Home - Teknologi & Digital - Starlink Dikecam! Peta SpaceX Sebut Dokdo sebagai “Liancourt Rocks”, Picu Kemarahan di Korea

Starlink Dikecam! Peta SpaceX Sebut Dokdo sebagai “Liancourt Rocks”, Picu Kemarahan di Korea

Starlink milik SpaceX tersandung kontroversi di Korea setelah peta layanannya menampilkan Dokdo dengan nama “Liancourt Rocks”, pemilihan istilah yang dianggap mengabaikan fakta sejarah dan kedaulatan administratif Korea atas pulau tersebut.

Minggu, 7 Desember 2025 - 12:56 WIB
Starlink Dikecam! Peta SpaceX Sebut Dokdo sebagai “Liancourt Rocks”, Picu Kemarahan di Korea
Nama "Batu Liancourt" muncul di hasil pencarian Korea untuk Dokdo pada peta ketersediaan Starlink. Foto: Peta ketersediaan Starlink.

HALLONEWS.COM-Starlink, layanan internet satelit yang dioperasikan oleh SpaceX, menjadi sorotan publik Korea setelah peta cakupan layanannya menampilkan Dokdo sebagai “Liancourt Rocks”.

Penyebutan ini memicu respons keras karena dinilai mengabaikan nama yang telah lama digunakan Korea untuk pulau-pulau kecil tersebut, yang berada di bawah administrasi Korea Selatan. Kontroversi ini muncul hanya beberapa hari setelah Starlink secara resmi memasuki pasar Korea.

Istilah “Liancourt Rocks” sendiri berasal dari nama sebuah kapal penangkap paus Prancis yang melintas di sekitar wilayah tersebut pada tahun 1849. Meski demikian, banyak akademisi Korea menilai penggunaan nama tersebut tidak merepresentasikan sejarah maupun situasi geopolitik yang sebenarnya.

Per Minggu (7/12/2025), pencarian dengan kata kunci “Dokdo” pada peta ketersediaan Starlink masih menampilkan nama “Liancourt Rocks”. Baik memasukkan nama Dokdo maupun Liancourt Rocks tidak memunculkan penanda biru lokasi, ikon yang lazim digunakan sistem untuk menunjukkan titik layanan tersedia.

Kontroversi ini meledak bersamaan dengan ekspansi Starlink di Korea, setelah perusahaan meluncurkan dua paket internet rumah baru minggu lalu dengan harga 64.000 won (US$43) dan 87.000 won per bulan.

Para ahli menyebut penggunaan istilah asal Prancis itu adalah sebuah kekeliruan.
“Dokdo ya Dokdo, itu nama khusus,” ujar Seo Kyung-duk, profesor dari Sekolah Studi Konvergensi Kreatif di Universitas Wanita Sungshin.

“Jauh sebelum kapal pemburu paus Prancis itu lewat, pulau itu sudah disebut Dokdo. Bukan Takeshima, bukan Liancourt Rocks,” tandasnya.

Seo mengatakan bahwa dirinya akan secara resmi meminta Starlink memperbaiki label tersebut, dilengkapi dengan bukti historis yang mendukung penamaan Dokdo.

Ini bukan pertama kalinya perusahaan teknologi global menuai reaksi atas penggunaan nama pulau tersebut. Pada September lalu, Seo menemukan bahwa Google Maps menggunakan istilah “Liancourt Rocks” di 42 negara, termasuk Swedia, Australia, dan Selandia Baru. Namun di Korea, Google menampilkan nama “Dokdo”, sementara pengguna di Jepang melihat label “Takeshima”, mencerminkan klaim teritorial Jepang.

Ketidakkonsistenan penamaan ini menunjukkan bagaimana platform teknologi global kerap mencerminkan sensitivitas geopolitik yang berbeda berdasarkan lokasi pengguna, sebuah perdebatan yang kini kembali memanas akibat keterlibatan Starlink. (ren)