Suku Bunga Inggris Turun ke 3,75%, Kabar Baik bagi Kreditur tapi Sinyal Ekonomi Melambat
Bank of England resmi memangkas suku bunga acuannya ke level 3,75 persen, terendah dalam hampir tiga tahun. Keputusan ini meringankan beban peminjam, namun sekaligus memunculkan sinyal kuat perlambatan ekonomi Inggris.

HALLONEWS.COM-Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen, turun dari sebelumnya 4 persen. Ini menjadi pertama kalinya suku bunga Inggris berada di bawah 4 persen sejak Januari 2023, menandai perubahan arah kebijakan moneter setelah periode pengetatan panjang.
Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi mayoritas ekonom dan pelaku pasar. Inflasi Inggris tercatat lebih rendah dari perkiraan di level 3,2 persen, pertumbuhan upah melambat, dan aktivitas ekonomi menunjukkan tanda-tanda pelemahan, kombinasi yang mendorong bank sentral mengambil langkah pelonggaran.
Suku bunga acuan BoE menjadi patokan bagi bank dan lembaga keuangan dalam menentukan bunga kredit. Karena itu, pemangkasan ini disambut positif oleh peminjam, khususnya pemilik hipotek, pengguna kartu kredit, dan pelaku usaha yang bergantung pada pinjaman. Sebaliknya, bagi penabung, imbal hasil simpanan diperkirakan ikut menurun.
Gubernur Bank of England Andrew Bailey menyatakan bahwa Inggris telah melewati puncak inflasi terbaru dan tekanan harga terus menurun. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan suku bunga masih berada di jalur penurunan bertahap, meski langkah selanjutnya akan semakin sulit diprediksi.
“Kami masih melihat suku bunga bergerak turun secara gradual. Namun, setiap penurunan membuat ruang manuver ke depan menjadi semakin sempit,” ujar Bailey seperti dikutip Sky News, Kamis (18/12/2025).
Dalam rapat Komite Kebijakan Moneter (MPC), Bailey menjadi satu-satunya anggota yang mengubah sikap dari bulan sebelumnya, dari mempertahankan suku bunga menjadi mendukung pemangkasan. Keputusannya memiringkan suara MPC untuk menurunkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase.
Respons pasar relatif tenang. Poundsterling stabil di kisaran 1,34 dolar AS dan menguat tipis terhadap euro. Indeks FTSE 100 di Bursa London nyaris tak bergerak, mencerminkan bahwa pelaku pasar telah mengantisipasi keputusan tersebut.
Meski disambut sebagai “kabar gembira Natal” bagi pemilik hipotek, pemangkasan ini juga memicu pertanyaan lebih dalam. Bank of England memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Inggris mendekati nol pada kuartal terakhir tahun ini, sementara pengangguran berpotensi meningkat.
Di sisi lain, BoE memperkirakan kebijakan fiskal pemerintah—termasuk penurunan tagihan energi dan pembekuan bea bahan bakar—akan memangkas inflasi hingga setengah poin persentase tahun depan. Dengan demikian, target inflasi 2 persen diperkirakan dapat tercapai lebih cepat dari proyeksi sebelumnya.
Namun, kekhawatiran struktural tetap membayangi. Sejumlah ekonom menilai inflasi yang lebih rendah bisa jadi bukan hanya hasil kebijakan yang efektif, melainkan cerminan dari melemahnya daya beli dan aktivitas ekonomi. Risiko eksternal seperti potensi perang dagang global dan pergeseran arus perdagangan juga dinilai dapat menekan produsen Eropa, termasuk Inggris.
Dengan demikian, pemangkasan suku bunga ini menjadi pisau bermata dua: memberi napas bagi rumah tangga dan dunia usaha, tetapi sekaligus mengonfirmasi bahwa ekonomi Inggris sedang memasuki fase yang lebih rapuh. (ren)
