Perang di Perbatasan Meletus! Thailand Gempur Kamboja dengan Serangan Udara, Ribuan Warga Dievakuasi
Ketegangan Thailand–Kamboja memuncak setelah Bangkok melancarkan serangan udara ke wilayah perbatasan. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak pemicu tembakan pertama, sementara korban berjatuhan dan ratusan ribu warga sipil terpaksa mengungsi dari zona pertempuran.

HALLONEWS.COM-Ketegangan dua negara Asia Tenggara kembali memanas setelah Thailand melancarkan serangan udara ke wilayah perbatasan Kamboja, memicu kekhawatiran konflik terbuka yang lebih besar. Kedua pihak saling menuduh sebagai pemicu tembakan pertama dalam bentrokan terbaru.
Tentara Thailand melaporkan satu prajurit tewas dan delapan lainnya luka-luka, setelah pasukan Kamboja disebut melepaskan tembakan terlebih dahulu ke wilayah Thailand.
Mayor Jenderal Winthai Suvaree menyatakan bahwa Thailand terpaksa mengerahkan pesawat tempur untuk menghantam sejumlah target militer Kamboja demi memadamkan tembakan artileri yang mengarah ke wilayah mereka.
Namun dari sisi Kamboja, narasinya berbeda. Wakil gubernur Oddar Meanchey, Met Measpheakdey, menyebut tiga warga sipil terluka parah akibat serangan Thailand. Pihak militer Kamboja menyatakan bahwa justru Thailand yang menyerang lebih dulu di Provinsi Preah Vihear.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, mengecam keras tindakan Thailand dan mendesak agar serangan segera dihentikan demi menjaga stabilitas regional.
Konflik Lama yang Terulang
Ketegangan perbatasan ini mengingatkan kembali pada bentrokan lima hari pada Juli lalu yang menyebabkan puluhan korban jiwa dari kedua belah pihak, baik tentara maupun warga sipil. Sengketa kedaulatan di sepanjang garis perbatasan sepanjang 817 kilometer ini telah berlangsung lebih dari satu abad.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan bahwa militer akan bergerak sejauh diperlukan untuk mempertahankan negara.
“Thailand tidak pernah memulai perang. Kami tidak ingin kekerasan, tapi kami tidak akan membiarkan kedaulatan kami diinjak,” tegas Anutin Charnvirakul seperti dikutip dari Sky News, Senin (8/12/2025).
Di Thailand, situasi memburuk. Lebih dari 385.000 warga di distrik-distrik perbatasan telah dievakuasi, dengan 35.000 orang di antaranya kini berlindung di kamp-kamp sementara.
Di Kamboja, sekolah-sekolah di zona perbatasan ditutup, dan video yang viral memperlihatkan siswa berhamburan keluar kelas untuk dijemput keluarga mereka.
ASEAN Mulai Ikut Campur
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyerukan kedua negara agar menahan diri, memperingatkan bahwa kawasan Asia Tenggara tidak boleh kembali diseret ke dalam spiral konflik.
Hari Minggu lalu, kedua negara kembali saling menuduh soal insiden tembak-menembak yang berlangsung sekitar 20 menit. Dua tentara Thailand dikabarkan terluka, sementara Kamboja bersikeras pasukannya tidak membalas tembakan.
Dengan sejarah panjang sengketa perbatasan dan retaknya hubungan diplomatik, bentrokan ini dapat menjadi pemicu eskalasi yang lebih serius jika tidak segera diredam. (ren)
