Venezuela, Peringatkan Risiko Perang Regional
Gelombang kecaman datang dari berbagai pemimpin Amerika Latin terhadap langkah keras Amerika Serikat terhadap Venezuela. Mereka menilai kebijakan pemerintahan Donald Trump yang memblokir kapal tanker minyak dan menyebut pemerintahan Nicolás Maduro sebagai “organisasi teroris asing” dapat memicu krisis kemanusiaan dan ketegangan geopolitik di kawasan Karibia.

HALLONEWS.COM — Beberapa negara dan organisasi regional Amerika Latin mengecam langkah terbaru Washington terhadap Venezuela. Mereka menilai tindakan Amerika Serikat sebagai bentuk intervensi yang melanggar hukum internasional dan berpotensi mengguncang stabilitas kawasan.
Awal pekan ini, Presiden Donald Trump mengumumkan penetapan pemerintahan Venezuela sebagai “organisasi teroris asing,” sebuah langkah yang secara efektif mengkriminalisasi rezim Nicolás Maduro dalam sistem hukum AS.
Kebijakan itu disertai dengan pemblokiran kapal tanker minyak yang berlayar ke atau dari Venezuela, sebagai bagian dari strategi “blokade total” yang telah memicu ketegangan di Laut Karibia.
Kuba: “Tindakan Bermotif Politik dan Manipulatif”
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla menilai langkah AS sebagai “tindakan bermotif politik dan sewenang-wenang.”
“Penetapan pemerintah sah Venezuela sebagai organisasi teroris asing adalah manipulasi terorisme sebagai senjata politik. Ini melemahkan upaya internasional melawan terorisme yang sesungguhnya,” tulis Rodríguez di platform X, Sabtu (20/12/2025).
Rodríguez menambahkan bahwa Washington berusaha mengisolasi Venezuela secara internasional, meningkatkan tekanan ekonomi, dan menyiapkan landasan agresi militer. Ia menegaskan bahwa Kuba akan berdiri di sisi rakyat Venezuela dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai “barbarisme yang keji.”
Brasil: Lula Peringatkan Bencana Kemanusiaan
Nada serupa disampaikan oleh Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, yang memperingatkan bahwa intervensi bersenjata di Venezuela akan menjadi “bencana kemanusiaan” bagi seluruh kawasan.
Berbicara di KTT Kepala Negara Mercosur ke-67 di Montevideo, Lula menegaskan bahwa ancaman militer AS terhadap Venezuela merupakan preseden berbahaya bagi dunia.
“Batas-batas hukum internasional sedang diuji. Intervensi bersenjata di Venezuela akan menjadi bencana kemanusiaan bagi kawasan ini dan preseden berbahaya bagi dunia,” kata Lula di hadapan para pemimpin Amerika Selatan.
Ia juga menyinggung kehadiran militer asing di wilayah Karibia yang menurutnya “menghidupkan kembali bayang-bayang intervensi era Perang Dingin.”
Dalam konferensi pers usai KTT, Lula mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara langsung dengan Trump melalui sambungan telepon, menyarankan agar Washington memilih jalur diplomasi.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa negosiasi selalu lebih efektif dan lebih murah daripada konfrontasi militer,” ujarnya.
Solidaritas Regional vs Tekanan Washington
Kecaman dari Kuba dan Brasil menambah tekanan diplomatik terhadap AS di tengah meningkatnya kritik global atas kebijakan luar negeri Trump di Amerika Latin.
Beberapa negara anggota ALBA dan CELAC juga menyuarakan keprihatinan atas risiko pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa langkah AS menandai kembalinya politik intervensi klasik di belahan barat, dengan Venezuela sebagai titik panas baru antara blok progresif dan kekuatan konservatif pro-Washington.
“Amerika Latin tengah menghadapi pilihan sulit antara solidaritas regional dan tekanan geopolitik dari Washington,” kata analis hubungan internasional dari University of Buenos Aires, Sofia Martinez.
Tindakan AS terhadap Venezuela kini bukan hanya soal sanksi atau embargo minyak. Ia telah berkembang menjadi konflik diplomatik terbuka yang membelah kawasan — antara mereka yang menyerukan dialog dan mereka yang mendukung pendekatan keras terhadap Maduro.
Namun, seperti disampaikan Lula di KTT Mercosur: “Amerika Selatan tidak membutuhkan perang baru. Kami membutuhkan pembangunan, bukan peluru.” (ren)
