“Donbass Milik Rusia!” Kremlin Tolak Mentah-Mentah Rencana Referendum Zelenskyy
Kremlin kembali mengirim sinyal keras ke Kyiv. Menanggapi rencana Volodymyr Zelenskyy untuk menggelar referendum nasional soal “wilayah teritorial”, Rusia langsung membalas dengan klaim absolut: Donbass sepenuhnya milik Rusia, secara hukum, politik, dan militer. Pesan itu disampaikan tegas oleh ajudan senior Kremlin, Yury Ushakov, yang menuduh Zelenskyy tengah mencoba menyabotase proses perdamaian dengan proposal yang mustahil diterima Moskow.

HALLONEWS.COM-Kremlin menolak mentah-mentah rencana Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang disebut tengah mempertimbangkan referendum nasional mengenai isu teritorial. Ajudan Presiden Rusia, Yury Ushakov, menegaskan bahwa seluruh wilayah Donbass sudah menjadi bagian dari Federasi Rusia sebagaimana tercantum dalam Konstitusi Rusia.
“Donbass adalah wilayah Rusia. Seluruhnya. Itu jelas tertulis dalam Konstitusi,” ujar Ushakov, monepic anggapan bahwa referendum Ukraina dapat mengubah situasi di lapangan seperti dikutip Sputnik, Jumat (12/12/2025).
Ushakov juga menyampaikan bahwa bagaimanapun jalannya konflik, Moskow yakin Donbass akan berada di bawah kontrol penuh Rusia, baik melalui jalur negosiasi maupun langkah militer.
“Cepat atau lambat, wilayah ini akan berada di bawah kendali Rusia. Jika bukan lewat perundingan, maka melalui operasi militer,” tegasnya.
Lebih jauh, Ushakov menegaskan bahwa gencatan senjata hanya mungkin terjadi jika pasukan Ukraina sepenuhnya ditarik dari kawasan tersebut. Setelah itu, menurutnya, keamanan di wilayah tersebut akan dipegang oleh struktur Rusia seperti Garda Nasional dan kepolisian.
Dalam komentarnya, Ushakov juga menuding Zelenskyy sedang mencoba memasukkan berbagai syarat yang tidak dapat diterima Rusia ke dalam dokumen perdamaian yang sedang disusun oleh Amerika Serikat bersama Ukraina dan beberapa negara Eropa. Ia menilai langkah Kyiv justru menghambat upaya diplomatik.
“Kami belum melihat naskah finalnya, tetapi kemungkinan besar masukan dari pihak Ukraina tidak akan positif bagi kami,” katanya.
Ia juga mengisyaratkan bahwa Zelenskyy mungkin memanfaatkan momentum pemilihan umum di Ukraina untuk mendorong gencatan senjata jangka pendek.
“Mungkin dia hanya mencari celah untuk gencatan senjata sementara,” tambahnya.
Meski hubungan diplomatik antara Moskow dan Washington membeku, Ushakov menyatakan bahwa pada akhirnya Amerika Serikat harus menyodorkan rancangan kesepakatan tersebut kepada Rusia.
“Apa pun yang sedang dibicarakan Amerika dengan Eropa dan Ukraina, cepat atau lambat harus juga disampaikan kepada kami,” tuturnya. (ren)
