Home - Nasional - Air Mata Sumatera: 914 Jiwa Telah Pergi, Ratusan Masih Diharap Pulang

Air Mata Sumatera: 914 Jiwa Telah Pergi, Ratusan Masih Diharap Pulang

Duka masih menyelimuti Sumatera. Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 telah menelan 914 korban jiwa. Ratusan orang lainnya masih hilang, sementara ribuan warga berjuang di pengungsian menanti kabar keluarga yang belum ditemukan.

Sabtu, 6 Desember 2025 - 19:08 WIB
Air Mata Sumatera: 914 Jiwa Telah Pergi, Ratusan Masih Diharap Pulang
Banjir di Sumatera Barat. Foto: X/@tanyarlfes

HALLONEWS.COM-Suara tangis dan doa masih menggema di berbagai titik pengungsian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Seiring air surut, kenyataan pahit semakin jelas terlihat.

Data terbaru BNPB per Sabtu (6/12/2025) mencatat 914 jiwa meninggal dunia akibat banjir dan longsor yang melanda sejak akhir November. Hanya dalam sehari, jumlah korban bertambah 47 orang dari data sebelumnya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan, korban terbanyak berasal dari Aceh dengan 359 orang meninggal dunia, disusul Sumatera Utara 329 jiwa, dan Sumatera Barat 226 jiwa.

“Total korban meninggal hingga hari ini mencapai 914 orang,” ujarnya lirih dalam konferensi pers, Sabtu (6/12/2025) siang.

Namun, di balik duka itu, terselip sedikit harapan. Sebanyak 389 orang masih dinyatakan hilang, tetapi jumlah ini menurun dari 521 orang kemarin. Sejumlah warga yang sempat dikabarkan hilang ditemukan dalam keadaan selamat di wilayah berbeda.

“Ada beberapa korban yang sebelumnya dilaporkan hilang, tapi akhirnya ditemukan hidup,” tambah Muhari.

Bagi keluarga, kabar itu menjadi cahaya kecil di tengah kabut kesedihan yang belum sirna.

Bencana besar ini, menurut para ahli, bukan semata akibat curah hujan ekstrem. Di balik langit yang murka, ada jejak panjang kerusakan lingkungan yang memperparah dampaknya.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menyebut banjir bandang kali ini terjadi karena pertemuan tiga faktor berbahaya: atmosfer yang aktif, lahan yang tak lagi mampu menyerap air, dan wilayah yang kehilangan daya tampung.

“Sumatera bagian utara sedang berada pada puncak musim hujan dengan curah lebih dari 150 milimeter per hari, bahkan ada yang mencapai 300 milimeter. Itu mendekati curah hujan ekstrem yang memicu banjir besar Jakarta 2020,” ujar Rais.

Ia menambahkan, pada 24 November lalu muncul Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka, hasil perkembangan pusaran udara dari Semenanjung Malaysia. Siklon ini memperkuat hujan dan memperluas cakupan awan badai di kawasan Sumatera bagian utara.

Fenomena cold surge vortex dan sistem skala meso juga ikut memicu hujan deras berjam-jam tanpa jeda.

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan bahwa hujan deras seharusnya tidak selalu berujung bencana, jika bumi masih punya daya serapnya.

“Banjir bukan hanya soal curah hujan, tapi soal bagaimana air diterima dan dikelola oleh permukaan bumi,” katanya.

Ia menyoroti menurunnya tutupan hutan dan perubahan fungsi lahan yang membuat air hujan tak lagi bisa terserap.

Ketika hutan ditebang dan tanah dikeraskan, air tak lagi disambut bumi, melainkan diarahkan ke sungai yang akhirnya meluap.

Heri juga menilai, peta risiko banjir di Indonesia masih belum akurat dan perlu pembaruan dengan data geospasial yang lebih detail. Tanpa itu, perencanaan tata ruang akan terus berhadapan dengan risiko yang sama dan bencana bisa berulang.

Harapan di Tengah Puing

Meski duka menyelimuti, di banyak tempat warga saling bergandengan tangan. Mereka menyalakan api kecil, menanak nasi di dapur darurat, dan berbagi cerita tentang keluarga yang belum kembali.

Bagi mereka, setiap nama yang belum ditemukan bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi harapan yang belum padam. (ren)