Federal Reserve Potong Suku Bunga Acuan Lagi: Siklus Pelemahan Ketiga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
The Fed kembali memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya, menurunkannya ke level terendah sejak 2022 di tengah pelemahan pasar tenaga kerja dan ketidakpastian inflasi.

HALLONEWS.COM – Komite Pasar Terbuka Federal Reserve (FOMC) mengonfirmasi pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, pada 11 Desember 2025.
FOMC menurunkan kisaran target suku bunga federal menjadi 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini, yang merupakan yang terendah sejak Oktober 2022, mencerminkan respons terhadap pelemahan pasar tenaga kerja yang semakin terasa, meskipun inflasi tetap di atas ambang batas jangka panjang 2%.
Satu kelompok mendorong pemangkasan yang lebih agresif untuk mencegah resesi tenaga kerja, sedangkan kelompok lain mendorong sikap hati-hati untuk menghindari risiko inflasi yang meningkat.
Data ekonomi menunjukkan ekspansi moderat namun rapuh, bersama dengan pertumbuhan lapangan kerja yang melambat dan peningkatan tingkat pengangguran di kalangan kelompok rentan seperti pemuda dan minoritas. Ini yang mendasari pemangkasan ini.
Tren negatif ini ditunjukkan oleh indikator terbaru, termasuk pemotongan 32.000 pekerjaan sektor swasta pada November, menurut survei Automatic Data Processing (ADP).
Perusahaan kecil kehilangan ratusan ribu pekerjaan sementara perusahaan besar terus menambah tenaga kerja.
Selain itu, ketidakpastian yang tinggi terkait prospek jangka pendek disebabkan oleh pemadaman pemerintahan federal baru-baru ini yang menghambat penyebaran data resmi. Namun, FOMC menilai kebijakan moneter saat ini berada pada posisi netral, memungkinkan pendekatan “wait and see” untuk menilai keseimbangan mandat ganda antara stabilitas harga dan maksimalisasi lapangan kerja.
Sebagian besar pejabat memperkirakan hanya satu pemangkasan tambahan pada tahun 2026 dan satu lagi pada tahun 2027, menurut proyeksi dot plot FOMC ke depan.
Di tengah ketidaksepakatan internal tentang kecepatan inflasi yang menurun, tujuh anggota berpendapat bahwa suku bunga harus tetap pada 2026, sementara delapan mendukung setidaknya dua pemangkasan.
Perkiraan median menunjukkan pertumbuhan PDB riil 2,3% pada akhir 2026, naik dari estimasi 1,8% pada September. Tingkat pengangguran akan mencapai 4,4% dan inflasi PCE akan mencapai 2,4%, masing-masing lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,8%. Meskipun inflasi diharapkan bertahan di atas target hingga 2028, revisi ini menunjukkan optimisme moderat terhadap pemulihan.
Keputusan ini menunjukkan bahwa Federal Reserve menghadapi kesulitan dalam menjalankan dua tugasnya di tengah gejolak global, seperti perlambatan permintaan eksternal dan ketegangan perdagangan.
Bank sentral AS menunjukkan kewaspadaan terhadap dua potensi risiko: penurunan lapangan kerja yang tajam atau kembalinya tekanan harga. Ini terjadi meskipun inflasi telah turun secara signifikan dari puncaknya pada pertengahan 2022.
Meskipun ketidakpastian data tetap menjadi penghalang, secara keseluruhan, diharapkan langkah ini akan mendorong ekonomi domestik tanpa memicu ekspektasi pelonggaran yang berlebihan.
Menurut Hendeka Putra, Research Analyst Yes Invest, penurunan suku bunga Federal Reserve ini cenderung memberikan efek positif jangka pendek pada pasar saham Indonesia melalui peningkatan arus modal asing ke emerging markets, di mana indeks sektoral keuangan dan konsumsi domestik mengalami penguatan moderat akibat likuiditas global yang lebih longgar dan pelemahan dolar AS terhadap rupiah.
Namun, sektor ekspor berorientasi komoditas mungkin menghadapi tekanan volatilitas lebih tinggi karena ketidakpastian proyeksi inflasi AS yang mempengaruhi harga komoditas internasional.
Sementara secara agregat, indeks utama seperti IDX Composite berpotensi mengalami terjadi peningkatan fluktuasi dengan sektoral yang lebih sensitif terhadap sentimen global. Diversifikasi ke sektor teknologi dan infrastruktur bisa menjadi strategi mitigasi, mengingat siklus pelonggaran yang lambat ini menekan resiliensi ekonomi domestik di tengah risiko geopolitik yang berkelanjutan.
