Home - Internasional - Mereka Tak Berlari dari Bahaya: Kisah Boris dan Sofia di Pantai Bondi

Mereka Tak Berlari dari Bahaya: Kisah Boris dan Sofia di Pantai Bondi

Saat kepanikan membuat orang-orang berlari menyelamatkan diri, Boris dan Sofia Gurman justru melangkah ke arah bahaya, sebuah pilihan sunyi yang mengakhiri hidup mereka, namun menyelamatkan martabat kemanusiaan.

Rabu, 17 Desember 2025 - 14:24 WIB
Mereka Tak Berlari dari Bahaya: Kisah Boris dan Sofia di Pantai Bondi
Pasangan Yahudi-Rusia, Boris dan Sofia Gurman yang telah menetap di Bondi selama bertahun-tahun, menjadi korban meninggal dalam kasus penembakan di Pantai Bondi, Sydney, Australia, Minggu (14/12/2025) malam. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Pantai Bondi pada Minggu (14/12/2025) itu berubah dari ruang rekreasi menjadi medan ketakutan. Dentuman senjata memecah sore, orang-orang berhamburan, jeritan bercampur kepanikan. Di tengah kekacauan itu, Boris dan Sofia Gurman tidak bersembunyi. Mereka berdiri.

Rekaman dashcam yang kemudian diverifikasi media memperlihatkan Boris, 69 tahun, berusaha merebut senjata laras panjang dari seorang penyerang. Ia mengenakan kemeja dan celana pendek berwarna lembut, pakaian yang tak pernah dirancang untuk menghadapi kekerasan. Namun langkahnya tegas. Sofia, 61 tahun, berada di dekatnya.

“Dia tidak lari,” kata Jenny, pemilik dashcam, dengan suara bergetar. “Dia justru berlari ke arah bahaya.”

Cinta yang Tidak Mundur

Boris dan Sofia adalah pasangan Yahudi-Rusia yang telah menetap di Bondi selama bertahun-tahun. Mereka menikah selama 34 tahun dan tengah menanti ulang tahun pernikahan ke-35 bulan depan. Esok hari setelah tragedi, Sofia seharusnya merayakan ulang tahunnya yang ke-62.

Dalam halaman penggalangan dana yang dibuat sahabat-sahabat mereka, pasangan ini digambarkan sebagai pribadi yang tenang, murah hati, dan selalu hadir untuk orang lain. “Mereka adalah orang-orang yang secara naluriah memilih membantu,” tulis pernyataan itu. “Bahkan ketika risikonya begitu besar.”

Pilihan Boris untuk menghadapi pelaku bukanlah keberanian yang direncanakan. Itu refleks kemanusiaan, sebuah respons spontan yang lahir dari empati. Sofia tidak menjauh. Ia tetap di sisi suaminya.

Detik-detik yang Mengubah Segalanya

Video drone pascakejadian menunjukkan Boris dan Sofia terbaring tak bergerak di dekat sebuah mobil, tak jauh dari jembatan tempat aparat akhirnya menghentikan para pelaku. Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa mereka termasuk korban pertama yang tewas dalam serangan tersebut.

Kepolisian New South Wales menyebutkan, hari itu dua penyerang menembaki kerumunan. Aparat terlibat baku tembak; satu pelaku tewas di lokasi, sementara pelaku lain, putranya mengalami luka kritis. Dua petugas polisi juga terluka.

Warisan yang Tertinggal

Di antara angka korban dan pembaruan resmi, kisah Boris dan Sofia menyisakan jeda hening. Mereka bukan petugas, bukan relawan terlatih. Mereka adalah pasangan yang sedang menjalani hari biasa, yang pada satu momen memilih untuk melindungi orang lain.

Seorang sahabat menuliskan: “Kepergian mereka meninggalkan kekosongan yang tak tergantikan. Tapi kami bangga atas keberanian mereka, atas kemanusiaan mereka.”

Di Pantai Bondi, ketakutan telah berlalu. Namun cerita tentang dua orang yang tak berlari dari bahaya akan bertahan lebih lama dari bunyi tembakan, sebagai pengingat bahwa di saat tergelap, kemanusiaan masih bisa berdiri. (ren)