Home - Teknologi & Digital - Dominasi Elon Musk di Langit: Starlink Kuasai Dunia, Regulator Tak Berdaya

Dominasi Elon Musk di Langit: Starlink Kuasai Dunia, Regulator Tak Berdaya

Starlink milik Elon Musk kini mendominasi orbit bumi dengan ribuan satelit, memberi internet ke seluruh dunia, termasuk wilayah konflik. Namun, kesuksesan ini menantang hukum internasional dan menempatkan kekuasaan global di tangan satu perusahaan.

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:20 WIB
Dominasi Elon Musk di Langit: Starlink Kuasai Dunia, Regulator Tak Berdaya
Elon Musk pemilik Starlink. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM – Langit bumi kini lebih padat dari sebelumnya. Dalam enam tahun terakhir, perusahaan milik Elon Musk, SpaceX, telah mengubah orbit rendah bumi menjadi jaringan komunikasi raksasa, menciptakan revolusi digital sekaligus kekacauan regulasi global.

Sebelum era Starlink dimulai, sejak 1957 hingga 2019, dunia rata-rata hanya menempatkan satu satelit baru setiap lima hari. Namun, sejak peluncuran perdana Starlink pada Mei 2019, kini satu satelit baru mengudara setiap lima jam.

Konstelasi ribuan satelit ini menopang ambisi Musk menyediakan internet cepat dan murah ke seluruh dunia, dari gurun hingga wilayah perang. Tapi di balik kemudahan akses digital itu, tumbuh kekhawatiran besar: satu perusahaan privat kini memiliki kekuasaan komunikasi global yang bahkan negara-negara pun sulit mengontrolnya.

Internet Tanpa Batas, tapi Tanpa Pengawasan

Seperti dilansir Sky News, sekitar 21 persen pengguna Starlink mengakses layanan di negara-negara di mana perusahaan ini tidak memiliki izin operasi, seperti Sudan, Myanmar, dan Irak. Dalam beberapa kasus, teknologi ini bahkan digunakan oleh kelompok bersenjata.

Di Sudan, misalnya, milisi Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang dituduh melakukan kejahatan perang, terekam menggunakan terminal Starlink untuk berkomunikasi di medan tempur. Video di TikTok memperlihatkan prajurit RSF mengendarai truk dengan perangkat Starlink di kap mesinnya, simbol kekuasaan digital dalam konflik brutal.

“Starlink memberi mereka kemampuan komunikasi yang jauh lebih canggih dibandingkan pasukan lain,” ujar Emadeddin Badi, analis di Global Initiative Against Transnational Organized Crime seperti dikutip Sky News, Selasa (16/12/2025).

Pakar keamanan ruang angkasa Victoria Samson menyebut fenomena ini sebagai “revolusi tanpa kendali.” “Saya dulu menganggap seribu satelit saja sudah mustahil. Sekarang kita bicara puluhan ribu,” katanya.

Saat ini, lebih dari 9.000 satelit aktif mengorbit Bumi, dan SpaceX berencana menaikkannya menjadi 42.000 unit.

Starlink, Penyelamat dan Ancaman

Tidak bisa dipungkiri, di banyak wilayah bencana dan perang, Starlink telah menjadi penyelamat komunikasi. Di Jamaika, setelah badai Melissa menghancurkan infrastruktur telekomunikasi, jaringan internet hanya pulih berkat sumbangan 600 terminal Starlink dari SpaceX.

“Starlink adalah jaringan yang membawa masuk makanan, obat, dan harapan,” kata Dr. Alison Thompson, relawan kemanusiaan dari Third Wave Volunteers.

Namun, di sisi lain, penyalahgunaan teknologi ini meluas. Dari Sudan hingga Iran, Starlink digunakan bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa, tetapi juga menyebarkan propaganda, mengkoordinasikan perang, dan menghindari sensor pemerintah.

“SpaceX dan Starlink adalah satu-satunya operator satelit yang menantang regulator secara terang-terangan,” ujar Alexandre Vallet, pejabat di International Telecommunication Union (ITU), lembaga PBB yang mengatur frekuensi komunikasi global.

Praktik Starlink menyediakan layanan tanpa lisensi telah memicu protes dari pemerintah India dan Afrika Selatan. Pakar telekomunikasi Sascha Meinrath menilai, Musk menjalankan “strategi act first, apologise later,” “lakukan dulu, baru minta maaf.”

Pada Oktober lalu, setelah tekanan Kongres AS, SpaceX akhirnya menonaktifkan 2.500 terminal di Myanmar yang digunakan untuk kejahatan terorganisir, namun langkah itu baru diambil berbulan-bulan setelah kasusnya terungkap di media.

Peluncuran Roket Termurah di Dunia

Dominasi Starlink tak lepas dari keberhasilan SpaceX menurunkan biaya peluncuran satelit hingga sepertiga dari kompetitor. Jika roket Atlas V milik United Launch Alliance menelan biaya sekitar 8.100 dolar AS per kilogram, Falcon 9 hanya membutuhkan sekitar 2.700 dolar AS per kilogram.

Rahasia efisiensinya terletak pada teknologi roket dapat digunakan ulang, menjadikan SpaceX satu-satunya perusahaan di dunia yang mampu mendaratkan dan meluncurkan kembali roket pendorong secara rutin.

Kini, SpaceX meluncurkan lebih banyak roket daripada gabungan seluruh negara lain.
“Ini membuka babak baru dalam sejarah penerbangan luar angkasa,” ujar Samson.

Ambisi Mars dan Dunia Tanpa Batas

Bagi Elon Musk, Starlink dan SpaceX bukan sekadar bisnis, melainkan batu loncatan menuju mimpi kolonisasi Mars. Roket raksasa Starship dirancang untuk mengangkut manusia dan logistik ke planet merah. Penerbangan tanpa awak pertamanya dijadwalkan akhir tahun depan.

“Ini bukan perjalanan wisata. Ini tentang menjadikan kehidupan multi-planet,” kata Musk dalam wawancara dengan Fox News.

Namun, para ahli memperingatkan, ketika ambisi Musk menembus batas planet, aturan hukum internasional tertinggal jauh di belakang.

“Regulator kewalahan. Dunia butuh kerangka baru untuk menyeimbangkan inovasi dan tanggung jawab,” ujar Samson.

Untuk saat ini, Elon Musk terus melaju, menentukan sendiri aturan main di langit Bumi dan mungkin segera, di langit Mars. (ren)