Home - Megapolitan - Siaga Cuaca Ekstrem, Pemkot Bekasi Pasang EWS di Empat Titik Rawan Banjir

Siaga Cuaca Ekstrem, Pemkot Bekasi Pasang EWS di Empat Titik Rawan Banjir

Pemkot Bekasi memasang EWS di empat titik rawan banjir untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga menghadapi cuaca ekstrem.

Sabtu, 13 Desember 2025 - 13:20 WIB
Siaga Cuaca Ekstrem, Pemkot Bekasi Pasang EWS di Empat Titik Rawan Banjir
Banjir menerjang wilayah Kota Bekasi beberapa waktu lalu melumpuhkan aktivitas warga yang berada di Timur DKI Jakarta. Foto/Hallonews

HALLONEWS.COM – Pemerintah Kota Bekasi memasang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di empat titik rawan banjir. Langkah ini untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi banjir, terutama saat cuaca ekstrem.

Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Bekasi Wiratma Puspita mengatakan pemasangan EWS merupakan bantuan dari Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pemasangan EWS ditujukan memperkuat sistem mitigasi bencana di wilayah terdampak banjir. “Sirene EWS mampu terdengar hingga radius sekitar 270 meter, meskipun berada di kawasan dengan tingkat kebisingan lalu lintas yang cukup tinggi,” kata Wiratama, Sabtu (13/12/2025).

Sistem EWS dirancang untuk memberikan peringatan cepat ketika debit air Sungai Cileungsi–Cikeas maupun Kali Bekasi mengalami peningkatan signifikan. Empat lokasi yang dipasangi EWS berada di kawasan rawan banjir, yakni Teluk Pucung–Kampung Lebak (Bekasi Utara).

Bekasi Jaya–Kampung Lengkak (Bekasi Timur), Jatirasa–Perumahan Pondok Mitra Lestari (Jatiasih), serta Jakasetia–Perumahan Jaka Kencana (Bekasi Selatan).

Keempat titik tersebut terintegrasi dengan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang terhubung dengan lima pos pantau aliran sungai. Teknologi ini memantau elevasi muka air, kecepatan arus, kondisi cuaca, serta tren kenaikan debit air secara real time selama 24 jam.

Jika sistem mendeteksi adanya anomali atau potensi bahaya, sirene EWS akan aktif secara otomatis. Kecepatan respons menjadi faktor krusial, mengingat banjir kiriman dari wilayah hulu kerap terjadi dalam waktu singkat setelah hujan ekstrem.

Sejumlah banjir besar di Kota Bekasi dalam beberapa tahun terakhir terjadi akibat kombinasi curah hujan tinggi dan limpasan air dari hulu. Dalam banyak kasus, selisih waktu antara kenaikan muka air dan luapan ke permukiman hanya berlangsung dalam hitungan menit.

“Peringatan dini menjadi peluang penting untuk menyelamatkan warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” jelasnya.

BPBD juga mengimbau masyarakat untuk mengenali suara sirene EWS dan memahami langkah mitigasi awal. Saat sirene berbunyi, warga diminta menghentikan aktivitas, memantau kondisi sekitar, serta segera mengamankan anggota keluarga.