Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Jajanan di Kawasan Wisata Puncak Bogor Alami Kenaikan
Liburan Natal dan Tahun Baru di Puncak Bogor? Simak tips agar terhindar dari lonjakan harga kuliner seperti jagung bakar dan minuman hangat selama musim liburan.

HALLONEWS.COM – Hari raya Natal segera tiba. Tahun Baru 2026 akan kita masuki. Program liburan pun telah disusun keluarga yang hendak bepergian.
Bagi bapak dan ibu yang memilih kawasan wisata Puncak, Bogor sebagai tujuan saat Natal dan Tahun Baru, maka perlu hati-hati ketika memesan jagung bakar yang jadi ikon kuliner wajib saat liburan di Puncak, Bogor. Karena hidangan ini penuh dengan jebakan dan tak jarang pedagang nakal kerap menjualnya dengan harga yang mencekik leher.
Maka sebelum melakukan pemesanan, hendaknya wisatawan lebih dulu menanyakan harganya. Ini agar tidak terjebak, ketika hendak membayar.
Kisaran harga jagung bakar serta kuliner lain di kawasan puncak pada hari biasa relatif terjangkau. Namun memasuki libur Natal dan Tahun Baru, situasinya berubah.
Penelusuran HALLONEWS secara umum, kisaran harga jagung bakar menjelang Tahun Baru ini naik drastis dibanding hari biasa.
“Jagung bakar dengan olesan bumbu atau keju, lebih mahal. Untuk jagung bakar ukuran besar, harganya menyesuaikan permintaan,” kata seorang pedagang yang mengaku bernama Ajat (49), warga Tugu Utara, Cisarua, Bogor Sabtu 20 Desember 2025.
Menurut bapak tiga anak ini, perbedaan harga, karena dipengaruhi oleh lokasi. Penjual di titik ramai wisatawan atau dekat area parkir cenderung memasang harga lebih tinggi dibanding area yang lebih sepi.
“Kalau wisatawan sering menemukan perbedaan harga jagung bakar di beberapa titik Puncak, itu memang benar adanya,” katanya menegaskan.
Ajat bercerita, untuk di pinggir jalan utama, harga bisa lebih mahal karena tingginya permintaan dan kondisi macet yang membuat pembeli sulit mencari alternatif.
Sementara untuk area yang sedikit masuk ke dalam atau dekat permukiman, harga jagung bakar relatif lebih bersahabat.
“Wisatawan umumnya mempertimbangkan akses dan waktu tempuh, terutama saat lalu lintas padat. Jadi mahal juga, nggak pengaruh bagi mereka,” bebernya.
Untuk warung dengan minuman hangat dan segar, harganya juga selalu menyesuaikan kondisi arus lalulintas.
“Kalau padat lalulintas, minuman hangat yang menjadi pasangan yang tak terpisahkan dari jagung bakar, juga mengalami kenaikan. Malam Tahun Baru di Puncak, dari tahun ke tahun selalu ramai,” kata Mpok Imah.
Ia mengaku, di warungnya menyediakan bandrek, wedang jahe, kopi hitam, kopi susu, susu jahe dan cokelat panas, yang menjadi minuman favorit wisatawan.
“Tahun Baru, harga minuman hangat ikut naik. Ketika suhu semakin dingin di puncak, permintaan meningkat,” ujarnya.
Menu ringan lain seperti, mi instan rebus, pisang bakar, roti bakar dan gorengan hangat, juga ikut naik.
“Makanan ringan dan sederhana, namun pembelian berulang kali beli. Pokoknya di puncak sini, wisatawan lebih banyak nyari makan, karena suhunya dingin,” kata seorang pedagang gorengan.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kenaikan harga jagung bakar dan kuliner hangat di Puncak menjelang Natal dan Tahun Baru.
Di antaranya, lonjakan wisatawan yang signifikan, cuaca dingin meningkatkan permintaan dan jam operasional lebih panjang serta biaya logistik dan bahan baku.
Pedagang kuliner memanfaatkan momen Natal dan Tahun Baru, untuk mencari keuntungan lebih, demi menutup biaya operasional selama hari-hari biasa yang sepi.
Lonjakan harga ini, membuat sebagian wisatawan kaget. Tapi ada juga yang beranggapan, kenaikan harga masih wajar karena situasi liburan dan cuaca dingin.
Bahkan kondisi yang demikian, membuat sebagian wisatawan memilih membawa bekal sendiri.
“Kami beli minuman segar dan hangat, karena kebutuhan menghangatkan tubuh di tengah dinginnya alam di puncak,” kata seorang wisatawan.
Beberapa wisatawan mengelola keuangan mereka agar terkendali dengan situasi ini yakni, menanyakan harga sebelum membeli.
Bahkan banyak wisatawan membatasi jajan berulang dan memilih lokasi yang tidak terlalu ramai, agar harga tak dipermainkan penjual. (yopy)
