Trump Siapkan Pengganti Ketua The Fed: Kevin Hassett Muncul sebagai Kandidat Utama
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dia berencana untuk mengumumkan secara resmi siapa yang akan menjadi kandidat terdepan untuk posisi Ketua Federal Reserve (Fed) pada awal tahun 2026.

HALLONEWS.COM – Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dia berencana untuk mengumumkan secara resmi siapa yang akan menjadi kandidat terdepan untuk posisi Ketua Federal Reserve (Fed) pada awal tahun 2026.
Selama acara di Gedung Putih dan pertemuan kabinet pada akhir November 2025, Trump membuat pernyataan ini, yang menandai langkah strategis untuk mereformasi kebijakan moneter di tengah kritik tajamnya terhadap kinerja Ketua Federal Reserve saat ini, Jerome Powell.
Mengingat dampak besar posisi Ketua Federal Reserve
tersebut terhadap stabilitas ekonomi global, penggantian ini diharapkan disetujui oleh Senat AS. Namun, proses pengadopsiannya dapat memicu perdebatan sengit.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett saat ini, memiliki sejarah panjang dalam bidang ekonomi.
Dengan gelar PhD dalam ekonomi, Hassett pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi selama masa jabatan pertama Trump. Di sana, dia bertanggung jawab atas analisis kebijakan fiskal dan mendukung agenda ekonomi presiden melalui penampilan di media.
Ia sebelumnya bekerja sebagai ekonom di Divisi Riset dan Statistik Federal Reserve Board. Ia juga mengajar ekonomi di American Enterprise Institute, di mana ia sering menulis artikel mingguan tentang masalah keuangan.
Trump memuji Hassett sebagai figur yang “sangat dihormati” dan menyaring puluhan kandidat menjadi satu nama utama, menekankan bahwa keduanya setuju untuk mendorong pemotongan suku bunga yang lebih agresif untuk merangsang pertumbuhan.
Pilihan Hassett menunjukkan preferensi Trump terhadap penasihat internal yang loyal, yang kemungkinan akan mempermudah proses nominasi. Trump secara terbuka mengkritik Powell atas pendekatan moneter yang dianggap terlalu hati-hati, terutama dalam menangani perlambatan ekonomi dan inflasi setelah pandemi.
Sebelum gelembung dot-com pada awal 2000-an, Hassett, yang dikenal dengan pandangan pro-pasar bebas, memprediksi ledakan pasar saham baru. Dia juga mengatakan bahwa Amerika berada di sisi “salah” kurva Laffer pada 2007, sebuah klaim yang menuai kritik karena dianggap salah saat krisis keuangan global melanda.
Meskipun demikian, Hassett menyatakan kesiapannya untuk menerima jabatan ini, berfokus pada kebijakan pelonggaran moneter yang lebih cepat untuk menurunkan suku bunga acuan. Hal ini sejalan dengan tuntutan Trump agar Federal Reserve membantu program “Make America Great Again” melalui stimulus fiskal.
Nominasi ini memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan di seluruh dunia. Pasar obligasi dan saham AS merespons isyarat Trump dengan positif pada awalnya; antisipasi pemotongan suku bunga lebih dini menyebabkan yield obligasi sepuluh tahun sedikit turun.
Namun, analis memperingatkan bahwa hilangnya independensi Federal Reserve dapat menyebabkan ketidakpastian dan ketidakpastian di pasar mata uang emerging markets.
Kebijakan Federal Reserve di Asia, termasuk Indonesia, mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Akibatnya, penggantian pimpinan dapat mempercepat ekspektasi penurunan suku bunga Federal Funds Rate hingga di bawah 4 persen pada paruh pertama 2026.
Selain itu, Trump menyinggung bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent tidak berminat mengambil posisi ini, sementara individu seperti JPMorgan Chase Jamie Dimon mendukung pemangkasan suku bunga yang dilakukan Powell.
Pengumuman resmi Trump pada awal tahun 2026 akan menantang dinamika politik AS, dan mayoritas Republik Senat kemungkinan akan mendukung nominasi ini. Namun, penolakan dari Demokrat dapat menunjukkan kemungkinan konflik kepentingan dari latar belakang Hassett di institusi swasta.
Secara keseluruhan, pergeseran kepemimpinan di Federal Reserve menandai era baru di mana kebijakan moneter akan lebih dekat dengan tujuan eksekutif, meskipun hal itu dapat mengganggu aturan ketat tentang independensi bank sentral. (Hendeka Putra / Yes Invest Research Analyst)
