Home - Internasional - Yasser Abu Shabab: Jejak Kontroversial Pemimpin Milisi Pro-Israel di Gaza yang Tewas Dibunuh

Yasser Abu Shabab: Jejak Kontroversial Pemimpin Milisi Pro-Israel di Gaza yang Tewas Dibunuh

Sosok Yasser Abu Shabab, yang beberapa bulan terakhir muncul sebagai pemimpin kelompok bersenjata Pasukan Rakyat di Gaza, dikabarkan tewas dibunuh. Kabar kematian Abu Shabab dikonfirmasi oleh kelompok Pasukan Rakyat Gaza dan sejumlah media Israel, Kamis (4/12/2025).

Jumat, 5 Desember 2025 - 11:06 WIB
Yasser Abu Shabab: Jejak Kontroversial Pemimpin Milisi Pro-Israel di Gaza yang Tewas Dibunuh
Kelompok Pasukan Rakyat Gaza mengonfirmasi bahwa pemimpinnya Yasser Abu Shabab telah tewas pada hari Kamis, 4 Desember di Gaza. Foto: Facebook

HALLONEWS.COM-Pembunuhan terhadap Yasser Abu Shabab, tokoh yang dalam beberapa bulan terakhir muncul sebagai pemimpin kelompok bersenjata Pasukan Rakyat di Gaza, menutup perjalanan singkat namun sarat kontroversi seorang pria yang mencoba membangun dirinya sebagai alternatif Hamas, namun justru dicap oleh banyak warga Palestina sebagai kolaborator Israel.

Kabar kematian Abu Shabab dikonfirmasi oleh kelompok Pasukan Rakyat dan sejumlah media Israel, Kamis (4/12/2025). Namun, detail mengenai bagaimana dan oleh siapa ia dibunuh masih belum jelas.

Abu Shabab, yang diperkirakan berusia awal 30-an, berasal dari suku Badui Tarabin di Gaza selatan. Sebelum perang Gaza pecah pada Oktober 2023, namanya hampir tidak pernah terdengar dalam dinamika politik maupun keamanan di wilayah Palestina tersebut.

Catatan masa lalunya justru menunjukkan sisi berbeda. Ia pernah dipenjara otoritas Gaza atas tuduhan terkait narkoba dan berhasil melarikan diri pada awal perang.

Tak lama setelah itu, ia muncul sebagai tokoh utama dalam sebuah kelompok bersenjata yang mula-mula menyebut diri sebagai “Layanan Anti-Teror”, sebelum pada Mei 2024 mengganti nama menjadi Pasukan Rakyat, sebuah kelompok dengan sekitar 100 anggota yang beroperasi di area Gaza yang berada di bawah kontrol Israel.

Kelompok ini menampilkan diri sebagai milisi “nasionalis Palestina” yang bertujuan melawan Hamas. Namun berbagai sumber keamanan dan laporan media lokal menggambarkannya berbeda. Pasukan Rakyat berada di wilayah abu-abu antara kelompok kriminal dan pasukan proksi Israel.

Branding anti-terorisme yang dibawa kelompok ini juga dianggap ironis oleh banyak pengamat, mengingat adanya laporan mengenai hubungan Abu Shabab dengan jaringan penyelundupan antara Sinai–Gaza yang diduga bersinggungan dengan anggota ISIL (ISIS). Hubungan tersebut dilaporkan lebih bersifat operasional ketimbang ideologis.

Hubungan dengan Israel dan Minimnya Dukungan Publik

Salah satu faktor terbesar yang merusak citra Abu Shabab di mata warga Palestina adalah hubungannya dengan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Juni 2024 mengakui bahwa pemerintahnya menggunakan klan bersenjata lokal untuk melawan Hamas dan laporan media menyebut bahwa yang dimaksud adalah kelompok yang dipimpin Abu Shabab.

Langkah tersebut membuatnya kehilangan legitimasi di mata masyarakat Palestina, termasuk sukunya sendiri. Suku Tarabin mengeluarkan pernyataan setelah kematiannya bahwa peristiwa itu merupakan “akhir dari babak kelam yang tidak mencerminkan sejarah suku tersebut.”

Pencitraan di Media Barat dan Klaim Menguasai Rafah

Berbeda dari reputasinya di Gaza, Abu Shabab berupaya membangun citra internasional. Ia aktif di media sosial dalam bahasa Inggris dan bahkan menulis artikel opini di Wall Street Journal, mengklaim bahwa Pasukan Rakyat menguasai sebagian besar wilayah timur Rafah dan siap “membangun masa depan baru.”

“Tujuan utama kami adalah memisahkan warga sipil Palestina yang tidak ada hubungannya dengan Hamas dari api perang,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Namun klaim ini dinilai berlebihan oleh banyak warga Gaza dan pengamat regional, mengingat ketidakhadiran dukungan publik yang signifikan terhadap kelompok tersebut.

Tuduhan Penjarahan Bantuan Kemanusiaan

Pasukan Rakyat juga mengklaim berperan dalam mengamankan dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan, termasuk di lokasi yang dikelola oleh badan bantuan yang didukung AS dan Israel seperti GHF. Abu Shabab mengatakan kepada CNN bahwa kelompoknya membantu “melindungi bantuan dari penjarahan dan korupsi.”

Namun, berbagai laporan justru menunjukkan hal sebaliknya. Sebuah memo internal PBB yang dilaporkan oleh The Washington Post menyebut Pasukan Rakyat sebagai “pemangku kepentingan paling berpengaruh di balik penjarahan sistematis dan besar-besaran” terhadap bantuan di Gaza. Sumber keamanan di Gaza juga mengonfirmasi kepada Al Jazeera Arabic bahwa kelompok tersebut terlibat dalam aksi penjarahan.

Tuduhan ini muncul di tengah kondisi Gaza yang mengalami kelaparan akibat pembatasan akses bantuan dan penghancuran infrastruktur—menambah persepsi bahwa Abu Shabab hanyalah perpanjangan tangan Israel.

Kematian yang Tak Disesali Banyak Warga Palestina

Dengan rekam jejak yang kontroversial, hubungan dengan Israel yang terbuka, serta minimnya basis dukungan lokal, kematian Abu Shabab tidak mengundang banyak simpati. Bahkan di kalangan warga Gaza yang menentang Hamas, Abu Shabab tetap dipandang sebagai sosok tanpa legitimasi politik maupun sosial.

Peristiwa pembunuhannya menutup perjalanan seorang tokoh yang mencoba memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Gaza untuk membangun dirinya sebagai alternatif, namun gagal memperoleh dukungan yang diperlukan untuk bertahan. (ren)