Rusia Gempur Ukraina dengan 653 Drone dan 51 Rudal, Zelenskyy Serukan Tekanan Global Diperkuat
Rusia meluncurkan salah satu serangan rudal dan drone terbesar sejak perang dimulai, menghantam infrastruktur energi Ukraina dan memicu desakan Presiden Volodymyr Zelenskyy agar komunitas internasional meningkatkan tekanan terhadap Moskow.

HALLONEWS.COM-Rusia kembali menghantam Ukraina dengan serangan udara besar-besaran yang terdiri dari ratusan drone dan puluhan rudal pada Sabtu (6/12/2025) malam. Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomasi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang baru saja melakukan “panggilan telepon substansial” dengan pejabat Amerika Serikat untuk mendorong terciptanya perdamaian setelah hampir empat tahun perang.
Baik Ukraina maupun Amerika Serikat menegaskan bahwa kemajuan menuju kesepakatan damai sepenuhnya bergantung pada kesediaan Rusia untuk menunjukkan komitmen serius terhadap perdamaian jangka panjang. Dalam unggahan media sosialnya, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tetap berupaya bekerja sama secara konstruktif dengan AS demi mencapai akhir konflik yang berkelanjutan.
Menurut angkatan udara Ukraina, Rusia meluncurkan 653 pesawat tak berawak dan 51 rudal dalam serangan terbaru tersebut. Serangan itu memicu peringatan udara di seluruh wilayah Ukraina hingga Sabtu malam. Pasukan pertahanan udara Ukraina mengklaim berhasil menjatuhkan 585 drone dan 30 rudal, namun 29 lokasi tetap mengalami kerusakan akibat serangan yang tersebar.
“Sedikitnya delapan orang terluka,” ungkap Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko seperti dikutip dari Sky News, Minggu (7/12/2025).
Operator energi nasional Ukraina, Ukrenergo, menyebut gempuran ini sebagai “serangan rudal-drone besar-besaran” yang ditujukan ke pembangkit listrik dan fasilitas energi di berbagai wilayah.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga melaporkan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia sempat kehilangan pasokan listrik eksternal selama beberapa waktu. Meskipun tidak beroperasi, reaktor di pembangkit itu tetap memerlukan daya kontinu untuk menjaga pendinginan enam reaktor yang telah dimatikan serta bahan bakar bekas, sebuah keharusan untuk mencegah potensi bencana nuklir. Fasilitas ini telah berada di bawah pendudukan Rusia sejak awal invasi.
Zelenskyy mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya “tidak memiliki nilai militer”. Ia menambahkan bahwa fasilitas energi kembali menjadi target utama, dan menyebut salah satu drone Rusia telah membakar stasiun kereta api di Fastiv, wilayah Kyiv.
“Tujuan Rusia adalah melukai jutaan warga Ukraina. Mereka bahkan menembakkan rudal ke kota-kota damai pada Hari St. Nicholas,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan pentingnya tekanan internasional tambahan, termasuk efektivitas sanksi serta peningkatan sistem pertahanan udara Ukraina.
Ukraina Balas Serang Kilang Minyak Rusia
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 116 drone Ukraina di wilayahnya. Sementara itu, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan bahwa pasukan mereka telah menyerang Kilang Minyak Ryazan, salah satu fasilitas energi besar Rusia.
Media Telegram Rusia, Astra, membagikan rekaman yang tampak menunjukkan kobaran api dan asap tebal di area kilang tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina semakin gencar melancarkan serangan drone jarak jauh terhadap kilang-kilang minyak Rusia, bertujuan mengurangi pendapatan energi Moskow yang digunakan untuk membiayai operasi militer.
Kyiv dan negara-negara Barat berulang kali menuduh Rusia berupaya melumpuhkan jaringan listrik Ukraina pada musim dingin, membatasi akses warga terhadap pemanas, pencahayaan, dan air bersih — strategi yang oleh pejabat Ukraina disebut sebagai “persenjataan cuaca dingin”. (ren)
