KKJ Tekankan Perlindungan Perempuan Pekerja Informal di Tengah Ancaman Banjir dan Kebakaran Jakarta
KKJ dan BIP Pasar Jaya beri dukungan serta apresiasi kepada buruh perempuan pengupas bawang di Jakarta Timur. Begini Lengkapnya.

HALLONEWS.COM– Komunitas Kebaya Jakarta (KKJ) bersama Bhakti Istri Pegawai (BIP) Perumda Pasar Jaya menggelar aksi sosial sebagai bentuk dukungan kepada 120 buruh perempuan pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Kolaborasi ini dipilih sebagai wujud penghargaan terhadap para perempuan pekerja informal yang selama ini menopang ekonomi keluarga namun jarang tersorot kebijakan.
Ketua KKJ, Happy Djarot, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar menjelang peringatan Hari Ibu untuk menegaskan bahwa perempuan pekerja di sektor informal juga berhak mendapatkan perhatian dan perlindungan.
“Para perempuan ini bekerja tanpa henti dari pagi hingga malam. Mereka adalah tulang punggung keluarga. Kami ingin mereka merasakan kebahagiaan dan mendapatkan semangat baru,” ujar Happy dalam keterangan pada Kamis (4/12/2024).
Ia juga menitipkan pesan agar para buruh lebih waspada dalam menjaga keluarga mengingat Jakarta tengah menghadapi risiko kebakaran dan banjir yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Yang penting tetap semangat, jaga keselamatan keluarga dan rumah masing-masing,” tuturnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Dewi Rano Karno, istri Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dewi menyampaikan apresiasi atas inisiatif KKJ dan BIP Pasar Jaya karena telah memberi ruang penyemangat bagi buruh perempuan yang bekerja dengan beban berat namun berpenghasilan minim.
“Mereka bekerja dari pagi sampai jam sepuluh malam, upahnya hanya sekitar Rp70 ribu. Untuk 20 kilogram bawang, bayarnya hanya Rp3.000 per kilogram. Jadi wajar kalau hari ini kita ingin memberi mereka kesempatan untuk bahagia,” ungkap Dewi.
Dalam kunjungannya, Dewi turut meninjau harga pangan di Pasar Induk dan memastikan harga sejumlah komoditas masih stabil serta lebih murah dibandingkan pasar ritel.
Sementara itu, Ketua BIP Perumda Pasar Jaya, Raesita Kamaylia, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi ruang penghargaan bagi para buruh perempuan yang selama ini kurang terjangkau perhatian publik.
“Ini bentuk apresiasi. Mereka bisa berkumpul, bertemu, menerima santunan, dan merasakan bahwa pekerjaan mereka diakui,” terang Raesita.
