Home - Ekonomi & Bisnis - Proyeksi Harga Perak Dunia di Tahun 2026, Begini Analisis Pakar Global

Proyeksi Harga Perak Dunia di Tahun 2026, Begini Analisis Pakar Global

Perak kembali mencuri perhatian pasar komoditas global setelah mengalami volatilitas sepanjang dua tahun terakhir. Begini lengkapnya.

Senin, 8 Desember 2025 - 15:30 WIB
Proyeksi Harga Perak Dunia di Tahun 2026, Begini Analisis Pakar Global
Ilustrasi Perak Foto: Freepik

HALLONEWS.COM – Perak kembali mencuri perhatian pasar komoditas global setelah mengalami volatilitas sepanjang dua tahun terakhir.

Banyak analis menilai bahwa perak berpotensi memasuki fase kenaikan jangka menengah hingga panjang. Sebagai logam mulia yang digunakan dalam investasi maupun industri, pergerakan harga perak banyak dipengaruhi oleh beragam faktor ekonomi dunia.

Para pakar internasional memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai ke mana arah harga perak global dalam beberapa tahun mendatang.

Salah satu katalis utama yang mendorong proyeksi kenaikan harga perak adalah lonjakan permintaan industri, terutama dari sektor teknologi dan energi bersih.

Perak digunakan dalam panel surya, baterai kendaraan listrik, hingga perangkat elektronik berteknologi tinggi.

Silver Institute, lembaga riset komoditas terkemuka, memproyeksikan bahwa permintaan industri perak akan mencapai rekor baru dalam dua tahun ke depan. Pertumbuhan kebutuhan panel surya saja diperkirakan meningkat 15–20% per tahun seiring dorongan global menuju energi terbarukan.

Analis komoditas Bart Melek dari TD Securities menilai bahwa struktur pasokan perak yang ketat tidak bisa mengimbangi kenaikan permintaan industri.

“Ketidakseimbangan struktural ini berpotensi membawa harga perak menembus level-level psikologis baru,” kata Bart Melek.

Ekonom senior JP Morgan, Natasha Kaneva, memproyeksikan bahwa siklus penurunan suku bunga tahun 2026 akan memberi dorongan signifikan pada harga perak.

“Penurunan suku bunga meningkatkan daya tarik logam mulia, dengan perak berpotensi menguat lebih agresif dibanding emas karena fungsinya yang lebih luas,” ujarnya.

Selain itu, inflasi yang masih berada di atas target di banyak negara mendorong investor mencari aset yang lebih stabil, sehingga meningkatkan tekanan beli terhadap perak.

Bank of America memproyeksikan perak dapat mencapai USD 35 per troy ounce, didorong oleh permintaan industri energi hijau.

Sementara Citigroup lebih optimistis, dengan skenario bull mencapai USD 40 per troy ounce, terutama jika pasokan tambang mengalami gangguan.

Sedangkan analis independen seperti Michael DiRienzo memprediksi harga dapat menyentuh USD 50 pada akhir dekade ini jika tren energi terbarukan terus menguat.

Berdasarkan pandangan para pakar dunia, perak berada pada jalur bullish yang kuat untuk beberapa tahun mendatang. Kombinasi permintaan industri yang meningkat, kebijakan moneter global, dan pasokan yang semakin ketat menjadi faktor utama yang memperkuat proyeksi kenaikan harga.

Meskipun volatilitas tetap menjadi ciri khas pasar komoditas, analis sepakat bahwa perak memiliki fundamental yang lebih solid dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Bagi investor jangka panjang, perak kini dipandang bukan hanya sebagai aset safe haven, tetapi juga sebagai bahan baku strategis yang akan menopang ekonomi energi masa depan.