Nestapa Warga Muaragembong Bekasi Gotong Jenazah Terjang Banjir Rob Akibat TPU Tenggelam
Deru angin Laut Jawa dan bau air asin menusuk hidung menjadi saksi bisu pilunya kehidupan warga di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Sudah sepekan wilayah pesisir ini dikepung banjir rob setinggi satu meter sejak 1 Desember 2025.

HALLONEWS.COM – Deru angin Laut Jawa dan bau air asin menusuk hidung menjadi saksi bisu pilunya kehidupan warga di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Sudah sepekan wilayah pesisir ini dikepung banjir rob setinggi satu meter sejak 1 Desember 2025.
Genangan rob menenggelamkan lima desa: Pantai Mekar, Pantai Bahagia, Pantai Sederhana, Pantai Bakti, dan Pantai Harapan Jaya. Seluruh kawasan berada persis di bibir Laut Jawa sehingga setiap pasang besar langsung menghantam permukiman warga.
Di tengah air yang tak kunjung surut, warga kembali dihadapkan pada situasi paling menyayat hati. Mereka terpaksa memakamkan seorang warga di atas tanggul bukan karena pilihan, tetapi karena Tempat Pemakaman Umum (TPU) di desa itu hilang ditelan banjir.
Sabtu (6/12) pagi, warga berjalan perlahan membawa keranda. Kaki mereka terendam air setinggi lutut hingga paha, sementara gelombang kecil memukul jalur yang mereka lalui. Tidak ada akses lain yang memungkinkan.
Dua TPU yang selama ini menjadi tempat peristirahatan terakhir telah terendam penuh. Keduanya tak lagi bisa dijangkau. Peristiwa memilukan yang terjadi di RT 03 RW 02, Desa Pantai Bahagia ini pun terekam video dan viral di media sosial.
“Dua TPU itu jauh dan tenggelam. Kita sudah coba lihat, tapi nggak mungkin dipakai. Akhirnya kami terpaksa makamkan di tanggul,” kata Ketua RT 03 Pantai Bahagia Apudin kepada wartawan, Minggu (7/12/2025).
Prosesi pemakaman di atas tanggul terasa seperti luka yang sulit disembuhkan. Bagi warga Muaragembong, rob seperti ini sudah menjadi tamu tahunan. Namun ketika banjir merampas hak seseorang untuk dimakamkan secara layak, kesedihan terasa lebih dalam.
Di lokasi pemakaman darurat itu, tanah gembur bercampur air asin. Tangis keluarga pecah bersamaan dengan suara ombak yang terus menghantam pesisir. “Udah sering seperti ini kalau rob datang. Tapi kalau sampai harus makamkan di tanggul, ya mau gimana lagi,” ungkapnya.
Banjir rob bukan satu-satunya ancaman. Abrasi yang terus menggerus garis pantai membuat daratan Muaragembong menyusut drastis. “Setiap tahun daratan hilang sampai 100 meter. Kami takut suatu hari nggak ada lagi tempat tinggal, apalagi tempat makam,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang membenarkan bahwa banjir rob di Muaragembong merupakan kejadian tahunan yang selalu berdampak pada sejumlah desa. Namun pemerintah tetap mencarikan solusi menangani banjir rob tersebut.
“Ini kejadian rutin setiap tahun. Ada desa-desa yang selalu terdampak. Kita siap menangani situasi darurat apa pun akibat rob,” ujarnya.
Ketua DPC PDIP Kabupaten Bekasi itu menyatakan telah memerintahkan Camat Muaragembong untuk memantau langsung kondisi lapangan dan memastikan BPBD siaga membantu warga. “Kami kerahkan petugas untuk membantu warga di sana,” tegasnya.
