Harga CPO Ambruk ke Titik Terendah! Stok Melimpah dan Tekanan Global Jadi Biang Kerok
Harga CPO turun ke level terendah enam bulan di MYR 4.018 per ton. Tekanan stok, produksi Malaysia, dan pelemahan global membayangi prospek sawit.

HALLONEWS.COM – Harga minyak sawit mentah (CPO) terus melemah dan kini menyentuh titik terendah dalam enam bulan terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia untuk pengiriman Desember ditutup pada MYR 4.018 per ton pada Jumat (12/12/2025), turun 1,1 persen dalam sehari.
Harga tersebut menjadi yang terendah sejak 25 November 2025, dan bila tanggal tersebut dikesampingkan, merupakan posisi terendah sejak awal Juli 2025.
Penurunan harga CPO telah berlangsung sejak pertengahan Oktober 2025. Meski sempat terjadi rebound pada akhir November hingga awal Desember, harga gagal menembus level psikologis 4.200, sehingga penguatan tidak berlanjut.
Sejumlah faktor memicu sentimen negatif, mulai dari pelemahan harga minyak nabati global, penguatan dolar AS, hingga kenaikan produksi CPO Malaysia yang diperkirakan menembus rekor 20 juta ton tahun ini, yang meningkatkan tekanan akibat pasokan ekspor yang melimpah.
Di sisi lain, Indonesia menunda sekitar 310.000 ton pengiriman CPO setara 12 persen dari ekspor bulanan normal karena pelaku pasar menunggu penurunan pajak ekspor Desember. Volume yang tertunda tersebut diperkirakan kembali masuk pasar bulan ini, sehingga meningkatkan tekanan suplai.
Pemerintah Indonesia juga menurunkan Harga Referensi (HR) CPO sebesar 3,9 persen menjadi US$926,14 per ton, disertai pemangkasan Bea Keluar dari US$124 menjadi US$74 per ton, serta penetapan Pungutan Ekspor sebesar 10 persen dari HR.
Penyesuaian ini menurunkan biaya ekspor dan meningkatkan daya saing CPO Indonesia dibanding Malaysia di tengah pelemahan harga global.
Sementara Indonesia diuntungkan oleh beban pajak ekspor yang lebih rendah, Malaysia justru menghadapi kenaikan stok dan tekanan biaya inventori.
Negara tersebut berharap permintaan ekspor, terutama dari China menjelang perayaan Imlek, segera membaik. Namun, jika pemulihan permintaan berlangsung lambat, stok Malaysia berpeluang mendekati atau bahkan melampaui 3 juta ton, yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga. (Yesaya Christofer, CEO Yes Invest)
