Darah di Pantai Bondi: Saat Hanukkah Berubah Jadi Duka Nasional
Lilin-lilin Hanukkah baru saja dinyalakan ketika langit Bondi berubah merah. Dalam sekejap, lagu-lagu sukacita berubah menjadi jeritan dan doa yang terputus oleh suara peluru. Di tengah kepanikan itu, seorang ayah lima anak, seorang pria berkaus putih, dan ratusan warga biasa menjadi saksi bagaimana cahaya iman diuji oleh kegelapan kebencian.

HALLONEWS.COM-Malam itu, Minggu (14/12/2025) langit Sydney memantulkan cahaya lilin Hanukkah yang berkelap-kelip di sepanjang Pantai Bondi. Suara tawa anak-anak, doa, dan musik tradisional Yahudi berpadu dengan desiran ombak. Namun dalam hitungan detik, perayaan sukacita itu berubah menjadi jeritan, peluru, dan kepanikan.
Dua pria, ayah dan anak, menenteng senjata api dan menembaki kerumunan. Dalam kekacauan itu, 16 nyawa melayang. Di antara mereka, seorang anak berusia sepuluh tahun yang belum sempat meniup lilin Hanukkah keduanya malam itu.
Rabbi Eli Schlanger, 41 tahun, dikenal di komunitas Yahudi Bondi sebagai sosok yang murah senyum. Ayah lima anak itu bukan hanya seorang pemimpin spiritual, tapi juga teman bagi banyak orang yang kehilangan harapan.
Malam itu, ia datang bukan sebagai tokoh agama, melainkan sebagai ayah yang ingin menunjukkan pada anak-anaknya makna sederhana dari cahaya Hanukkah: harapan di tengah kegelapan.
Namun takdir berkata lain. Ia tewas di tempat, tertembak saat berusaha menenangkan jemaat yang panik.
Sepupunya, Rabbi Zalman Lewis, berkata dengan suara bergetar kepada Jewish News: “Eli datang untuk menyebarkan cahaya, dan kini ia menjadi cahaya itu sendiri.”
Di rumahnya, istri Rabbi Eli, Chayala, masih menyimpan lilin Hanukkah yang belum sempat dinyalakan. Di ruang tamu, ada kereta bayi berwarna biru, hadiah untuk anak bungsu mereka yang baru berusia dua bulan.
Pahlawan Tanpa Seragam
Sementara peluru berseliweran, seorang pria berkaus putih berlari tanpa ragu ke arah pelaku. Ia bukan polisi, bukan tentara. Namanya Ahmed al Ahmed, 43 tahun, pemilik toko buah dari Sutherland Shire. Ia menyaksikan pelaku menembaki warga yang bersembunyi di balik mobil, lalu menerjang dari belakang dan merebut senapan sang penyerang.
Ia tertembak di lengan dan tangan, namun tindakannya menyelamatkan puluhan nyawa.
Rekaman video saat Khoury menumbangkan pelaku viral dalam hitungan menit. Perdana Menteri New South Wales Chris Minns menyebutnya sebagai “pahlawan sejati yang membuat Australia bangga.”
“Ada banyak orang yang hidup malam itu karena keberanian satu orang,” ujarnya dengan mata berkaca.
Keesokan harinya, pantai yang biasanya riuh dengan peselancar dan turis berubah sunyi. Tas-tas belanja, sandal, dan kotak makanan tercecer di pasir — jejak panik mereka yang melarikan diri dari maut. Warga Bondi datang membawa bunga, menyalakan lilin, dan berpelukan dalam diam.
Bagi banyak orang, pantai Bondi bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah simbol keterbukaan, pertemuan budaya, dan kebersamaan. Kini, tempat itu menjadi monumen duka, tempat di mana kebencian menodai ruang yang mestinya penuh cahaya.
Cahaya yang Tak Padam
Perdana Menteri Anthony Albanese berdiri di tengah lilin-lilin Hanukkah di Bondi pada malam berikutnya. Suaranya berat saat berkata: “Mereka menyerang karena kebencian. Tapi malam ini, kita menyalakan lilin yang sama, dan mereka tidak akan bisa memadamkannya.”
Pemerintah berjanji memperketat kepemilikan senjata api dan meningkatkan perlindungan terhadap komunitas Yahudi. Namun bagi warga, luka yang ditinggalkan tak akan mudah sembuh.
Di antara mereka, seorang anak perempuan kecil berdiri memegang lilin, wajahnya masih diselimuti trauma. Ia kehilangan ayahnya malam itu, tapi dalam genggaman tangannya, nyala kecil itu tetap bertahan.
Tragedi di Pantai Bondi bukan sekadar kisah tentang kekerasan. Ia adalah kisah tentang keberanian, kehilangan, dan kemanusiaan yang melawan kebencian.
Tentang seorang rabi yang datang membawa cahaya, dan seorang warga biasa yang berlari menantang maut demi menyelamatkan sesama.
Hanukkah tahun ini menjadi saksi bahwa bahkan dalam malam tergelap, nyala kecil masih bisa menembus kegelapan. (ren)
