Home - Gaya Hidup - Aktor Inggris Ancam Mogok Kerja, Tolak Pemindaian AI di Lokasi Syuting

Aktor Inggris Ancam Mogok Kerja, Tolak Pemindaian AI di Lokasi Syuting

Aktor Inggris menunjukkan perlawanan terbuka terhadap ancaman kecerdasan buatan (AI) setelah mayoritas anggota serikat Equity menyatakan kesiapan mogok kerja demi menolak pemindaian digital di lokasi syuting—sebuah langkah yang berpotensi mengguncang industri film dan televisi Inggris.

Sabtu, 20 Desember 2025 - 7:00 WIB
Aktor Inggris Ancam Mogok Kerja, Tolak Pemindaian AI di Lokasi Syuting
Aktor Inggris anggota serikat Equity menyuarakan penolakan pemindaian digital di lokasi syuting terkait kekhawatiran penyalahgunaan AI. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM – Kekhawatiran terhadap penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) di industri hiburan kian memuncak. Mayoritas aktor anggota serikat pekerja Equity menyatakan kesiapan melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk penolakan terhadap praktik pemindaian digital di lokasi syuting.

Equity, serikat aktor terbesar di Inggris, pada Kamis (18/12/2025) mengumumkan hasil pemungutan suara indikatif terkait aksi industrial. Dengan tingkat partisipasi lebih dari 75 persen, lebih dari 99 persen anggota yang ikut memilih menyatakan siap menolak pemindaian digital yang diwajibkan dalam produksi film dan televisi.

Penolakan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa citra, suara, dan penampilan aktor dapat digunakan tanpa persetujuan eksplisit, termasuk untuk melatih sistem AI atau menciptakan replika digital yang berpotensi dieksploitasi secara komersial.

Sekretaris Jenderal Equity, Paul Fleming, menyebut isu AI sebagai tantangan paling menentukan bagi dunia kerja kreatif saat ini.

“Kecerdasan buatan adalah tantangan yang menentukan generasi. Untuk pertama kalinya dalam satu generasi, anggota Equity di industri film dan televisi menyatakan siap mengambil langkah mogok kerja,” kata Fleming saat mengumumkan hasil pemungutan suara di Kantor Pusat Equity, Covent Garden.

Menurut Fleming, sekitar 90 persen produksi film dan televisi di Inggris berjalan berdasarkan perjanjian yang saat ini dinegosiasikan, dengan lebih dari tiga perempat pekerjanya merupakan anggota serikat. Kondisi ini, katanya, menunjukkan potensi gangguan produksi yang signifikan apabila tuntutan perlindungan hak tidak dipenuhi.

Equity menuntut standar industri yang lebih kuat, mencakup transparansi penggunaan data, persetujuan yang jelas, serta remunerasi yang adil atas pemanfaatan replika digital dan data performa aktor oleh teknologi AI.

Sikap keras ini juga dipengaruhi oleh aksi mogok besar di Amerika Serikat pada 2023, ketika serikat SAG-AFTRA menghentikan produksi Hollywood selama empat bulan, salah satunya demi menuntut perlindungan terhadap penggunaan AI.

Meski dukungan terhadap aksi mogok sangat tinggi, Fleming menegaskan bahwa langkah tersebut belum bersifat final.

“Mogok kerja bukanlah keniscayaan. Itu adalah pilihan yang berada di tangan para produser,” ujarnya.

Negosiasi Buntu, Ancaman Mogok Kian Nyata

Pemungutan suara ini digelar setelah 18 bulan perundingan antara Equity dan Producers Alliance for Cinema and Television (Pact), organisasi yang mewakili mayoritas perusahaan produksi film dan televisi di Inggris.

Meski kedua pihak mengklaim telah mencapai kemajuan dalam pembahasan perlindungan penggunaan replika digital dan penampil sintetis, isu krusial terkait pemanfaatan data aktor—seperti rekaman pertunjukan dan hasil pemindaian digital—untuk melatih sistem AI masih menemui jalan buntu.

“Bola sekarang ada di tangan Pact,” ujar Fleming, seraya memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan AI yang lebih kuat, Equity akan melangkah ke pemungutan suara resmi untuk mogok kerja.

Dalam wawancara dengan Sky News, Fleming menyebut sistem saat ini sebagai “mesin sosis AI raksasa”, di mana data suara, rupa, dan performa aktor diproses massal untuk kepentingan komersial, terutama oleh layanan streaming asal Amerika Serikat.

“Kami tidak ingin menghentikan AI. Yang kami inginkan adalah mengaturnya,” tegasnya.

Suara Aktor: AI Ancam Eksistensi Kreativitas

Aktor pemenang Laurence Olivier Award, Bertie Carvel, mengungkapkan bahwa ia memilih mendukung aksi tersebut. Ia menggambarkan proses pemindaian digital sebagai pengalaman yang tidak nyaman dan sarat tekanan.

“Dalam hitungan detik, ribuan gambar diambil untuk menciptakan replika 3D diri Anda. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada replika itu setelahnya?” ujarnya.

Carvel menilai banyak aktor terpaksa menerima pemindaian digital karena ancaman kehilangan pekerjaan jika menolak.

Sementara itu, aktor Riz Ahmed juga menyuarakan keprihatinannya terhadap dampak AI terhadap dunia seni dan kreativitas.

“AI bisa membuat produk, tetapi tidak bisa menciptakan kreativitas. Tanpa perjuangan dan hambatan, sebuah karya kehilangan makna,” katanya. (ren)