Home - Nusantara - Kemdiktisaintek Lakukan Respons Cepat ke Wilayah Bencana Sumatra

Kemdiktisaintek Lakukan Respons Cepat ke Wilayah Bencana Sumatra

Kemdiktisaintek melakukan respons cepat penanganan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dengan bantuan pendidikan, kesehatan, dan pemulihan perguruan tinggi terdampak.

Jumat, 19 Desember 2025 - 18:42 WIB
Kemdiktisaintek Lakukan Respons Cepat ke Wilayah Bencana Sumatra
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto menghadiri apat membahas percepatan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana di Sumatra, Rabu (17/12/2025). (Dok Kemdiktisaintek)

HALLONEWS.COM – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menghadiri Rapat Tingkat Menteri Penanganan Pascabencana yang dipimpin oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Rabu (17/12/2025).

Rapat tersebut membahas percepatan penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Dalam rapat tersebut, Mendiktisaintek menyampaikan laporan terkait dampak bencana terhadap sektor pendidikan tinggi. Berdasarkan pendataan sementara, tercatat sebanyak 64 perguruan tinggi terdampak, terdiri atas 35 perguruan tinggi di Aceh, 14 di Sumatra Utara, dan 15 di Sumatra Barat. Proses pendataan masih terus berlangsung untuk memperbarui kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Pada tahap penanggulangan darurat, Kemdiktisaintek melaksanakan program respons cepat yang mencakup distribusi logistik, layanan kesehatan darurat, serta pemenuhan kebutuhan dasar.

“Sejumlah program kementerian yang tersebar di berbagai lokasi kami alihkan dan fokuskan ke tiga provinsi terdampak,” ujar Menteri Brian.

Dukungan Kemdiktisaintek disalurkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana, penggalangan dana bantuan langsung, serta bantuan biaya hidup bagi mahasiswa dan dosen terdampak. Total dukungan mencapai Rp159 miliar, di luar program mandiri perguruan tinggi. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus memastikan respons cepat di wilayah terdampak.

Melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan, Kemdiktisaintek juga mendukung operasional posko layanan kesehatan melalui Program PKM Pengiriman Tenaga Kesehatan dan NAMED (penguatan layanan tenaga medis dan tenaga kesehatan).

Program ini melibatkan 1.104 personel, terdiri atas 692 tenaga medis, yakni 344 tenaga medis profesional dan 348 mahasiswa kedokteran/PPDS/residen/koas; 247 tenaga kesehatan (perawat, bidan, apoteker, psikolog, ahli gizi, paramedis, dan tenaga kesehatan masyarakat); serta 165 relawan pendukung. Penugasan dilakukan per termin dua minggu sesuai rekomendasi BNPB.

Dalam aspek keberlanjutan studi, Kemdiktisaintek berkoordinasi dengan perguruan tinggi dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menyiapkan pembebasan biaya pendidikan selama satu semester hingga satu tahun, bergantung pada tingkat dampak yang dialami mahasiswa.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga mengkaji pemberian bantuan biaya hidup bagi mahasiswa terdampak dengan mengacu pada standar Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, guna memastikan mahasiswa tetap dapat melanjutkan pendidikan di tengah situasi darurat serta memperkuat peran pendidikan tinggi dalam pemulihan sosial.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat merupakan prioritas nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah, kata Pratikno, bekerja lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat pemulihan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta penyederhanaan regulasi agar tidak menghambat upaya penanganan kemanusiaan. (GAA)