Hamas Konfirmasi Kematian Komandan Senior Raed Saad, Tuduh Israel Langgar Gencatan Senjata
Ketegangan di Gaza kembali memuncak setelah Hamas mengonfirmasi tewasnya komandan senior Raed Saad dalam serangan udara Israel. Pembunuhan ini disebut sebagai pelanggaran paling serius terhadap gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat, sekaligus menandai babak baru ketidakpastian dalam proses perdamaian Timur Tengah.

HALLONEWS.COM – Hamas mengonfirmasi pembunuhan Raed Saad, salah satu komandan militernya yang paling berpengaruh, dalam serangan Israel di Gaza pada Sabtu (13/12/2025) malam.
Militer Israel mengklaim telah menewaskan Saad di dekat Kota Gaza, dengan sedikitnya 25 orang terluka akibat serangan tersebut.
Dalam pernyataan video, Khalil al-Hayya, kepala Hamas di Gaza, menuduh Israel melanggar gencatan senjata Oktober yang masih berlaku.
“Menyusul pelanggaran berkelanjutan Israel, termasuk pembunuhan terhadap Komandan Raed Saad, kami menyerukan kepada para mediator, khususnya pemerintahan AS dan Presiden Donald Trump sebagai penjamin utama perjanjian, untuk memaksa pendudukan menghormati dan melaksanakan kesepakatan gencatan senjata,” ujar al-Hayya, dikutip Al Jazeera, Minggu (14/12/2025).
Sejak kesepakatan gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, Israel telah melancarkan hampir 800 serangan di Gaza, menewaskan sedikitnya 386 orang, menurut otoritas setempat. Selain serangan udara, Israel juga dituduh menahan bantuan kemanusiaan, yang membuat ratusan ribu warga Gaza menderita setelah Badai Byron merusak ribuan tempat penampungan.
Majelis Umum PBB pekan lalu bahkan menyetujui resolusi yang menuntut Israel membuka akses kemanusiaan tanpa batasan, menghentikan serangan terhadap fasilitas PBB, dan mematuhi hukum internasional sesuai statusnya sebagai kekuatan pendudukan.
Khalil al-Hayya menegaskan bahwa prioritas Hamas adalah memastikan fase pertama gencatan senjata berjalan penuh, termasuk rehabilitasi rumah sakit dan infrastruktur dasar.
Ia juga menyerukan pembukaan penyeberangan Rafah dengan Mesir secara dua arah, dan mendorong transisi menuju fase kedua, yakni penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Gencatan senjata Oktober sendiri menyerukan pelucutan senjata Hamas dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional sesuai usulan Presiden Trump.
Namun, al-Hayya menolak peran pasukan perdamaian yang terlalu besar, menegaskan bahwa mandat mereka harus sebatas menjaga garis gencatan senjata dan memisahkan kedua pihak di perbatasan.
“Kami tetap berkomitmen pada perjanjian, tetapi menolak segala bentuk perwalian atas rakyat Gaza,” ujarnya.
Israel Klaim Saad Arsitek Serangan 7 Oktober
Dalam unggahan di Telegram, militer Israel menuduh Raed Saad berusaha membangun kembali kemampuan militer Hamas yang hancur akibat lebih dari dua tahun perang.
Ia disebut sebagai arsitek utama serangan 7 Oktober 2023 dan menjabat sebagai kepala pasukan manufaktur senjata Hamas, posisi strategis kedua setelah Izz al-Din al-Haddad.
Seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan kepada Reuters bahwa Saad menjadi target spesifik dalam operasi Sabtu malam. Sumber internal Hamas juga mengonfirmasi posisi penting Saad di sayap bersenjata kelompok tersebut.
Pembunuhan ini terjadi ketika kedua pihak bersiap menuju fase kedua gencatan senjata, yang mencakup penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Palestina, dan pengakhiran resmi perang.
Upaya Diplomasi Hamas dan AS
Kepala Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal, menyebut pihaknya siap membahas mekanisme penyimpanan senjata selama masa gencatan senjata, namun menolak campur tangan asing dalam pelucutan penuh.
“Kami ingin memastikan perang tidak kembali, tetapi kami menolak segala bentuk mandat militer asing di wilayah Palestina,” kata Meshaal.
Pejabat Hamas lainnya, Basem Naim, menilai draf fase kedua buatan AS masih butuh “banyak klarifikasi”.
Menurutnya, Hamas dapat menerima pasukan PBB di perbatasan sebagai pengawas perjanjian, bukan sebagai kekuatan yang memiliki otoritas di wilayah Gaza. (ren)
