Home - Nasional - 1.000 Lilin untuk Harapan: Mar Martinez Ortuno dan Putri Bungsunya Menanti di Labuan Bajo

1.000 Lilin untuk Harapan: Mar Martinez Ortuno dan Putri Bungsunya Menanti di Labuan Bajo

Mar Martinez Ortuno dan putri bungsunya hadir di Labuan Bajo menyalakan 1.000 lilin untuk keluarga yang hilang dalam tragedi kapal wisata KM Putri Sakinah.

Sabtu, 3 Januari 2026 - 8:00 WIB
1.000 Lilin untuk Harapan: Mar Martinez Ortuno dan Putri Bungsunya Menanti di Labuan Bajo
Mar Martinez Ortuno bersama putri bungsunya, hadir di Marina Waterfront City, Labuan Bajo, Jumat malam (2/1/2026), dalam aksi doa 1.000 lilin yang dipenuhi doa dan empati warga bagi keluarga korban KM Putri Sakinah yang masih hilang. Foto: Facebook Maria Corona Aben

HALLONEWS.COM —Di bawah langit Labuan Bajo yang sunyi, seribu lilin menyala di pelataran Marina Waterfront City, Jumat malam (2/1/2026). Angin laut bertiup lembut, membawa aroma garam dan isak tangis yang tak bisa disembunyikan.

Ratusan warga berkumpul, berdoa dan menyalakan lilin bagi keluarga korban tragedi KM Putri Sakinah, kapal wisata yang tenggelam di Perairan Pulau Padar 26 Desember 2025 lalu.

Di antara lautan cahaya itu berdiri Mar Martinez Ortuno, perempuan asal Spanyol, memeluk erat putri bungsunya. Keduanya adalah penyintas tragedi itu, selamat dari maut, tetapi masih kehilangan bagian dari hidup mereka.

Suaminya, Fernando Martín Carreras, pelatih tim sepak bola wanita Valencia CF B, dan dua putri mereka yang lain, belum ditemukan. Satu anak dari keluarga Mar telah ditemukan meninggal dunia pada 29 Desember 2025.

“Yang terpenting kami masih berharap,” kata Mar pelan, suaranya tenggelam di antara doa Rosario yang dilantunkan umat Katolik di sekelilingnya.

Setiap lilin yang menyala malam itu bukan sekadar simbol duka, melainkan cahaya harapan, bahwa laut yang menelan orang-orang yang mereka cintai suatu hari akan mengembalikannya.

Doa, Air Mata, dan Pelukan

Acara doa dan bakar lilin itu dipimpin oleh umat Katolik setempat. Lagu rohani menggema lembut di udara malam. Sejumlah biarawati tampak meneteskan air mata ketika Mar dan putri bungsunya bergandengan tangan menyalakan lilin pertama.

Beberapa warga tak kuasa menahan haru. “Kami tidak mengenal mereka, tapi kami merasa seperti kehilangan keluarga sendiri,” ujar seorang warga tua.

Di media sosial, gelombang simpati meluas. Kolom komentar di Facebook dipenuhi doa dari warga Manggarai Barat dan berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.

“Bunda Maria tolong 😭 biarkan mereka pulang membawa serta keluarganya,” tulis SendalJepit Nathalya.

“Kasihanilah anak-Mu ini ya Tuhan, yang sedang rintih mencari suami dan anak-anaknya korban kapal Sakinah,” tulis Merlinda Moriah Galice.

“Bunda Maria Penolong, dengarkan doa kami, selamatkanlah suami dan anak-anak ibu ini. Berilah mujizat untuk keluarga ini,” tulis Edmund Roland Riwong.

Netizen lain seperti Magda Kalumbang menulis, “Kami dari Stella Maris Rambangaru, Bunda Maria dengarkan doa hamba-Mu, tunjukkanlah mujizat-Mu.”

Sementara Titik Ngoda menulis pendek namun menggugah: “Yesus… tolong.”

Komentar-komentar itu, yang dibaca oleh ribuan orang, menjelma menjadi semacam doa publik. Sebuah bentuk solidaritas digital yang nyata, doa dari jarak jauh yang menyatu dengan cahaya lilin di pesisir Labuan Bajo.

Kapal wisata KM Putri Sakinah tenggelam pada 26 Desember 2025 di sekitar Selat Pulau Padar. Dari 11 penumpang, tujuh orang ditemukan selamat, satu meninggal dunia, sementara Fernando dan dua anak perempuannya masih hilang.

Tim SAR Gabungan, yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lokal, telah memperluas operasi pencarian hingga radius puluhan mil laut.

“Kami berkomitmen melanjutkan pencarian sampai seluruh korban ditemukan,” kata Kepala Basarnas Kupang dalam keterangan resminya.

Pemerintah Spanyol melalui kedutaannya di Jakarta juga meminta agar pencarian terus dilakukan. “Kami berharap semua korban dapat ditemukan agar keluarga mendapat ketenangan,” tulis pernyataan resmi Kedutaan Besar Spanyol.

Harapan yang Tak Pernah Padam

Setelah doa selesai, lilin-lilin dibiarkan menyala hingga larut malam. Anak-anak duduk bersila di tepi dermaga, sementara para ibu berdoa sambil menggenggam rosario. Beberapa turis asing yang lewat ikut berhenti, menundukkan kepala, dan berdoa diam-diam.

Mar memandangi laut hitam yang berkilau diterpa cahaya lilin. Putri bungsunya bersandar di bahunya, memeluk sang ibu dengan erat.

“Kami hanya ingin mereka ditemukan,” ujar Mar pelan. “Entah bagaimana pun keadaannya, kami ingin bisa mengucapkan selamat tinggal dengan damai.”

Bagi warga Labuan Bajo, malam itu bukan sekadar momen duka. Itu adalah malam kemanusiaan, ketika orang-orang dari berbagai latar belakang menyatukan doa untuk satu keluarga yang kehilangan.

Ketika satu per satu lilin mulai padam, cahaya kecil tetap berpendar di hati mereka yang hadir. Doa-doa yang tertulis di media sosial, yang diucapkan di tepi laut, semuanya berpadu menjadi satu kalimat tanpa suara: harap dan kasih.

“Mujizat Tuhan bekerja,” tulis Itaa Swltte.
“Yesus Sang Kasih mendengarkan segala doa dan harapan,” tambah Natalia Dugis.

Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, manusia menemukan cara untuk saling menguatkan. Aksi 1.000 lilin itu menunjukkan bahwa empati adalah bahasa universal, yang bisa menembus lautan, duka, dan jarak.

Mar menatap sisa lilin yang masih menyala di tangannya. “Selama ada cahaya,” katanya perlahan, “selama itu pula kami tidak akan berhenti berharap.” (ren)