Home - Internasional - AS Gempur 70 Target ISIS di Suriah, Balas Kematian Tiga Warganya

AS Gempur 70 Target ISIS di Suriah, Balas Kematian Tiga Warganya

Amerika Serikat membalas dengan kekuatan penuh. Setelah tiga warganya tewas dalam serangan ISIS di gurun Suriah, Washington melancarkan operasi udara besar-besaran yang mengguncang jantung kelompok teroris itu, menandai salah satu serangan paling agresif AS dalam beberapa tahun terakhir.

Sabtu, 20 Desember 2025 - 23:59 WIB
AS Gempur 70 Target ISIS di Suriah, Balas Kematian Tiga Warganya
Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberi hormat saat jenazah tiga warga negara Amerika yang tewas dalam serangan ISIS di Suriah tiba di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware. Foto: Sky News for Hallonews.

HALLONEWS.COM-Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa operasi tersebut menargetkan “pejuang ISIS, infrastruktur, dan lokasi penyimpanan senjata” di berbagai wilayah Suriah. Seorang pejabat pertahanan menggambarkan aksi itu sebagai serangan “berskala besar”, menghantam sekitar 70 target yang berkaitan dengan kelompok ISIS di Suriah tengah.

“Ini bukan awal dari perang, ini adalah deklarasi pembalasan. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Trump, tidak akan pernah ragu dan tidak akan menyerah untuk membela rakyat kami,” ujar Hegseth dalam unggahan di media sosial seperti dilansir Sky News, Sabtu (20/12/2025).

Serangan ini merupakan respons atas tewasnya dua anggota Garda Nasional dan seorang penerjemah sipil asal AS dalam serangan di gurun Suriah pada 13 Desember. Tiga personel AS lainnya mengalami luka-luka, menurut juru bicara Pentagon di platform X.

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa pembunuhan brutal terhadap tiga warga AS itu “tidak akan dibiarkan tanpa balasan.” Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan pembalasan keras terhadap para pelaku.

“Karena pembunuhan keji yang dilakukan ISIS terhadap para patriot Amerika pemberani di Suriah, yang jiwa-jiwa mulianya telah saya sambut kembali ke tanah Amerika dalam upacara yang sangat bermartabat, dengan ini saya mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, terhadap para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” tulis Trump.

Trump menambahkan bahwa pemerintah Suriah mendukung langkah AS tersebut dan memperingatkan para pejuang ISIS bahwa mereka “akan dihantam lebih keras daripada sebelumnya.”

Seorang pejabat militer AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan operasi udara itu melibatkan jet tempur F-15 Eagle, pesawat serang darat A-10 Thunderbolt, serta helikopter AH-64 Apache. Ia menegaskan bahwa serangan tambahan “sangat mungkin” dilakukan dalam beberapa hari mendatang.

Serangan udara AS ini menjadi salah satu operasi terbesar terhadap ISIS dalam beberapa tahun terakhir, menandai perubahan pendekatan Washington di bawah pemerintahan Trump yang kembali menekankan kebijakan “pembalasan cepat dan tegas” terhadap ancaman terorisme di Timur Tengah.

Kronologi Serangan Balasan AS terhadap ISIS di Suriah

Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat di Suriah bermula dari insiden berdarah pada 13 Desember 2025. Saat itu, konvoi militer AS diserang di gurun timur Suriah, kawasan yang masih menjadi basis aktivitas ISIS.

Dalam serangan tersebut, tiga warga negara AS tewas, dua anggota Garda Nasional dan seorang penerjemah sipil. Tiga lainnya luka-luka. Insiden ini memicu reaksi keras dari Washington.

Beberapa hari kemudian, jenazah para korban dipulangkan ke AS dan disambut dalam upacara militer penuh kehormatan, dihadiri langsung oleh Presiden Donald Trump. Dalam pidatonya, Trump berjanji bahwa kematian para prajurit itu “tidak akan sia-sia” dan bahwa “ISIS akan membayar mahal atas kejahatan mereka.”

Janji itu ditepati pada 20 Desember, ketika militer AS melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap jaringan ISIS di Suriah tengah. Operasi tersebut menghantam 70 target strategis, mulai dari gudang senjata hingga pos komando ISIS.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut operasi itu bukan awal perang baru, melainkan aksi pembalasan tegas. “Amerika tidak memulai perang,” katanya, “tetapi kami akan selalu membalas jika rakyat kami diserang.”

Pentagon menegaskan bahwa operasi tambahan mungkin masih akan dilakukan, sebagai bagian dari upaya memastikan ISIS tidak lagi memiliki kemampuan menyerang pasukan AS di kawasan tersebut. (ren)