Home - Internasional - Belarus Bebaskan 123 Tahanan Termasuk Peraih Nobel Perdamaian, Imbalan atas Pencabutan Sanksi AS

Belarus Bebaskan 123 Tahanan Termasuk Peraih Nobel Perdamaian, Imbalan atas Pencabutan Sanksi AS

Pemerintah otoriter Belarus di bawah Presiden Alexander Lukashenko membebaskan 123 tahanan politik, termasuk peraih Hadiah Nobel Perdamaian Ales Bialiatski dan aktivis oposisi Maria Kolesnikova, sebagai bagian dari kesepakatan tidak resmi dengan Amerika Serikat. Pembebasan massal ini dilakukan setelah Washington mencabut sanksi terhadap sektor kalium karbonat Belarus, menandai titik balik diplomatik yang jarang terjadi antara Minsk dan Washington.

Minggu, 14 Desember 2025 - 7:00 WIB
Belarus Bebaskan 123 Tahanan Termasuk Peraih Nobel Perdamaian, Imbalan atas Pencabutan Sanksi AS
Maria Kolesnikova dan Ales Bialiatski, dua ikon perlawanan Belarus, resmi dibebaskan bersama 121 tahanan politik lainnya setelah AS mencabut sanksi terhadap Minsk. Foto: Viasna Human Rights Center for Hallonews.

HALLONEWS.COM — Dalam langkah mengejutkan, Presiden Belarus Alexander Lukashenko membebaskan 123 tahanan politik, termasuk dua figur oposisi paling menonjol, Ales Bialiatski dan Maria Kolesnikova.

Langkah ini diyakini sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat, menyusul perundingan intensif selama dua hari di ibu kota Minsk.

Juru bicara organisasi hak asasi manusia Viasna, yang didirikan oleh Bialiatski, mengonfirmasi pembebasan tersebut pada Sabtu (13/12/2025).

“Ini adalah momen bersejarah bagi para tahanan politik dan keluarga mereka,” ujar juru bicara itu dalam pernyataan resminya seperti dikutip Sky News.

Beberapa jam sebelum pengumuman pembebasan, pemerintahan Donald Trump di Washington menyatakan telah mencabut sanksi terhadap industri kalium karbonat Belarus, salah satu sumber utama pendapatan ekspor negara itu.

Langkah tersebut disusul pernyataan Lukashenko bahwa Minsk ingin memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat setelah bertahun-tahun terisolasi akibat pelanggaran hak asasi manusia dan kedekatannya dengan Moskow.

“Normalisasi hubungan dengan Washington adalah tujuan kami,” kata John Coale, utusan khusus AS untuk Belarus, kepada kantor berita negara Belta, menyebut pertemuan dua hari di Minsk “sangat produktif”.

Ikon Perlawanan dan Simbol Kebebasan

Di antara para tahanan yang dibebaskan, Maria Kolesnikova (43) menonjol sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Lukashenko. Dengan rambut cepaknya dan gestur khas berbentuk hati, Kolesnikova menjadi ikon protes massal pada 2020.

Saat aparat berusaha mendeportasinya ke Ukraina, ia merobek paspornya di perbatasan dan menolak meninggalkan Belarus. Tindakan itu menjadikannya simbol keberanian di tengah represi negara.

Pada 2021, Kolesnikova dijatuhi hukuman 11 tahun penjara atas tuduhan konspirasi untuk merebut kekuasaan. Selama penahanan, ia mengalami penurunan kesehatan serius dan menjalani operasi.

Sementara itu, Ales Bialiatski (63), pendiri Viasna dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2022, baru dibebaskan setelah dua tahun mendekam di penjara Gorki yang terkenal kejam.

Ia sebelumnya dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena tuduhan “ekstremisme”, tuduhan yang oleh banyak pihak dianggap bermotif politik.

Komite Nobel Norwegia menyambut pembebasan Bialiatski dengan “rasa lega yang mendalam dan kegembiraan yang tulus,” seraya menyerukan kepada pemerintah Belarus untuk membebaskan seluruh tahanan politik lainnya.

Pemimpin oposisi di pengasingan, Sviatlana Tsikhanouskaya, yang juga sekutu dekat Kolesnikova, menulis di X (Twitter):

“Maria bebas! Selama lima tahun kami berjuang untuk kebebasannya. Terima kasih kepada AS dan mitra Eropa yang tak kenal lelah memperjuangkan ini.”

Menurut pejabat Ukraina, 114 dari 123 tahanan yang dibebaskan telah diterima di Ukraina, sementara 9 lainnya dipindahkan ke Lithuania. Presiden Volodymyr Zelenskyy dikabarkan telah berbicara langsung dengan Kolesnikova usai pembebasannya, meski detail percakapan belum dipublikasikan.

Langkah dramatis Lukashenko ini diyakini sebagai bagian dari strategi politik dua arah: meredakan tekanan Barat sambil mempertahankan hubungan erat dengan Moskow.

Selama tiga dekade berkuasa, Lukashenko dikenal sebagai sekutu utama Rusia, dan negaranya kerap digunakan sebagai basis operasi militer Kremlin dalam invasi ke Ukraina.

Namun, tekanan ekonomi akibat sanksi Barat membuat Minsk berupaya mencari celah diplomasi baru.

Sejak Juli 2024, Belarus telah membebaskan lebih dari 430 tahanan politik, sebagian besar setelah negosiasi dengan AS dan Uni Eropa. Gelombang pembebasan terbaru ini disebut sebagai paket rekonsiliasi terbesar dalam sejarah modern Belarus. (ren)